Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Sedikit awan, 25.8 ° C

1.200 WNI Terjebak dalam Perdagangan Manusia

Puga Hilal Baihaqie
ILUSTRASI. Pekerja Migran Indonesia.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI. Pekerja Migran Indonesia.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

JAKARTA, (PR).- Tergiur dengan iming-iming gaji yang besar, sebanyak 1.200 warga negara Indonesia, terjebak dalam perdagangan manusia di luar negeri. Mereka merupakan korban penipuan yang diberangkatkan ke tiga negara timur tengah (Arab Saudi, Suriah, Maroko), dan Turki.

Kasus penipuan dengan modus penempatan tenaga kerja di luar negeri, merupakan kasus klasik yang kerap menimpa calon tenaga kerja Indonesia. Namun pengungkapan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) merupakan kasus terbesar yang ditangani Bareskrim Polri.

"Kasus tersebut terungkap setelah adanya laporan dari sejumlah WNI yang dipekerjakan secara ilegal. Mereka melaporkannya ke Konsult atau KBRI. Ada empat laporan (LP) yang kami terima dari Kementerian Luar Negeri terkait kasus dugaan perdagangan orang," kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Herry Rudolf Nahak di Jakarta, Selasa 9 April 2019.

Herry menuturkan korban sebagian besar dijanjikan bekerja sebagai asisten rumah tangga. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. "Tapi kalau yang paling banyak dari Nusa Tenggara Barat (NTB)," tuturnya. Para korban yang umumnya berpendidikan rendah tergiur dengan janji sponsor mengenai upah besar. Kebanyakan calon tenaga kerja juga tak paham untuk mengurus dokumen kerja ke luar negeri.

Dari pengembangan kasus tersebut polisi meringkus delapan orang yang telah berstatus sebagai tersangka. Kedelapan orang tersebut terlibat dalam jaringan yang berbeda. Untuk jaringan Maroko polisi telah menetapkan dua orang tersangka yaitu Mutiara dan Farhan, keduanya berperan sebagai sponsor yang mengurusi kebutuhan korban. Sedangkan dalam jaringan Arab Saudi ada tiga orang yaitu Neneng Susilawati yang menampung calon tenaga kerja, dua warga negara Ethopia Abdalla Ibrahim dan Faisal Husein Saeed yang berperan sebagai sponsor sekaligus perekrut. Sedangkan jaringan Turki dilakukan oleh Erna Rachmawati dan Saleha sebagai sponsor. Sedangkan untuk tersangka pemberangkatan mrnuju Suriah baru satu orang tersangka yaitu Abdul Halim Erlangga dengan perannya sebagai pihak yang memberangkatkan (agen).

Setelah korban tertarik dengan ajakan para pelaku. Keluarga korban kemudian di beri uang antara Rp. 4 juta hingga Rp. 5 juta. Bila tak jadi berangkat uang tersebut akan diminta lagi. Pelaku menyampaikan bahwa pihaknya juga menanggung berbagai hal mengenai pengurusan dokumen dan lainnya. Hal tersebut yang kemudian membuat banyak orang tertarik bekerja ke luar negeri, tanpa mereka sadari bahwa sesungguhnya terjebak pada perdagangan orang.

Upaya untuk mendapatkan perlindungan dari Pemerintah Indonesia tak semuanya berjalan mulus. Salah seorang TKW berinisial EH asal Tangerang malah mendapat perlakukan tidak menyenangkan dari oknum KBRI di Suriah. "Ketika saya datang untuk meminta perlindungan, oknum tersebut malam mengembalikan saya ke agen tenaga kerja. Ia bisa memulangkan saya ke tanah air asalkan ada uang 8.000 dolar amerika. Tentu saya tak bisa memenuhinya. Oleh agen saya dipindahkan ke Irak," kata dia.

Di Irak EH juga mengalami tindak kekerasan seksual oleh majikan dan anak majikan. EH diperkosa hingga hamil. Ia dituduh mencuri tanpa bukti. Hingga kasusnya terungkap oleh organisasi internasional seperti SEED Foundation. Pihak organisasi internasional itu menyelamatkan nyawa EH. Kemudian dirinya di bawa ke KBRI di Bagdad untuk dipulangkan ke Indonesia.

EH menceritakan awal malapetaka itu terjadi ketika ia tergiur oleh tawaran sponsor untuk bekerja di Arab Saudi dengan gaji Rp 5 juta berikut dengan insentif lainnya. Tanpa dokumen yang lengkap EH berangkat dari kampung halamannya di Tangerang hingga Surabaya pada awal 2018. Kemudian terbang menuju Kuala Lumpur. Sekitar dua pekan ia kerja tanpa gaji, kemudian dipindahkan ke Dubai, Turki, Sudan, hingga Suriah tanpa mendapat gaji juga. Hingga terakhir ia berada di Irak. 

"Saya tidak dendam meski tidak di gaji. Hal yang paling menyakitkan adalah tindakan oknum KBRI Suriah yang seharusnya memberi perlindungan malah menjerumuskan saya hingga terjadi pemerkosaan di Irak," kata dia.***

Bagikan: