Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Umumnya berawan, 21.9 ° C

1,16 Persen Penduduk Jateng Merupakan Pengguna Narkoba

Eviyanti
ILUSTRASI peredaran narkoba.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI peredaran narkoba.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

PURWOKERTO, (PR).- Jawa Tengah rangking ke lima kasus  peredaran narkoba secara nasional. Diperkirakan mencapai 1,16 persen dari jumlah penduduk, atau sekitar 300 ribu orang warga Jateng merupakan pengguna narkoba.

Ironisnya kasus peredaran narkoba  melibatkan narapidana narkoba yang sedang menjalani hukuman di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). 

"Jateng ranking ke lima nasional kasus  peredaran narkobanya, tergolong cukup tinggi. Kondisi ini sangat memprihatinkan," kata Kepala BNN Provinsi Jateng Brigjen Pol Muhammad Nur  saat meresmikan keberadaan klinik pratama pelayanan rehabilasi ketergantungan narkoba di kantor BNN Kabupaten Banyumas, Kamis 21 Maret 2019.

Dia menambahkan, angka 1.16 persen baru angka yang terungkap, kasus peredaran narkoba merupakan fenomena gunung es. Peredaran narkoba ini memang sudah dalam kondisi darurat nasional

Sebab  hampir semua desa di wilayah Jateng, ada warganya yang terpapar narkoba. "Untuk itu, masalah peredaran narkoba ini memang sudah dalam kondisi darurat. Tak hanya di tingkat nasional, tapi juga di Jateng," ujarnya.

Ditambahkan,  dengan posisi  rangking 5 ini, jumlah pengguna narkoba di Jateng diperkirakan mencapai 1,16 persen dari jumlah penduduk, atau sekitar 300 ribu orang. angka tersebut yang terungkap, "Baru pucuk permukaanya yang terungkap, riil nya jumlah kasus diperkirakan bisa  tiga kalilipatnya," tambahnya.  

Peredaran narkoba, dari berbagai kalangan, yang sudah terkontaminasi  narkoba semua lapisan masyarakat, dengan berbagai profesi. Tak terkecuali, di kalangan penegak hukum. "Tidak terkecuali  anggota Polri, BNN, TNI, pejabat yang terhormat, artis hingga masyarakat biasa dengan penghasilan pas pasan  sudah terkontaminasi narkoba," jelasnya.

Muhammad Nur mengakui, dari beberapa kasus peredaran narkoba  yang ditangani  BNN melibatkan napi narkoba yang sedang menjalani di lembaga pemasyarakatan (Lapas). "Mereka para napi justru menjadi pengendali dari  berbagai kasus peredaran narkoba yang terungkap," tuturnya.

Sebagian besar tersangka pengedar yang tertangkap adalah kurir pengendalinya ada di dalam Lapas. BNN, katanya, sudah menyampaikan hal ini pada pihak lapas, hanya saja pihaknya tidak bisa melakukan intervensi terlalu dalam, karena bukan wewenangnya. 

Pihak Lapas, menurut Muhammad tentunya  juga sudah memiliki SOP (Standar Operasional Prosedur), dalam menangani para napinya. ***

Bagikan: