Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Sedikit awan, 25.8 ° C

Dari 66 Kelurahan, Baru 19 Kelurahan Menuju Desa Siaga Aktif

Tim Pikiran Rakyat
WALI  Kota Serang, saat memberikan pemaparan di acara Pengembangan Desa Siaga Aktif.*/RIZKI PUTRI/KABAR BANTEN
WALI Kota Serang, saat memberikan pemaparan di acara Pengembangan Desa Siaga Aktif.*/RIZKI PUTRI/KABAR BANTEN

SERANG, (PR).- Sejak didirikannya Desa Siaga Aktif 12 tahun lalu di Kota Serang, hingga saat ini belum jalan sepenuhnya. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk hidup lebih sehat menjadi faktor utama dalam hal tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota, Serang Toyalis mengatakan, program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) ini bertujuan untuk mengaktifkan kembali dan meningkatkan Desa Siaga Aktif agar berjalan.

"Peningkatan Desa Siaga Aktif melalui program Germas sudah 12 tahun, tapi tidak sepenuhnya berjalan. Bahkan di beberapa kelurahan sama sekali tidak berjalan," ujarnya di acara Pengembangan Desa Siaga Aktif di salah satu hotel di Kota Serang, Selasa 26 Maret 19.

Salah satunya adalah dengan mengembangkan posyandu dan pelayanan kesehatan secara optimal untuk meningkatkan potensi Desa Siaga Aktif. "Tentunya posyandu dan pelayanan kesehatan harus berjalan secara optimal," katanya kepada wartawan Fajar Banten Rizki Putri.

Ia mengatakan, dari 66 kelurahan yang ada di Kota Serang, baru 19 kelurahan menuju Desa Siaga Aktif. "Saya akui di Kota Serang baru ada 19 kelurahan yang memiliki potensi Desa Siaga Aktif dari total 66 kelurahan yang ada," ujarnya.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Wali Kota Serang Syafrudin. "Memang baru sekitar 40 persen dari 66 kelurahan yang ada di Kota Serang. Sisanya yang 60 persen mudah-mudahan di tahun 2020 nanti sudah bisa dibentuk semuanya dan terlaksana," ucapnya.

Syafrudin mengatakan, Germas ini merupakan peran masyarakat di setiap kelurahan dalam permasalahan yang ada di lingkungannya. Peran masyarakat bia membantu melaporkan jika ada warga mengalami gizi buruk, atau menderita penyakit kronis tapi tidak punya biaya.

"Artinya, baik dari sisi kelemahan maupun dari sisi lainnya masyarakat harus tahu. Terutama di kelurahannya sendiri. Misal ada gizi buruk, kemudian masyarakat miskin, dan hal lain yang menjadi kelemahan di masyarakat kelurahan tersebut," tuturnya.

Ini juga merupakan program pemerintah pusat menuju masyarakat Indonesia sehat, yang tentunya harus diprogramkan juga di setiap daerah, termasuk Kota Serang.***

Bagikan: