Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian berawan, 26.3 ° C

[Laporan Khusus] Citarum Harum dan Kesadaran Masyarakat yang Mulai Tumbuh

Tim Pikiran Rakyat
FOTO udara limbah industri di Sungai Cihaur yang bermuara ke Sungai Citarum di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu, 11 April 2018. Meski adanya larangan membuang limbah oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, data dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat setidaknya 25 perusahaan di Kabupaten Bandung Barat masih membuang limbah industri ke anak Sungai Citarum ini.*/DOK. PR
FOTO udara limbah industri di Sungai Cihaur yang bermuara ke Sungai Citarum di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu, 11 April 2018. Meski adanya larangan membuang limbah oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, data dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat setidaknya 25 perusahaan di Kabupaten Bandung Barat masih membuang limbah industri ke anak Sungai Citarum ini.*/DOK. PR

Sejak digulirkannya program Citarum Harum pada Februari 2018 oleh pemerintah pusat, kondisi Sungai Citarum kini sudah mulai membaik. Sungai Citarum yang dulu menyandang predikat sungai pa­ling tercemar di dunia, kini mulai tertangani.

Selama satu tahun berjalannya program ini, optimisme dalam menghidupkan kembali Sungai Citarum dinilai telah tumbuh. Beberapa kalangan menilai program tersebut telah menghidupkan kepedulian banyak pihak akan pentingnya merawat sungai dan lingkungan.

Dalam pelaksanaan program Citarum Harum ini, Presiden Joko Widodo telah ­mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 15/2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum. 

Presiden menargetkan penanganan Sungai Citarum dilakukan selama 7 tahun. Program rehabilitasi dan revitalisasi DAS Citarum akan dikerjakan secara sinergis dan terintegrasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan pemda kabupaten/kota yang terlintasi Sungai Citarum.

Selama penanganan Sungai Citarum, pemerintah menerjunkan personel TNI untuk membenahi kondisi sungai melalui Satuan Tugas Citarum Harum yang juga turut melibatkan para pemangku kebijak­an di pusat, provinsi, kota/ka­bu­paten yang dilintasi Sungai Citarum. 

Penanganan Sungai Citarum  tidak hanya difokuskan di aliran utama Sungai Citarum, melainkan juga dengan anak-anak Sungai Citarum mulai dari hulu hingga hilir Sungai Citarum. Setidaknya ada 22 sektor yang dibentuk dalam program Citarum Harum ini dengan menerjunkan 1.700 personel TNI untuk menjaga dan mengawasi Sungai Citarum.

WARGA mengolah lahan pertanian miliknya di sisi Sungai Citarum dengan kondisi terpapar limbah dengan warna kehitaman dari sungai Jadun yang merupakan anak sungai Citarum di Kampung Cicukang, Desa Mekarrahayu, Margaasih, Kabupaten Bandung. Rabu (20/2/2019). Upaya pemerintah terkait memulihan Sungai Citarum melalui program Citarum Harum, akan menggelontorkan dana sebesar 605 milyar rupiah yang akan dicairkan di bulan Maret mendatang.*/ADE MAMAD/PR

Akselerasi

Meskipun anggaran Citarum Harum dari pemerintah pusat belum turun, Satuan Tugas Citarum Harum terus melakukan perumusan kegiatan. Hal itu guna mengakselerasi pena­nganan Citarum Harum yang ditargetkan bisa tuntas selama 7 tahun setelah Perpres mengenai Citarum terbit pada 2018. 

Untuk diketahui, Pemprov Jawa Barat mengajukan anggaran Rp 605 miliar untuk mendanai operasional kegiatan Citarum Harum yang separuhnya diperuntukkan bagi operasional TNI.

”Dana pusat belum (turun) karena uang muternya ke PUPR, jadi muter (dulu),” kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang ditemui seusai rapat pimpinan di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin, 25 Maret 2019.

Pemprov Jabar, dalam hal ini Satgas Citarum Harum, menggelar rapat laporan kegiatan yang sedang dilaksanakan di Citarum. Kemudian, menyiapkan anggaran program 2020 serta persiapan pindah kantor Satgas Citarum Harum di Jalan Naripan. Selain itu, menetapkan Mayjen TNI (Purn) Dedi Kusnadi Tamim sebagai Ketua Harian Satgas Citarum Harum Juara.

Pada kesempatan tersebut, gubernur meng­ungkapkan beberapa rencana pendukung Citarum Harum yaitu pembuatan ­aplikasi Citarum Harum sebagai alat untuk mengecek kemajuan kegiatan Citarum Ha­rum, termasuk mewadahi laporan atau aduan masyarakat terkait dengan Citarum. Selain itu, mengusulkan adanya Badan Otorita Citarum untuk menyederhanakan koordinasi aksi di lapangan.

Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa menjelaskan, terkait anggaran 2019,  alokasi Rp 605 miliar yang di antaranya Rp 300 miliar untuk TNI. Berdasarkan hasil rapat PUPR, untuk anggaran tersebut telah dialokasikan, dan sudah proses pencairan. 

”Pencairan harusnya sekarang (dalam waktu dekat), tapi ada proses anggaran, ada ­aturan. Yang pasti, alokasi sudah ada dan ­untuk pasukan di lapangan sudah diakomo­dasi,” tuturnya.

Iwa pun mengatakan, untuk aksi Citarum Harum, 9 Pokja dari Pokja Perencana mela­ku­kan mitigasi, termasuk juga rencana aksi dan monev (monitoring dan evaluasi). ”Dari situ kita dapat gambaran. Tahapan proses Citarum sudah berjalan sesuai dengan harapan, tinggal akselerasi proses pem­bangun­an. Dari sisi tata kerja dan organisasi, ketua harian ditunjuk pak gubernur, yaitu Pak Dedi mantan Pangdam Siliwangi,” katanya. 

Saat ini pun, menurut dia, pihaknya tinggal mematangkan rencana aksi siapa berbuat apa, termasuk pelaksanaan ang­garan yang sudah ada dan penyiapan anggaran 2020.

FOTO udara limbah pabrik yang dibuang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Rancamanyar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu, 3 Februari 2019. Satgas Citarum Harum berhasil mengungkap 58 kasus pelanggaran pembuangan limbah oleh pabrik ke DAS Citarum selama 2018, dan 19 kasus diantaranya sudah diteruskan ke pengadilan.*/ANTARA

Memancing ikan

Dari pantauan ”PR”, di beberapa titik di aliran Sungai Citarum di wilayah Kabu­paten Bandung saat ini banyak dimanfaatkan warga untuk memancing ikan. Pemandangan ini jauh berbeda sebelum digulirkannya program Citarum Harum. Masyarakat pun kini mulai menikmati usaha keras penanganan Sungai Citarum.

Seorang tokoh masyarakat di Cijagra Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Abah Yusuf (57) mengakui kondisi Sungai Citarum  mulai ada perubahan yang diikuti perubahan perilaku masyarakatnya. Kesadaran masyarakat menjaga lingkungan, sudah mulai tumbuh. Saat ini, menurut dia, sebaian besar warganya sudah tidak membuang sampah rumah tangga ke aliran sungai.

”Kami pernah memergoki ada seorang warga naik motor terus buang sampah ke sungai, satu keresek. Dia buang sampahnya dari atas Jembatan Cijagra. Kami tanya warga mana, ternyata bukan warga kami. Kami berikan pengertian kepada warga itu tempat pembuangan sementara (TPS) yang tidak jauh dari jembatan. Sampah yang dia buang, diambil lagi menggunakan kail kemudian dibawa ke TPS itu,” ujarnya.

Bahkan, saat ini, beberapa warga Cijagra turut terlibat bersama personel TNI merawat dan menjaga kebersihan sungai di wilayahnya. Wilayah Cijagra merupakan pertemuan dua sungai, yakni Sungai Citarum dan Sungai Cikapundung yang merupakan salah satu anak Sungai Citarum.

”Kalau sudah bersih dan nyaman, kita juga yang menikmati. Buktinya sekarang banyak warga yang memancing ikan di sungai, bahkan hampir setiap hari,” ucapnya.

BANJIR akibat meluapnya sungai Citarum menggenangi sebagian Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Selasa 1 November 2016 silam.*/DOK. PR

Elaborasi & kolaborasi

Dimintai tanggapannya, Komandan Sektor 6 Citarum Harum Kolonel Yudi Zanibar me­nga­takan, dalam penanganan Sungai Citarum dibutuhkan elaborasi dan kolaborasi masif dari semua kalangan, baik masyarakat mau­pun pemerintah, termasuk pelaku industri. Kesadaran menjaga lingkungan yang mulai tumbuh di masyarakat diharapkan dapat ditunjang pula dengan dukungan dari pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten.

”Pendekatan sosiologis kami lakukan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah rumah tangganya ke aliran sungai. Alhamdulillah, kesadaran masyarakat mulai tumbuh. Namun, satu sisi masyarakat kebingung­an untuk penanganan sampah. Peran peme­rintah untuk menyediakan sarana dan prasarana pengelolaan sampah agar masya­rakat tidak lagi membuang sampah ke su­ngai,” katanya.

Untuk mengurangi persoalan sampah itu, tutur Yudi, pihaknya bersama masyarakat sekitar di Sektor 6 secara swadaya memba­ngun beberapa insenerator sampah sederhana setelah dilakukan pemilihan dan pemilahan sampah. 

Dia mengakui, memang dalam prosesnya saat ini masih ada kekurangan, tetapi pihaknya berusaha semaksimal mungkin agar restorasi Sungai Citarum dapat tercapai.

Menurut pemerhati lingkungan T Bachtiar, setidaknya terdapat tiga tantangan yang harus dihadapi untuk mencapai keberhasilan Citarum Harum, yakni diperlukan kesungguhan dengan melakukan perubahan besar terkait aspek regulasi, struktural, dan kultural dalam program yang komprehensif.

Dia mengingatkan, kompleksnya permasalahan di Citarum membutuhkan pendekatan, pola, dan strategi baru dalam penyelesaian permasalahan. Tanpa adanya du­kungan semua pihak,  segala upaya dalam penanganan Sungai Citarum akan sia-sia.

Sungai Citarum.*/ARIF HIDAYAH/PR

Dia menilai, program tersebut tidak terlepas dari berbagai kekurangan. Namun, ­optimisme baru dan hidupnya kesadaran masyarakat harus diapresiasi berkat berbagai pihak yang menginisiasi, konseptor, unsur pemerintah, TNI, serta masyarakat yang terlibat dalam program Citarum Harum.

”Setelah kesadaran ini muncul dari masyarakat, sekarang tinggal adanya manajemen program kemasyarakatan seperti pendekatan sosiologis antropologis harus dilakukan kepada masyarakat untuk terus menjaga kelestarian alam. Ini peran pemerintah daerah, baik provinsi maupun kota/kabupaten. Jangan sampai saat program ini selesai, kondisi Citarum kembali rusak. Ketegasan dan sosialisasi dari pemerintah daerah yang harus diperkuat,” katanya.

Hal senada diungkapkan pegiat lingkungan Rahim Asyik Budi Santoso. Hal-hal yang pa­ling mendasar dalam Citarum Harum yaitu harus mudah dievaluasi secara terukur, penyempurnaan dari langkah-langkah program sebelumnya tanpa menghilangkan peran sebelumnya yang positif. Peran masyarakat pun harus turut terlibat dalam penanganan Sungai Citarum.

Dia menambahkan, dalam pelaksanaan program Citarum Harum juga diharapkan tidak mengesampingkan peran masyarakat. Maksudnya, program ini juga harus mampu mendorong masyarakat untuk tetap berdaulat dan turut terlibat dalam program.

”Kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan harus terus dipupuk. Jangan sampai setelah program ini selesai, masyarakat malah tidak peduli lagi ke Citarum. Peran pemerintah yang harus terus menjaga kesadaran lingkungan kepada masyarakat. Semua elemen itu yang harus bergerak sesuai dengan kompetensinya,” ujarnya. (Ecep Sukirman, Novianti ­Nurulliah/”PR”)***

Bagikan: