Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Umumnya cerah, 18.7 ° C

PLN Dorong Indonesia Jadi Kekuatan 10 Besar Ekonomi Dunia 

Satrio Widianto
Pekerja memasang instalasi jaringan di tiang listrik baru di Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat, 1 Februari 2019 lalu.*/ANTARA
Pekerja memasang instalasi jaringan di tiang listrik baru di Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat, 1 Februari 2019 lalu.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Tingkat konsumsi listrik Indonesia terus menunjukkan kemajuan yang signifikan setiap tahunnya. Jika, pada tahun 2016 konsumsi listrik Indonesia mencapai 956 kWh per kapita, sementara di tahun 2018 sudah menembus 1.064 kWh per kapita.

Besarnya tjngkat konsumsi listrik dapat menjadi indikator kemajuan sebuah negara dimana dengan konsumsi makin besar maka tingkat ekonominya juga akan semakin maju.

"Konsumsi listrik yang besar selama ini dianggap sebagai pemborosan. Namun rupanya, data yang ada memperlihatkan, semakin besar konsumsi listrik sebuah negara, maka semakin maju ekonominya," kata Executive Vice President Corporate Communication and CSR PT PLN (Persero) I Made Suprateka di Jakarta, Sabtu 23 Maret 2019.

Indikator kemajuan ekonomi suatu negara diukur dari konsumsi energi per kapita. Dengan mengoptimalkan listrik yang tersedia, melalui pemanfaatan untuk produktivitas. Data yang dimiliki PLN tahun 2016 menunjukkan, konsumsi listrik per kapita Indonesia saat itu mencapai 956 kWh per kapita. Sementara, negara-negara maju konsumsi listrik per kapitanya lebih tinggi berkali-kali lipat dari Indonesia.

 Sebut saja Amerika Serikat yang mencapai 12.820 kWh per kapita, Korea Selatan 10.620, Jepang, 7.970, dan Inggris 5.030 kWh per kapita. 
Bahkan dibanding negeri jiran pun konsumsi listrik Indonesia tertinggal cukup jauh. Seperti Singapura yang mencapai 9.040 kWh per kapita, Malaysia 4.660 kWh, Thailand 2.870 dan bahkan Vietnam yang konsumsi listrik per kapitanya nyaris dua kali lipat dari Indonesia di angka 1.620 kWh per kapita. 

Kemajuan peningkatan konsumsi listrik itu sendiri menjadi cermin kinerja maksimal PLN dalam menerangi Nusantara. Kinerja PLN pun secara tak langsung tercermin dalam data yang dirilis hasil survei Ease of Doing Business yang digelar World Bank. 
Menyitir survei tersebut, kemudahan akses mendapatkan listrik di Indonesia atau Getting Electricity Indonesia sekarang jauh semakin mudah dibanding 5 tahun silam. 

Dalam indikator Getting Electricity, pada 2014 Indonesia berada di urutan 101, sementara di tahun 2019, peringkat Indonesia melesat nyaris 3 kali  lipat menjadi urutan 33. “Peningkatan kemudahan mendapatkan listrik di Indonesia menjadi bukti, kinerja PLN dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, sekaligus meningkatkan daya saing industri di Indonesia untuk menjadi top ten (10) ekonomi dunia,” tegas Suprateka. 

Lonjakan peringkat itu sendiri, tak lain berkat keberhasilan PLN membangun jaringan pembangkit, transmisi listrik dan gardu induk di seantero Indonesia. “Sejak tahun 2015 telah dibangun lebih dari 35 ribu Megawatt pembangkit, 14.400 kilometer sirkuit jaringan transmisi serta 56 ribu Mega volt Ampere Gardu Induk di seluruh Indonesia. Dengan demikian terjadi kenaikan supply listrik dari pembangkit-pembangkit yang telah dibangun yang telah memasuki masa operasional (COD). Keberhasilan itu di antaranya yang membuat peringkat Getting Electricity Indonesia saat ini meningkat pesat dibanding 5 tahun silam, dari peringkat 101 ke peringkat 33 dari 190 negara yang disurvei oleh World Bank,” jelasnya. 

Keberhasilan itu, ujar I Made Suprateka, tak membuat PLN lekas berpuas diri. Hal itu tercermin dari tekad PLN untuk terus meningkatkan laju penjualan listrik di Indonesia demi mendukung bertumbuhnya perekonomian nasional.
 Dipaparkan, realisasi penjualan listrik PLN pada tahun 2018 mencapai 232 TwH, atau bertumbuh 5,15% dari penjualan di tahun 2017. Sementara pertumbuhan pelanggan sepanjang tahun 2018 mencapai 5,65% dari tahun 2017 yang mencapai 68 juta pelanggan menjadi 71,9 juta pelanggan. 

Daya tersambung listrik juga mengalami kenaikan menjadi 130.281 Mega volt Amper (MvA) dari tahun sebelumnya 112.018 MvA. Hasil yang dicapai PLN dalam meningkatkan penjualan listrik memang cukup baik, meskipun masih belum sesuai dengan target awal PLN yang menetapkan target pertumbuhan konsumsi listrik nasional mencapai 7% di 2018.

Perlambatan ekonomi
Menurut Made Suprateka, adapun salah satu sebab ketidaksesuaian pencapaian target pertumbuhan tersebut, lantaran faktor pertumbuhan ekonomi yang tidak sesuai ekspektasi. Faktor lainnya, yakni banyaknya hari libur nasional yang cukup panjang di 2018. Hari libur nasional ternyata menyumbang pengurangan konsumsi listrik. Pasalnya 30% konsumi listrik diserap sektor industri dan bisnis. Tak pelak, hari libur menyebabkan terhentinya serapan listrik di pabrikan dan perkantoran. 

Di tahun 2019 ini  PLN menargetkan penjualan listrik bisa mencapai 245 TeraWatt atau tumbuh sekitar 5,6 persen dibanding tahun lalu.  Suprateka memaparkan, untuk mencapai target tersebut pihaknya akan menggenjot serapan konsumsi listrik di segmen rumah tangga dan industri. Di antaranya dengan mendorong penggunaan kendaraan listrik dan kompor induksi. 

Selain itu PLN berencana untuk menambah program insentif penambahan daya listrik kepada pelanggan. Rencana ini tak lepas dari kesuksesan pelaksanaan program promosi penambahan daya listrik yang digelar dengan memanfaatkan momentum Hari Kemerdekaan RI tahun lalu. 

“Tahun 2018 lalu kami membuat program diskon bagi konsumen yang tertarik melakukan penambahan daya listrik pada 17 Agustus, demikian juga pada peringatan Hari Listrik Nasional. Program tersebut dinilai cukup berhasil mendorong peningkatan konsumsi serapan listrik PLN," ujar Suprateka.

Sektor industri pun, ujar dia, tak luput dari sasaran PLN. Di antaranya PLN akan mendorong konsumsi listrik pada fasilitas pertambangan, seperti di fasilitas smelter (fasilitas pemurnian hasil tambang). PLN giat mengajak konsumen industri, untuk memanfaatkan energi listrik dari PLN, daripada industri membangun pembangkit sendiri yang umumnya merupakan PLTD yang berbahan bakar fosil.

“PLN akan terus berupaya melahirkan program-program inovasi baru untuk mendorong laju konsumsi listrik nasional, yang pada gilirannya akan berdampak pada peningkatan perekonomian nasional,” tutur I Made Suprateka.***

Bagikan: