Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Langit umumnya cerah, 16.3 ° C

Longsor Masih Mengancam Kompleks Makam Raja-raja Mataram Imogiri

Wilujeng Kharisma
PENANGANAN retakan tanah di Makam Raja Mataramat Imogiri, Kab. Bantul, DIY belum lama ini. Retakan tanah yang terjadi di sejumlah titik di kompleks Makam Raja-raja Mataram Imogiri harus terus dipantau. Penanganan secepatnya diperlukan agar retakan tidak meluas.*/WILUJENG KHARISMA/PR
PENANGANAN retakan tanah di Makam Raja Mataramat Imogiri, Kab. Bantul, DIY belum lama ini. Retakan tanah yang terjadi di sejumlah titik di kompleks Makam Raja-raja Mataram Imogiri harus terus dipantau. Penanganan secepatnya diperlukan agar retakan tidak meluas.*/WILUJENG KHARISMA/PR

YOGYAKARTA, (PR).- Retakan tanah yang terjadi di sejumlah titik di kompleks Makam Raja-raja Mataram Imogiri harus terus dipantau. Apalagi hujan lebat masih terus turun hingga saat ini.

”Minimal setelah terjadi hujan dicek oleh juru kuncinya atau warga sekitar melakukan ronda lingkungan, apakah retakan tanah ada tambahan, semakin lebar atau tidak. Kalau ada segera ditutup pakai material kedap air, atau kalau ada hal yang mengkhawatirkan bisa segera dilakukan tindakan evakuasi,” ujar Dosen Departemen Teknik Geologi UGM, Dr Wahyu Wilopo di Yogyakarta, Senin 25 Maret 2019.

Menurut Wahyu, hal yang harus lebih diperhatikan di kompleks makam adalah masalah drainase, terutama di bagian atas makam yang sebaiknya dibuat lebih baik. Jangan sampai air mengalir bebas (tanpa dikendalikan) karena bisa menggerus tanah. Kalaupun ada air yang masuk, misalnya lewat sela-sela konblok atau yang lain tetap harus dibuatkan saluran menggunakan pipa pralon dan dialirkan sampai bawah.

"Kalau hanya dialirkan sampai tengah atau pinggir, air akan menggerus lagi, jadi sebaiknya dialirkannya sampai bawah. Sistem drainase perlu ditata kembali," ungkapnya.

Catatan lain dari Wahyu Wilopo yang perlu diperhatikan, adalah bangunan sisi pintu masuk bagian barat makam yang mengalami retak. Menurut Wahyu, bangunan tersebut berpotensi runtuh, sehingga perlu diperbaiki agar aman atau diruntuhkan sekalian, agar tidak membahayakan manusia. 

"Dikhawatirkan kalau terjadi hujan lalu air menggenang, bisa menggerus yang menyebabkan bangunan tersebut runtuh," ujarnya.

Mengenai pemulihan area makam yang longsor, kata Wahyu, hal itu sangat dimungkinkan menggunakan teknologi (teknik sipil) yang menyediakan banyak alternatif teknis, tinggal disesuaikan dengan biaya pembangunan. “Untuk mendapatkan desain bangunan yang optimal, tentu melibatkan ahli teknik sipil. "Dari sisi teknis masih sangat bisa untuk dipulihkan kembali," ucapnya.

Sedangkan terkait opsi lain, yaitu makam baru digeser sedikit ke sisi timur yang masih menyisakan ruang, menurut Wahyu Wilopo hal tersebut juga bisa dilakukan. "Di sisi timur masih ada ruang kosong yang agak rata dan batuannya pun bagus," tuturnya.

Sementara itu, Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X mengakui sejak awal pembangunan perluasan bangunan baru di Kompleks Makam Raja-raja Mataram di Imogiri kurang teliti dan cermat akibatnya terjadi longsor. Untuk itu, Sultan meminta penanganan kerusakan di area kompleks makam tersebut segera dilakukan, khususnya penguatan talut-talut agar fondasinya kuat dan disesuaikan dengan kondisi maupun struktur tanahnya.

“Kita kurang teliti saja, akibatnya longsor. Semestinya dari awal di bawah atau fondasinya harus kuat, begitu aus ya longsor ya gitu saja. Jadi penanganannya harus dibuat talut yang lebih kuat yang anggarannya pakai Dana Keistimewaan (Danais)," katanya.

Sultan menuturkan, kawasan Bantul sebelah Timur sepertinya mempunyai struktur tanah lempung yang justru bukan membuang tetapi menyerap air. Sebelumnya lahan tersebut kosong, tetapi sekarang sudah dibangun tembok makam baru berarti ruang makin mengecil dan curah hujan tinggi.***

Bagikan: