Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Berawan, 21.6 ° C

27,20 Persen Warga Kota Serang Masih Dolbon

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI hindari buang air besar sembarangan.*/ANTARA
ILUSTRASI hindari buang air besar sembarangan.*/ANTARA

SERANG, (PR).- Wakil Wali Kota Serang Subadri Usuludin menyatakan baru sebanyak 72,80 persen masyarakat Kota Serang memiliki jamban d irumahnya. Sedangkan sisanya masih terbiasa buang air besar sembarangan atau modol di kebon (Dolbon).

"Kecamatan yang masih tinggi Kasemen, secara keseluruhan warga Kota Serang yang punya jamban sendiri 72,80 persen, 27,20 persen lainnya masyarakat belum punya jamban," kata Subadri usai membuka kegiatan advokasi sanitasi total berbasis masyarakat di salah satu hotel di Kota Serang, Rabu 20 Maret 2019.

Ia mengatakan, penyebab utama masyarakat masih buang air besar sembarangan karena tidak memiliki jamban bukan karena faktor ekonomi dan ketidakmampuan. Tetapi karena kesadaran akan lingkungan yang sehat masih kurang.

"Lebih kepada kesadaran masyarakat betapa penyakitnya buang air besar sembarangan. Perkara tidak mampu ada, tapi tidak signifikan tidak banyak cuma kesadaran aja, lingkungan tidak sadar akan punya jamban sendiri," ucapnya. 

Sehingga, untuk meminimalisirnya program MCK komunal akan dialihkan untuk jamban keluarga dan akan menjadi prioritas bagi Pemkot Serang. Selain itu, dana kelurahan senilai Rp 370 juta diharapkan bisa membantu meminimalisir permasalahan tersebut. 

"Untuk mengatasi jamban tersebut kota Serang kan dapat dana alokasi umum tambahan yang bantuan kelurahan. Dan para lurah sudah diarahkan supaya memprioritaskan terkait tentang masyarakat yang kurang mampu yang belum mempunyai jamban," tuturnya.

Ia menargetkan, permasalahan buang air besar sembarangan di Kota Serang dapat terselesaikan untuk dua tahun kedepan. "Dengan terobosan ini harapan  dua tahun kota Serang bebas dari dolbon," ujarnya. 

Sekretaris Dinas (Sekdis) Kesehatan Kota Serang Ikbal menjelaskan pentingnya lingkungan bersih bagi kesehatan. Menurutnya, faktor lingkungan menjadi penyebab terbesar datangnya penyakit dibandingkan faktor lainnya. Sehinnga, sanitasi bersih sangat dibutuhkan. "Orang menjadi sakit itu 10 persen karena keturunan, 20 persen karena akses pelayanan, 30 persen karena perilaku dan 40 persen karena lingkungan," katanya kepada wartawan Kabar Banten, Masykur.***

Bagikan: