Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Langit umumnya cerah, 19.4 ° C

Wing Tjien, Bandar Narkoba, Bupati yang Mualaf, Gencarkan Sedekah Jumat

Eviyanti
BUPATI Banjarnegara, Wing Tjien bersama anak adopsinya.*/EVIYANTI/PR
BUPATI Banjarnegara, Wing Tjien bersama anak adopsinya.*/EVIYANTI/PR

KABUPATEN Banjarnegara Jawa Tengah memiliki Bupati yang unik eksentrik sekaligus  welas asih.  Namanya  Budhi Sarwono atau lebih sohor dengan panggilan Wing Tjien, warga keturunan yang sudah menjadi mualaf sejak 1998.    

Suami dari Marwiyah ini sudah memiliki dua putri, yakni  Laksmi Indaryani dan Amalia Desiana. Kedua putrinya sudah menikah. Selain dua putri, pria  kelahiran 27 November 1962 memiliki anak enam anak adopsi, mereka tinggal di rumah dinas bupati, di  belakang Pendopo  Banjarnegara. 

Semua anak  adopsinya   memiliki latar belakang memelas, dipungut dari jalanan, pasar, tempat sampah. Kelahiran mereka tidak dikehendaki orangtuanya. 

Mereka adalah Nanda, Ilham, Ratna  Loli, Nayla dan yang terkecil adalah Arjuna usianya 1,5 tahun. Dari beberapa anak tersebut Bupayi  memutus tali ari-arinya dengan tangannya sendiri, "Arjuna ditemukan kedinginan di dalam kardus dan  sudah dikerubuti lalat," kata Wing Tjien Minggu 7 April 2019.

Ilham yang saat ini duduk di bangku SMP tidak kalah mengenaskan, dilahirkan dari rahim ibu yang penderita kejiwaan, Saat ditemukan Ilhal kecil sedang dimandikan air  selokan  yang kotor.  Sedang Nanda yang sudah beranjak dewasa  dibuang  di tempat pencucian bus. 

Sementara Ratna yang juga masih balita sudah tiga kali menjalani operasi bedah jantung. "Jantungnya mengalami cacat bawaan. Mereka itu  bayi-bayi tidak berdosa. Hasil dari perbuatan orang yang bermasalah  sehingga harus ada orang yang bisa menyelesaikan masalah dan mencari jalan keluarnya, jadi jangan lari dari masalah," jelas Budhi.

Dipasung

Dua bulan lalu, Wing Tjien menerima pemuda yang dipasung dan dirantai oleh keluarganya, karena sering ngamuk.  Satimin (35), dipasung karena gangguan kejiwaan. Dia dibuang keluarganya karena membahayakan lingkungan. 

Setelah mendapat perawatan di RSJ Magelang Satimin warga  Dasa Kaliajir, Kecamatan Purwanegara, kabupaten setempat menjadi anak adopsinya. Kini pemuda perantau  menempati satu kamar di belakang Pendopo. Gangguan mental akan diupayakan  disembuhkan sampai  menjadi orang normal agar sehingga tenaganya bisa diberdayakan. 

Kedarmawanan pengusaha sukses tidak berhenti sampai di situ. Sebagai kontraktor yang ahli di bidang konstruksi jalan, Budhi juga  merasa bertanggung jawab  terhadap peristiwa  kecelakaan yang disebabkan kerusakan prasarana jalan. 

Ketika ada orang lain memberikan sedekah Jumat dengan makan gratis, Wing Tjien juga bersedekah  menambal jalan yang berlubang.  Setiap Jumat targetnya perbaikan jalan  rusak sepanjang 2.5 kilometer, sedekah jalan lebih prioritas pada  nasional dan provinsi yang rusak. Perbaikannya makan waktu lama karena ada prosedur yang harus ditempuh. "Kalau dengan uang pribadi tidak perlu ada prosedur," tambahnya.

Setiap jumat dengan beberapa orang pegawainya Wing Tjien menelusiri jalan mencari jalan rusak atau berlubang di wilayahnya. Baik jalan yang berstatus nasional maupun jalan provinsi yang bukan menjadi kewenangannya sebagai bupati. 

Ada  cerita mengenaskan di balik Jumat sedekah jalan yang membuat hatinya tergerak. "Dulu ada anak gadis cantik, seorang PNS  dalam perjalanan ke kantor,  meninggal kecelakaan gara-gara  jalan yang berlubang," kata Wing Tjin sembari memperlihatlkan foto korban. 

Meski sudah beberapa tahun kejadian itu berlalu, namun peristwa dan wajah PNS tersebut tampaknya masih lekat di benaknya.

Lolos jeratan hukum

Hijrahnya Wing Tjien menjadi mualaf dan tindakakannya terhadap sesama juga bukan tidak ada alasan. Sebelum menjadi mualaf, dia adalah bandar narkoba, kelas kakap di Purwokerto. Termasuk bandar yang dikenal licin, selalu dapat lolos dari jeratan hukum.

"Saya bandar narkoba sekaligus pemakai. Semua pengguna pengedar narkoba tahu saya dan polisi juga tahu," jelasnya.

Tetapi, menurutnya, dia bisa lolos dari jeratan hukum dunia, tetapi hukum akhirat tidak. Suatu saat dia mengalami over dosis. Sempat mengalami mati suri. "Kalau ditahan polisi suatu saat bisa kembali pulang, tapi ketika yang menahan malaikat saya bisa apa. Sehingga saya  bersyukur mendapat kesempatan kedua," terangnya, 

Peristiwa mati suri tersebut menjadi titik balik kehidupan Wing Tjien sebagai mualaf. (Eviyanti)***

Bagikan: