Pikiran Rakyat
USD Jual 14.288,00 Beli 13.988,00 | Cerah, 23.8 ° C

Waspada, Perbukitan Prambanan Rawan Longsor

Wilujeng Kharisma
RUMAH tertimpa longsor di Dusun Kikis RT 04 RW 06 Desa Sambirejo, Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY  akibat hujan deras yang terjadi pada Minggu 24 Maret 2019 dini hari.*/DOK. BPBD SLEMAN
RUMAH tertimpa longsor di Dusun Kikis RT 04 RW 06 Desa Sambirejo, Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY akibat hujan deras yang terjadi pada Minggu 24 Maret 2019 dini hari.*/DOK. BPBD SLEMAN

SLEMAN, (PR).- Hujan deras yang turun pada Minggu 24 Maret 2019 dini hari mengakibatkan tanah longsor di kawasan perbukitan Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan menimpa satu rumah warga.

"Longsor menimpa bagian rumah Ahmad Rodhli Setyoko di Dusun Kikis RT 04  RW 06 Desa Sambirejo, Prambanan," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman Makwan. 

Menurut dia, akibat kejadian tersebut bagian dapur rumah korban mengalami rusak berat akibat tertimpa material batu dan tanah."Saat ini masyarakat setempat dengan dipimpin kepala dukuh melakukan giat kerja bakti di lokasi terdampak," ucapnya. 

Makwan mengatakan, dalam peristiwa tersebut tidak ada korban luka maupun korban luka."Tidak ada korban meninggal maupun luka, sedangkan untuk kerugian material berupa tembok rumah jebol," ujarnya.

Makwan mengimbau karena curah hujan yang masih cukup tinggi di bulan Maret ini, masyarakat diminta agar selalu waspada. Terutama masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan agar sadar dengan potensi bencana tanah longsor. 

"Terutama di wilayah perbukitan Kecamatan Prambanan menjadi salah satu daerah yang harus sadar akan potensi bencana longsor," katanya. 

Menurut Makwan, saat ini pergerakan tanah di Prambanan masih relatif stabil."Namun jika curah hujan lebat dan durasi hujan cukup lama maka potensi longsor tetap tinggi," tuturnya.

Tanah retak 

Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini yang juga harus diwaspadai adalah tanah di Dusun Magursari, Gayamharjo, Prambanan. Awal kejadian itu adalah 17 Maret 2019 saat hujan deras yang mengguyur DIY semalaman.  

"Tanah ambles tersebut bermula dari retakan kecil sebesar 10 sentimeter. Hingga Rabu 20 Maret 2019 lalu, retakan menjadi 40 sentimeter dengan kedalaman amblas 50 sentimeter dan panjang retakan 30 meter, lebar 20 meter," tuturnya. 

Amblasnya tanah tersebut menyebabkan jalan penghubung antara Magirsari-Gambirsari Padukuhan Lemahabang terputus. Kendaraan roda empat tidak bisa melintas. Selain itu juga mengancam lahan seluas 2.000 meter persegi. 

"Sementara akses jalan ditutup. Belum kami lakukan tindakan karena masih terkendala kedalaman tanah yang amblas sehingga sulit," katanya. 

Jika curah hujan tidak tinggi maka daya dukung tanah masih bisa bertahan. Walaupun karakteristik tanah di daerah perbukitan Prambanan sebagian besar adalah batuan dan tanah. 

"Perbukitan Prambanan ada yang terdiri dari bongkahan batu besar, ada juga batuan kecil campur tanah. Nah yang campur itu tadi potensi longsornya tinggi," ujarnya. 

Sementara itu, Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Mlati Djoko Budiyono menjelaskan potensi hujan di DIY masih cukup besar.

"Untuk bulan Maret masih tergolong basah untuk wilayah DIY dengan hujan bulananan mencapai di atas 300 mm/bulan," ucapnya. 

Djoko menuturkan, untuk siklon Savanah saat ini sudah tidak ada. Dan hanya berupa tekanan rendah saja yang tidak memengaruhi cuaca di DIY. Namun muncul siklon baru yaitu TC Veronika yang muncul di sebelah barat Australia atau di Samudera Hindia selatan NTB. 

"Siklon ini diprediksi akan berpengaruh terhadap cuaca. Yaitu, terbentuknya through atau palung tekanan rendah di selatan Jawa. Hal ini berpotensi menimbulkan hujan lebat. Terutama di bagian selatan DIY," katanya.***

Bagikan: