Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Umumnya berawan, 20.2 ° C

Desa Wisata Dongkrak Peningkatan Ekonomi

Satrio Widianto
ILUSTRASI foto Wonderful Indonesia.*/DOK. PRFMNEWS
ILUSTRASI foto Wonderful Indonesia.*/DOK. PRFMNEWS

JAKARTA, (PR).- Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Dra. Ni Wayan Giri Adnyani, A. MSc, mengatakan, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) aktif mendorong pengembangan Desa Wisata. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) bagi dosen pendamping desa wisata.

“Training (pendampingan) ini perlu, karena pariwisata bisa menjadi alat peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat desa. Dalam pengembangannya kearifan lokal harus diperhatikan,” ujar Giri saat membuka kegiatan "Training of Trainer (TOT) bagi dosen pendamping Desa Wisata di DKI Jakarta", di Jakarta, akhir pekan.

TOT itu diikuti dosen-dosen antara lain Universitas Negeri Jakarta, Akademi Pariwisata Jakarta Inernational Hotels, Universitas Mercu Buana, Universitas  Bunda Mulia, Universitas Agung Podomoro, Akademi Pariwisata Bunda Mulia, Universitas Bina Sarana Informatika, dan Universitas Pancasila.

Giri menambahkan, pengembangan Desa Wisata harus dilakukan secara sinergi, dalam hal ini juga merupakan implementasi dari kerja sama Kemenpar dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, juga perguruan tinggi.

Seperti diketahui, Kemenpar terus mendorong berkembangnya desa-desa di Indonesia yang juga di antaranya untuk mencapai target kunjungan wisatawan manca negara (wisman) sebanyak 20 juta dan wisatawan nusantara (wisnus) sebanyak 275 juta orang pada tahun 2019. Program ini juga merupakan bagian dari pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Asisten Deputi SDM Pariwisata & Hubungan Antar Lembaga, Wisnu Bawa Tarunajaya mengatakan, ToT merupakan rancangan pengembangan Desa Wisata melalui pendamping (dosen) dari sejumlah perguruan tinggi. Para dosen diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat dalam mengelola desa.

Konseptor

Pemerintah melalui Kemenpar berperan sebagai motivator, dinamisator dan fasilitator. Sedangkan akademisi (dosen) dalam hal ini perguruan tinggi berperan sebagi konseptor dan pelaku pengabdian masyarakat. Kemudian, bagi pelaku bisnis dan praktisi pariwisata berperan sebagai CSR. Lalu komunitas atau masyarakat berperan sebagai subjek yang diberdayakan untuk mengembangkan wisata lewat desa wisata.

“Untuk mengembangkan Desa Wisata kami perlu merangkul semua, baik itu akademisi, pihak swasta termasuk masyarakatnya sendiri. Dalam pelaksanaan pendampingan nanti akan ada pelatihan dan monitoring terhadap perkembangan masyarakat desa. Selanjutnya dievaluasi untuk Kemenpar RI menentukan tindaklanjut kedepannya.
Pendampingan berlangsung selama tiga bulan, setelah itu ada pelaporan dan seminar secara nasional, sekaligus apresiasi bagi desa dan pendamping terbaik,” imbuhnya.

Dengan 57 perguruan tinggi yang telah bekerja sama dalam program Desa Wisata ini diharapkan dapat melakukan pendampingan dan pembinaan, minimal tiga Desa Wisata untuk masing-masing perguruan tinggi dan meningkatkan peran masyarakat dalam sektor kepariwisataan.

Dosen STIEPAR Bandung, Lia Afriza menambahkan, ToT ini melatih setiap dosen dalam membina, menentukan instrumen syarat Desa Wisata apakah masuk desa rintisan, desa berkembang atau desa maju, termasuk teknis membuat pelaporan.

“Nantinya pendamping berusaha mengembangkan Desa Wisata, misalnya pendampingan di desa rintisan, maka mensuport dengan metode dan pelatihan yang sudah diajarkan agar desa naik level menjadi desa berkembang,” tuturnya.

Lia mengatakan, setiap pendamping diberi materi pelatihan pemahaman terkait prosedur dalam buku panduan pendampingan Desa Wisata. Selain iti juga dibekali materi sesuai disiplin ilmu masing-masing untuk pengembangan Desa Wisata. "Mengembangkan Desa Wisata itu banyak aspeknya misalnya kuliner, kita fokuskan materi pada dosen pendampingnya. Lalu ada pendamping yang basis disiplin ilmu di komunikasi kita bekali materinya,” katanya.

Secara teknis, sambung Lia,  pendamping berada tidak selamanya berada di lapangan selama tiga bulan penuh. Pendamping bisa menyampaikan kembali pada mahasiswa dalam program KKN atau penulisan laporan dan penelitian. Jika sudah selesai, maka akhir Juli 2019 akan ada persentasi dan pelaporan hasil lapangan. Nantinya mahasiswa bisa melakukan pengabdian pada masyarakat. Dosen juga bisa menulis karya ilmiah. Semua sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.***
 

Bagikan: