Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 22 ° C

Penyerapan Dana Desa Dinilai Bagus, tapi Belum Inovatif

Novianti Nurulliah
RAPAT Kordinasi Program Inovasi Desa (PID) Provinsi Jawa Barat tahun 2019 di Savoy Homann Bidakara Hotel, Jalan Asiia Afrika, Kota Bandung, Sabtu 6 April 2019.*/NOVIANTI NURULLIAH/PR
RAPAT Kordinasi Program Inovasi Desa (PID) Provinsi Jawa Barat tahun 2019 di Savoy Homann Bidakara Hotel, Jalan Asiia Afrika, Kota Bandung, Sabtu 6 April 2019.*/NOVIANTI NURULLIAH/PR

BANDUNG,(PR).- Pemanfaatan dana desa dari pemerintah pusat sejauh ini dinilai bagus dalam hal serapan anggaran dan juga peningkatan status desa. Namun pemerintah pusat masih menilai penggunaan dana desa selama ini kurang menyentuh aspek-aspek inovasinya.

Direktur PMD (Pemberdayaan Masyarakat Desa) pada Direktorat Jenderal PPMD (Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa) Kemendes PDTT, M Fachri mengatakan, untuk tahun 2019 ini pemerintah mengucurkan Rp 70 triliun untuk 74.000 desa di Indonesia termasuk 5.312 desa di Jawa Barat. Jumlah tersebut mengalami kenaikan dari tahun ke tahunnya sejak 2015 lalu yang hanya Rp 20 triliun. Hal itu, kata dia, dikarenakan pemerintah punya komitmen membangun desa.

"Selama ini kinerja anggaran dari sisi serapan dari tahun ketahun meningkat. Sebanyak 80% pada 2015, kemudian 97% pada 2016, lalu 98% pada 2017 dan kemarin 99,56%. Artinya masyarakat desa sangat menikmati dana desa itu," ujar Fachri ketika menutup Rapat Kordinasi Program Inovasi Desa (PID) Provinsi Jawa Barat tahun 2019 di Savoy Homann Bidakara Hotel, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Sabtu 6 April 2019.

Secara output, kata dia, penggunaan dana desa pun luar biasa. Sepanjang 191.000 kilometer jalan desa terwujud dan itu bukan pencapaian yang sederhana. "Belum pernah terjadi selama ini. Ketika negara mempercayai desa sebagai subjek pembangunan negara itu sendiri, hasilnya luar biasa," katanya.

Dana desa selama periode RPJMN sebelumnya yaitu 2015-2019 juga mampu meningkatkan status desa. Selama periode tersebut pihaknya menargetkan 2.000 desa berkembang menjadi mandiri dan 5.000 desa tertinggal jadi desa berkembang. Hasilnya melampaui target, sebanyak 3.000 jadi desa mandiri dan 5.600 desa tertingal menjadi desa berkembang. "Artinya dana desa efektif dalam meningkatkan status desa," kata dia.

Inovasi program

Dengan keberhasilan-keberhasilan tersebut, pihaknya mendorong dana desa digunakan untuk program yang inovatif. "Saya kira program inovasi desa (PID) itu didesain untuk pengangkatan kualitas penggunaan dana desa. Pembangun desa begitu masif melalui dana desa, ouput luar bisa, tapi dari sisi kualitas perlu kita dorong apakah dana desa ini bisa menciptakan sumber pendapatan baru bagi desa di luar dana desa itu sendiri, karena kita mengharapkan dana desa itu hanya stimulan bagi desa. Nanti ada sumber ekonomi tetap bagi desa," kata dia.

Dia mencontohkan Desa Cisayong di Kabupaten Tasikmalaya yang sempat viral. Mereka memiliki lapangan bola berskala internasional yang dikelola oleh Bumdes mulai dari tempat parkir dan fasilitas lainnya. "Dengan adanya lapangan bola, gairah ekonomi di tingkat desa makin meningkat, jadi pendapatan baru bagi desa. Ide-ide seperti itu akan diterapkan di Indonesia," ucap dia.

Dengan inovasi tersebut, Kades Cisayong bersama Kades Sukajaya dari Sukabumi terpilih bersama empat kepala desa untuk mempelajari perkembangan desa inovatif di Tiongkok. Di antaranya dalam mengembangkan aspek pertanian didukung teknologi. "Nanti kita buat dokumen pembelajaran untuk disebarluaskan, prinsispnya kita harapkan pertukaran pengetahuan atau sharing knowlegdes," ucap dia.

Kemudian PID tersebut punya satu instrumen bursa inovatif, yakni wadah berhimpunnya stakeholder desa untuk melihat potensi-potensi desa yang berhasil untuk direpilkasi di desa lain dengan menggunakan dana desa.

"Melalui bursa inovasi, di sana desa-desa dapat informasi yang begitu luas. Selain pengembangan potensi, kita kembangkan juga pemasaran. Kita tahu negara ini sedang adaptasi 4.0, kecepatan industri luar biasa sehinga harus dikawal. Banyak start up akan kita gandeng untuk pasarkan produk lokal," kata dia.

Sementara itu, di tempat yang sama Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Jabar, Dedi Supandi mengatakan, inovasi itu cara baru dan hal baru. "Berbicara inovasi enggak bisa berbicara pelan, itu harus harus ngabret, harus cepat. Inovasi kenapa harus dilakukan, karena kita jauh tertinggal dengan provinsi lain," ucap dia.

Pihaknya berkomitmen untuk mengejar ketertinggalan tersebut selama dua tahun meski ada waktu lima tahun berdasarkan RPJMD Jabar 2018-2023. "Dengan inovasi kita bisa mengejar hanya 2 tahun," ujar dia.

Adapun upayanya yaitu melalui beberapa program Desa juara dalam aspek ekonomi, Desa digital dan ada juga gerakan membangun desa (Gerbang Desa). "Melalui kegiatan PID ini pun inovasi-inovasi yang kita dorong supaya hadir di tiap desa," ucap dia.***

Bagikan: