Pikiran Rakyat
USD Jual 14.288,00 Beli 13.988,00 | Sebagian berawan, 17.4 ° C

H-7 Pilpres 2019, BPN Optimistis pada Fakta Lapangan Ketimbang Survei

Muhammad Irfan
Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dalam kampanye akbar di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu, 7 April 2019.*/REUTERS
Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dalam kampanye akbar di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu, 7 April 2019.*/REUTERS

JAKARTA, (PR).- Memasuki H-7 Pemilihan Presiden 2019, mayoritas hasil riset dari sejumlah lembaga survei masih memenangkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Selisih dengan pesaingnya Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memang beragam.

Kendati demikian, Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi menyangsikan sejumlah hasil survei arusutama ini karena dinilai tidak sinkron dengan fakta di lapangan.

Direktur Kampanye BPN, Sugiono menuturkan, jika dilihat dari animo masyarakat yang selalu antusias menghadiri kampanye rapat umum yang menghadirkan Prabowo atau Sandi, semakin jelas kalau minat masyarakat kepada pasangan ini lebih tinggi. Menurut dia, ini juga menunjukkan kecenderungan bahwa fakta lapangan bisa jadi lebih akurat dibanding hasil dari lembaga survei arusutama yang selama ini mengunggulkan petahana.

Ditemui saat jumpa pers menanggapi perkembangan naiknya elektabilitas pasangan Prabowo-Sandi mendekati hari pencoblosan yang digelar di The Dharmawangsa Hotel, Rabu, 10 April 2019, Sugiono menyebut fakta lapangan ini juga didukung oleh sejumlah hasil survei lain.

Beberapa di antaranya dilakukan oleh internal BPN, Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID), Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), hingga Precision Public Policy Polling (PPPP) dari Amerika yang terus memantau pemilu di Indonesia.

“Hasilnya sangat memuaskan. Tentunya hasil survei ini harus dihormati apalagi dengan bukti bahwa setiap kampanye yang dilakukan pasangan Prabowo-Sandi selalu 'pecah'. Massa yang datang itu massa riil, massa partisipatif bukan massa yang dimobilisasi dengan cara transaksional," kata Sugiono. 

Sugiono juga menyinggung perbedaan cara berkampanye antara Prabowo-Sandi dengan petahana selama masa kampanye terbuka. Menurut dia, saat Prabowo atau Sandi datang, seringkali masyarakat berinisiatif menyumbang.

"Tidak hanya tenaga, pikiran, bahkan dana. Mereka berbondong-bondong datang karena ingin perubahan kepemimpinan. Sementara yang di sana kampanye dengan iming-iming imbalan," ucap dia.

Sugiono menilai, lewat perbandingan ini lembaga survei yang selama ini mengungulkan elektabilitas Prabowo-Sandi  lebih tampak akurasinya jika dikaitkan dengan massa kampanye Prabowo-Sandi. Pasalnya, gelombang manusia yang hadir diyakini sebagai gelombang yang ingin perubahan terjadi di negeri ini.***

Bagikan: