Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sedikit awan, 25.1 ° C

[Laporan Khusus] Cheonggyecheon dan Impian Aliran Sebening Kristal

Epul Saepuloh - Periset PR
WARGA bermain di aliran Sungai Cheonggyecheon, Seoul, Korea Selatan, beberapa waktu lalu. Pemerintah setempat hanya butuh ­waktu 2 tahun 3 bulan untuk menyulap Sungai Cheonggyecheon sepanjang 10,9 kilometer menjadi sebersih mata air.*/AFP
WARGA bermain di aliran Sungai Cheonggyecheon, Seoul, Korea Selatan, beberapa waktu lalu. Pemerintah setempat hanya butuh ­waktu 2 tahun 3 bulan untuk menyulap Sungai Cheonggyecheon sepanjang 10,9 kilometer menjadi sebersih mata air.*/AFP

Indonesia memiliki mimpi ingin memiliki sungai bening, sejernih kristal yang dalam istilah Presiden Joko Widodo, "wow". Harapan itu terlontar saat Presiden RI berkunjung ke Seoul, Korea Selatan, tujuh bulan yang lalu.

Di negeri ginseng, Jokowi melawat ke Sungai Cheonggyecheon di pusat Kota Seoul. Hanya dibutuhkan waktu dua tahun tiga bulan untuk menyulap Sungai Cheonggyecheon atau Kali Cheonggye menjadi sebersih mata air. Awalnya sungai itu bernama Gaechoen yang artinya “aliran yang terbuka”.

Sungai Cheonggyecheon mempunyai panjang 10,9 kilometer, memang berbeda masalah jika dibandingkan dengan Kali Ciliwung yang memiliki panjang sekira 120 km dan Sungai Citarum yang sejauh lebih dari 270 km. Namun, Pemerintah RI boleh ­berangan-angan dan harus dilakukan sejak sekarang.

Kali Cheonggye yang tadinya kali kecil dan dangkal, tapi sering meluap dan banjir pada musim hujan, telah mengalami berkali-kali proses pemugaran dan pengerukan. Hal itu dilakukan sejak 1411 pada masa Dinasti Taejong, yang berkuasa sejak 1400 sampai 1418. Restorasi Sungai Cheonggyecheon kedua dimulai pada 1422, pada masa pemerintahan Raja Sejong (1418-1450), selesai pada Februari 1434, tahun ke-13 pemerintahan raja tersebut.

Pada tahun ke-36 pemerintahan Raja Yeongjo (1724-1776), diadakan proyek pengerukan dasar Sungai Cheonggyecheon. Proyek pengerukan itu berlangsung selama 57 hari, yaitu dari 18 Februari hingga 15 April 1760 dengan memobilisasi 150.000 warga Seoul dan 50.000 buruh kontrak.

Kemudian, pada 1958, sungai menjadi tertutup oleh konstruksi jalan dan baru pada 2003, kali tersebut secara militan kembali direstorasi. Wali Kota Seoul saat itu, Lee Myung-bak, memulai program restorasi Sungai Cheonggyecheon melalui penghilangan jalan layang yang telah berdiri kokoh di atasnya.

Keputusan Lee dianggap kontroversial dan ditentang banyak insinyur karena khawatir kemacetan makin parah. Setiap hari terdapat 120.000 mobil yang melintas di jalan yang ada di atas Sungai Cheonggyecheon. 

Pemerintah Kota Seoul lantas mem­bangun belasan rute bus rapid transit dalam mengatasi bencana kemacetan. Restorasi sungai tetap dilakukan karena dalam satu survei, hampir 79 persen warga setuju dengan program perbaikan sungai. Lee membutuhkan dana sekitar 900 juta dolar AS dan banyak warga kota yang harus rela tergusur.

Setelah proses restorasi selesai, Sungai Cheonggyecheon akhirnya dibuka untuk umum pada 2005 oleh Lee Myung-bak. Sungai Cheonggyecheon menjadi salah satu sungai terbaik yang menjadi lokasi tujuan wisata warga dan wisatawan luar yang datang ke Seoul. 

Sungai menjadi bersih dan tertata dengan rapi. Di bantaran sungai dibangun jalur pedestrian yang dilengkapi dengan tanaman dan pepohonan hijau. Lee terpilih sebagai Presiden Korea Selatan pada 2008 hingga 2013.

Kali Cheonggye memiliki 22 buah jem­batan yang melintasinya. Tempat itu men­jadi primadona dan tempat nongkrong ­favorit warga Korea Selatan. Sungai menjadi pusat keramaian kota terutama saat bulan Oktober diadakan Cheonggyecheon Upcyle Festival Ryu untuk memperingati restorasi. Puncak keramaian di sungai ini terjadi pada sore hingga malam hari di sepanjang 5,84 km.

Kumuh

Kembali ke masa 1950-an, Kali Cheonggye pernah melambangkan kemiskinan yang dialami masyarakat Seoul. Pada 1960-an sampai 1970-an seiring dengan masa industrialisasi dan pertumbuhan pesat di kawasan perkotaan, adanya jalan layang di atas sungai, justru memperburuk area su­ngai yang kumuh. Pertumbuhan penduduk serta aktivitasnya mengakibatkan terjadi perubahan cukup besar terhadap arus-arus sungai yang ada.

Selama puluhan tahun, bantaran Sungai Cheonggyecheon makin dipadati rumah-rumah penduduk. Kondisi seperti itu diperparah dengan banyaknya sampah dan limbah di sepanjang sungai yang menjadikan wajah Kota Seoul tidak sedap dipandang. Kondisi seperti itulah yang meyakinkan pemerintah Kota Seoul saat itu berani bertindak untuk mengubah wajah Sungai Cheonggyecheon.

Sebenarnya tidak ada teknologi khusus yang digunakan untuk merestorasi Sungai Cheonggyecheon. Jalan layang yang melintang dibongkar dengan efisien dan sisa reruntuhan sebanyak 872.000 ton, 96 persen di antaranya berhasil didaur ulang. 

Untuk menjernihkan air Sungai Cheonggyecheon, sungai yang lebih besar di hulu, Sungai Han dibuka dan 120.000 ton air bersih membilas sisa kotoran Kali Cheonggye. Restorasi sungai di negeri drama Korea atau drakor itu dilakukan dengan turut membangun saluran antara limbah, air hujan, dan air buangan masyarakat.***

Bagikan: