Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian berawan, 26.3 ° C

[Laporan Khusus] Membangun Kota Sungai, Mungkinkah?

Siska Nirmala
WARGA memotret tanaman di pinggir Sungai Citarum yang bersih di Baleendah, Kabupaten Bandung, Kamis, 28 Maret 2019. Perlindungan sungai seharusnya dilakukan sama seperti perlakuan terhadap cagar budaya. Cagar sungai sudah seharusnya diterapkan dengan aturan ketat untuk menjaga kelestarian daerah aliran sungai.*
WARGA memotret tanaman di pinggir Sungai Citarum yang bersih di Baleendah, Kabupaten Bandung, Kamis, 28 Maret 2019. Perlindungan sungai seharusnya dilakukan sama seperti perlakuan terhadap cagar budaya. Cagar sungai sudah seharusnya diterapkan dengan aturan ketat untuk menjaga kelestarian daerah aliran sungai.*

SINGAPURA dikenal sebagai salah satu dari sepuluh kota terbaik di dunia. Mulai dari tata kota yang apik, lingkungan yang bersih, hingga transportasi publik yang nyaman membuat Singapura menjadi negara maju dan modern meski hanya memiliki luas 721,5 km persegi.

Transformasi kawasan sungai adalah salah satu kunci keberhasilan Singapura dalam membangun kotanya. Diketahui, Sungai Singapura (Singapore River) adalah tempat di mana semua perkembangan peradaban modern negara singa ini bermula. Hanya memiliki panjang 3 km, Sungai Singapura dulunya adalah kawasan kumuh yang berhasil bertransformasi menjadi wisata kelas dunia. 

Dermaga-dermaga yang ada di bantarannya, seperti Clarke Quay maupun Boat Quay menjadi destinasi wajib yang dikunjungi wisatawan jika berpelesir ke sana. Tidak heran, Singapura menjadi salah satu kiblat negara-negara dunia terutama Asia yang sedang berjuang untuk menyelesaikan permasalahan sungai di wilayahnya.

Selain Singapura, negara lain yang dinilai berhasil melakukan transformasi per­adaban kota melalui penataan sungainya adalah Korea Selatan. Su­ngai Cheonggye­cheon di Seoul misalnya menjadi salah satu sungai yang sangat tertata dengan rapi. Sungai ini menjadi tempat favorit warga Seoul maupun wisatawan, bahkan menjadi destinasi mendunia yang juga sering digunakan sebagai latar pengambilan gambar film-film Korea.

Meskipun sebenarnya Sungai Cheonggyecheon adalah sungai buatan yang hanya memiliki panjang 6 km, Korea Selatan berhasil menjadikan Seoul sebagai kota yang menjadikan sungai sebagai bagian dari peradaban masyarakatnya.

Indonesia sebenarnya sangat bisa untuk mengembangkan konsep kota sungai, seperti yang dilakukan Singapura dan Korea Selatan. Namun, Senior Research Fellow dari Asia Research Institute, National University of Singapore, Rita Padawangi mengingatkan agar Indonesia tidak disilaukan dengan keberhasilan negara tetangga.

”Kita boleh melihat (Singapura dan Korea Selatan), tapi jangan meniru karena karakter sungainya sungguh jauh berbeda. Sungai Si­ngapura dibandingan dengan su­ngai-sungai di Indonesia itu tidak ada apa-apanya. Gambaran transformasi mereka memang menggoda, tapi karakter dan situasi di negara kita berbeda,” ujarnya.

Seperti diketahui, Indonesia memiliki karakter sungai alami yang membentang berpuluh-puluh kilometer dari hulu hingga hilir di berbagai daerah di Indonesia. Bentangan sungai bertambah kompleks karena terhubung dengan banyak anakan sungai lainnya.

Membangun kota sungai adalah mengembalikan pengembangan peradaban kota menjadi berbasis pada sungai. Selama ini, pem­bangunan yang terjadi telah mengesampingkan sungai atau tidak menjadikan sungai bagian dari peradaban.

”Ketika ruang kota selalu meng­ikuti kapital, kekhasan transformasi kota akan tercerabut. Seharusnya, kehidupan sungai adalah bagian integral, sayangnya, selama ini masih diabaikan. Pengelolaan sungai hanya terfokus pada struktur fisik yang tidak melihat pada sungai,” katanya.

Prinsip untuk membangun kota sungai juga mengedepankan ke­khasan setiap daerah. Revitalisasi sungai harus melibatkan partisipasi warga yang tinggal di dekat sungai, bukan berbasis pada pers­pektif ­pemerintah pusat yang kerap ­ingin memukul rata penyelesaian masalah sungai di semua ­daerah.

SEJUMLAH pelajar menyeberangi Sungai Celeng menggunakan rakit di Dusun Tilaman, Wukirsari, Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis, 28 Maret 2019.*

Hijau dan berkelanjutan

Membangun kota sungai artinya memprioritaskan pendekatan pembangunan hijau dan berkelanjutan. Pendekatan ini mengutamakan korelasi antara air dan tanaman hingga memperluas daerah resapan air.

Pendekatan pembangunan ini bertolak belakang dengan pembe­tonan atau pembangunan dinding-dinding beton di kawasan bantaran sungai yang kerap menjadi fokus pemerintah. Rita mengingatkan, pembangunan dengan pendekatan betonisasi telah terbukti tidak baik untuk lingkungan.

Pembangunan hijau dan berkelanjutan di setiap daerah juga akan berbeda-beda, tergantung kondisi, perilaku, dan kebutuhan warga.

Salah satu contoh kota sungai sederhana namun konkret adalah di Kampung Singosaren, Imogiri, Yogya­karta. Sejak 2017, warga me­nyelesaikan permasalahan sampah di sungai dengan solusi lokal, yakni menebar benih ikan di selokan atau parit yang melintasi kampung.

Selokan itu merupakan anakan Sungai Opak yang berfungsi sebagai irigasi sawah dan juga mengairi kolam-kolam ikan warga. Selokan yang biasanya kotor dengan sampah, kini dipenuhi berbagai ikan berwarna-warni. Warga memasang sekat di beberapa titik selokan agar ikan tidak terbawa hanyut arus air. 

Dengan menanam benih ikan di selokan, ada perubahan perilaku  ter­hadap sungai. Pertama, hubung­an warga dengan su­ngai kembali terjalin karena mereka berinteraksi untuk memberi makan ikan.

Kedua, warga segan untuk membuang sampah ke alir­an air karena ada kehidupan di sungai. Fungsi sungai kembali hidup.

Lebih lanjut, hubungan antarwarga juga lebih terbangun atau guyub karena tumbuhnya inte­raksi-interaksi sosial di sepanjang ­aliran sungai. Anak-anak juga mendapatkan edukasi merawat ling­kungan dan melestarikan alam yang dimulai dari diri sendiri.

Yang paling berdampak dengan kembalinya fungsi sungai tersebut tentunya para petani yang menda­patkan sumber air irigasi bebas sampah dan air yang lebih jernih.

ANAK-anak bermain di aliran Sungai Ciliwung, Kelurahan Sempur, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu, 13 Maret 2019. Pemerintah Kota Bogor berencana membuat Waterfront City Sungai Ciliwung dengan konsep pengembangan daerah tepian air yang terintegrasi menjadi kawasan wisata air dan menjadi bagian dari wajah kota yang memberikan keindahan lanskap di area sekitarnya.*/ANTARA

Contoh lain potensi kota sungai dengan revitalisasi sungai oleh warga adalah kawasan Kali Pesang­grah­an. Adalah Babeh Idin (62) yang menginvestasikan waktunya untuk me­les­tarikan Kali Pesanggarahan dalam sunyi, selama 37 tahun terakhir, sejak 1982.

Pria asal Betawi bernama asli Chaerudin itu tak sekadar meles­tarikan sungai dengan membersihkan sampah. Namun, dia juga menanami kawasan sekitar Kali Pesanggrahan dengan pohon. Ke­ikhlas­an dan kesabarannya selama bertahun-tahun membuahkan hasil 120 hektare hutan yang kini dikenal dengan hutan kota Sangga Buana.

Hutan kota tersebut menjadi manfaat untuk warga. Baik tumbuh-tumbuhan yang bisa dimanfaatkan warga, bertumbuhnya kehidupan binatang-binatang sekitar sungai dan hutan hingga dampak tambahannya adalah hutan kota yang menjadi daya tarik wisata.

Melestarikan sungai, baginya sangat penting dalam konteks pembangunan kota. Karena sungai, menurut Babeh Idin, adalah cikal bakal kehidupan.

Awal peradaban dibangun berdampingan dengan sungai dan manusia memberikan nilai dan arti untuk sungai dan air.

Sungai adalah sejarah peradaban dan seharusnya tetap selalu menjadi bagian dari kehidupan manusia, bukan sebaliknya, ditinggalkan dan digerus fungsinya.

”Orang-orang tahunya Jakarta itu Monas. Nih Betawi sejarah Ja­karta. Peradaban gua hampir ke­gerus. Orang kalau mau cari tahu soal Jakarta, harus tahu soal su­ngai­nya, tahu soal Ciliwung. Anak muda harus mengenal historis su­ngainya,” ujarnya penuh semangat.

Di mata Babeh Idin, pelestarian lingkungan harus dilakukan de­ngan perbuatan nyata. Bukan ha­nya isu yang sekadar menjadi bahan diskusi di ruang-ruang seminar.

Pria kelahiran 13 April 1956 itu berharap, generasi muda saat ini bisa menjadi jawara-jawara yang memiliki kepedulian nyata terhadap lingkungan. Jangan hanya sibuk mengejar gelar pendidikan, tetapi abai terhadap tempat tinggalnya sendiri. ”Ijazah tak ber­la­ku di Sangga Buana. Orang pinter belum tentu paham. Tapi, orang paham, sudah pasti pintar. Maka­nya, kawasan daerah gua, gua jaga. Itulah mental sang jawara,” ujar­nya. 

Bagikan: