Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Umumnya berawan, 21.4 ° C

Pintu Pengendali Air Rusak, Sejumlah Daerah Terancam Banjir

Eviyanti
PETANI mengeluhkan kerusakan pintu pengendali air yang rusak, karena sering menyebabkan banjir dan mengganggu pertumbuhan padi.*/EVIYANTI/PR
PETANI mengeluhkan kerusakan pintu pengendali air yang rusak, karena sering menyebabkan banjir dan mengganggu pertumbuhan padi.*/EVIYANTI/PR

BANYUMAS, (PR).- Puluhan pintu air pengendali banjir yang  dibangun oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak di wilayah Tambak dan Sumpiuh Kabupaten Banyumas Jawa Tengah rusak akibat kurangnya pemeliharaan. Kerusakan pintu klep menjadi penyebab terjadinya banjir yang selalu terjadi  selama musim penghujan.

Banjir yang kerap terjadi di wilayah Kecamatan Sumpiuh dan Tambak bisa berlangsung selama berhari-hari, menyebabkan kerusakan yang merugikan ratusan petani setempat.

 Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pemeliharaan Jalan dan Irigasi wilayah Sumpiuh, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Banyumas, Imam Pamungkas menyebutkan, di  wilayah kecamatan Tambak dan Sumpiuh, terdapat 48 pintu klep pengendali banjir yang sudah terpasang. Akan tetapi yang masih berfungsi dengan baik hanya 10 yang lainnya sebanyak 38 pintu air mengalami kerusakan.

"Jumlah pintu air otomatis yang tidak berfungsi karena mengalami kerusakan mencapai 36 titik. Salah satu faktor terajdinya kerusakan pada puluhan pintu air akibat kurangnya pemeliharaan di samping faktor sedimentasi dan penyempitan sungai," tambahnya.

Sebanyak  48 pintu air otomatis tersebut terpasang di berbagai sungai dan kawasan cekungan yang sebagai pengendali banjir. Kecamatan Tambak dan Sumpiuh  merupakan daerah cekungan sehingga rawan banjir,  dimana permukaan air laut lebih tinggi dari permukaan tanah. 
 Fungsi dari klep otomatis bisa mengendalikan air jika ada banjir. 

"Air  yang sudah mengalir ke arah muara, maka pintu klep otomatis akan menutup, sehingga air tidak berbalik ke arah hulu," katanya.

Pintu klep  dibangun oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak mengalami kerusakan sejak lima tahun lalu, pihaknya sudah melaporkan kerusakan klep pintu air ke  PPL Sungai dan Pantai sebagai penanggung jawab, hingga kini belum ada penanganan.
 
Seperti di Sungai Kecepak Desa Prembun ada tujuh titik  pintu air rusak sehinnga tidak berfungsi. Termasuk Afur Bendung Siwaru Desa Gebangsari  Sungai Tambak, Afur Bendung Rawadawa Desa Gebangsari juga rusak tidak berfungsi.

Kemudian di Sungai Kecepak Desa Gebangsari ada dua pintu air yangjuga rusak, Kemudian di Kali  Setra Desa Nusadadi  ada 3 titik yang rusak, di Sungai atau Kali Mati Desa Karanggedang,Kecamatan Sumpiuh  ada dua dan rusak.

"Kami sudah ke Serayu Opak mengusulkan perbaikan, akan tetapi sejak lima tahun lalu belum ada respon dengan alasan tidak ada alokasi anggran. Bahkan anggaran 2019 bukan untuk perbaikan pintu klep di Sumpiuh dan Tambak namun dialihkan ke Cilacap," tambahnya.

Tidak lancar

Hujan yang terus mengguyur wilayah Kabupaten Banyumas sejak beberapa waktu lalu, telah menyebabkan debit air sejumlah sungai di Kecamatan Sumpiuh dan Tambak meningkat. Air sungai yang tidak lancar mengalir ke arah muara, menyebabkan ratusan hektar areal sawah warga tergenang air hingga 1 meter. 

Wilayah dua kecamatan areal sawah yang terendam banjir mencapai  576 hektare, empat desa areal sawah yang terendam banjir berada di empat desa. Sedangkan di wilayah Kecamatan Tambak, banjir terjadi di lahan persawahan di empat desa. Banjir berlangsung setiap musim penghujan.

Padahal hampir setiap tahun selama musim hujan,  area pertanian  setempat dipastikan kebanjiran. Bahkan petani  selama musim hujan sampai mengulang tanam hingga tiga kali akan tetapi yang bisa dipanen hanya satu kali, tanaman pertama dan kedua puso akibat kebanjiran 

Biasanya banjir berlangsung lama hingga lima sampai enam hari seperti saat ini, banjir terjadi sejak Sabtu 17 Maret 2019 hingga hari ini Selasa belum surut dari ketinggian air 100 centimeter kini diperkirakan surut 20 centimeter. Tapi jika hujan maka ketinggian air akan meningkat kembali.

Slamet (56) petani asal Tambak mengaku tanaman sudah hampir panen,  hujan menyebabkan tanaman usia 85 hari seluas 750 meter persegi tenggelam karena banjir.

Sampai hari ke tiga banjir belum ada tanda tanda akan turun, oleh karena di terpaksa menamen lebih awal, jika dibiarkan akan membusuk."Jika membusuk kerugiannya bertambah besar, jika panen sekarang masih bisa ada hasilnya meski produksinya menurun hingga 50 persen," katanya. 

Diakui akhir tahun sebelumnya sudah mulai tanam akan tetapi baru berusia 70 hari datang banjir, tanamannya puso. Kondisi demikian juga dialami oleh ratusan petani lainnya.

Setelah puso Slamet tanam kembali dengan bibit baru, namun banjir kembali datang, usia tanaman baru 90 hari, meski tidak optimal hasilnya tanamantetap di panen. Meski demikian dia masih semangat untuk  tanam sekali lagi,  menjelang musim kemarau.***
 

Bagikan: