Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 22 ° C

Debat Capres 2019, dari Dilan Sampai Curhat Beragam Tuduhan

Muhammad Irfan
Pilpres 2019/DOK. PR
Pilpres 2019/DOK. PR

DILAN dan curahan hati atas tuduhan yang menimpa masing-masing Calon Presiden selama proses Pemilihan Presiden 2019 ini mewarnai debat Pilpres putaran keempat yang digelar di Hotel Shangri La, Sabtu 30 Maret 2019. Meski ritme debat berjalan cenderung lambat, kedua kandidat tampil saling menyerang dengan sejumlah isu kekinian. Berharap menarik perhatian mereka yang belum menentukan pilihan.

Calon Presiden petahana Joko Widodo misalnya terlihat hendak merangkul kaum milenial dengan memunculkan istilah Dilan. Diambil dari nama tokoh fiksi yang populer di novel kemudian layar lebar, Dilan yang dimaksud Jokowi adalah singkatan dari Digital Melayani. Menurut dia langkah ini perlu dilakukan dalam reformasi birokrasi Indonesia di era revolusi industri 4.0.

"Diperlukan reformasi pelayanan publik lewat elektronik. Penajaman dan penyederhanaan kelembagaan, peningkatan kualitas SDM aparatur dan reformasi tata kelola," kata Jokowi.

Di sesi awal yang mengulas tentang ideologi Pancasila dan pemerintahan, kedua kandidat sebenarnya tak banyak mengumbar perbedaan. Keduanya sepakat bahwa Pancasila harus ditanamkan sejak dini melalui pendidikan. Begitu pun dengan penggunaan teknologi dalam pemerintahan. Namun, curhat dari para kandidat tentang berita bohong yang selama ini menyerang pribadi mereka sempat disampaikan.

Saat menanggapi pernyataan Jokowi tentang ideologi Pancasila misalnya, Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto mengaku keberatan dengan adanya tudingan yang menyebut dirinya akan mendukung khilafah jika terpilih sebagai presiden nanti. Padahal, sebagai purnawirawan TNI, dia sudah banyak mengorbankan diri untuk negeri ini. "Seolah saya membela khilafah. Ini tidak masuk akal. Nyawa saya, saya pertaruhkan untuk republik ini. Sungguh kejam itu (tuduhan)," kata Prabowo.

Menanggapi ini, Jokowi pun menyebut kalau dirinya selama empat setengah tahun menjabat sering mendapat tuduhan yang tidak jauh berbeda. Dia kerap disebut PKI. Padahal dirinya jelas-jelas adalah seorang Pancasilais. Menyikapi hal ini, Jokowi pun mengajak agar semua pihak tidak terus menerus menggunakan narasi fitnah dan kebencian untuk menjatuhkan satu dengan yang lain.

"Masalah tuduh menuduh, saya pun banyak dituduh, Pak. Empat setengah tahun ini saya dituduh PKI. Saya biasa saja. Yang paling penting mari kita bersama membumikan Pancasila. Sehingga kita bisa memberikan contoh yang baik. Tidak saling menghujat, menjatuhkan, itu terjadi di politikus-politikus kita," kata Jokowi.

Saling serang

Tampil saling menyerang juga diperlihatkan oleh para kandidat. Sejak sesi penyampaian visi misi misalnya, Prabowo menyebut reformasi birokrasi tidak akan berjalan baik jika masih banyak pejabat yang korup. Pasangan Sandiaga Uno ini mencontohkan salah satu tindakan korup itu adalah jual beli jabatan. Pernyataan ini seakan menyindir, mengingat belum lama ini Ketua PPP, Romahurmuzy yang ada di kubu Jokowi tersandung dugaan kasus jual beli jabatan di Kementerian Agama.

"Saya berpandangan bahwa korupsi di Indonesia sudah ada di tahap yang sangat parah. Stadium empat! dan saya keliling, rakyat juga enggak mau negara terus seperti ini," ucap Prabowo.

Prabowo juga berulang kali menyoroti kekayaan negara yang dia nilai lari ke luar negeri. Menurutnya jika ini terus terjadi maka akan memunculkan efek domino seperti tidak berjalannya reformasi birokrasi yang diupayakan lewat digital atau kurangnya anggaran untuk pertahanan. "Saya lebih baik pakai teknologi lama tapi kekayaan kita tidak lari ke luar Indonesia," kata Prabowo dengan tegas.

Sementara mengenai isu pertahanan, Prabowo berujar: "Kita tidak punya uang, jadi pertahanan kita lemah. Kemana uang kita? Tidak tinggal di Indonesia."

Jokowi sebelumnya menyampaikan kalau anggaran untuk pertahanan sebenarnya sudah cukup besar. Yakni Rp 107 triliun atau nomor dua terbesar setelah anggaran untuk Kementerian Pekerjaan Umum. Belum lagi gelar pasukan yang dilakukan di pulau-pulau terluar seperti Natuna, Sorong, Saumlaki, dan Biak. Namun Prabowo beranggapan kalau Rp 107 triliun masih terbilang kecil.

"Briefingan yang diterima oleh pak Jokowi ini kurang tepat. Rp 107 Triliun ini lima persen dari APBN kita, 0,08 persen dari GDP. Bandingkan dengan Singapura itu 30 persen dari APBN dan 3 persen dari GDP. Saya lama di tentara, budaya ABS (Asal Bapak Senang) itu kental," ucap Prabowo.

Menanggapi pernyataan Prabowo, Jokowi menilai kalau mantan Danjen Kopassus itu kurang memercayai TNI. Disebut seperti itu, Prabowo tak tinggal diam. Saat menjawab pertanyaan tentang isu hubungan internasional di segmen tiga, Prabowo menegaskan kalau diplomasi harus mengedepankan kepentingan nasional dan tidak bisa cukup sebagai mediator saja.

"Ini harus di-back up dengan kekuatan. Diplomasi kalau cuma jadi nice guy ya begitu-begitu saja. Kalau ada asing masuk ke negara kita, mau apa? Saya ini TNI. Saya lebih TNI dari banyak TNI," ucap Prabowo tegas.

Penutup nan sejuk

Meski debat berlangsung cukup sengit, pernyataan penutup para kandidat mampu mengademkan suasana yang sempat panas. Jokowi misalnya menyebut kalau perbedaan pendapat antar kandidat sangat mungkin terjadi, tetapi persahabatan antara kandidat tetap terjalin. "Saya dan pak Prabowo bersahabat, begitu pun KH Ma'ruf Amin dan pak Sandiaga Uno. Meski berbeda pendapat, persahabatan kita tak akan putus," ucap Jokowi.

Prabowo juga menyampaikan hal serupa. Setengah bercanda, Prabowo menyebut kalau bicara keras memang sudah pembawaannya sebagai seorang blasteran Banyumas dan Minahasa. Berbeda dengan Jokowi yang orang Solo dan halus. Padahal di balik imej kerasnya saat tampil di arena debat, Prabowo dan Jokowi saling menghormati. "Saya hormat dengan bapak (Jokowi), baik dengan bapak. Saya yakin di elite juga seperti itu. Saya yakin tetap bersahabat, biar rakyat menentukan," ucap dia.***

Bagikan: