Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Umumnya berawan, 22.3 ° C

Sapi Asal Jabar kembali Dimusnahkan karena Mengidap Brucellosis

Tim Pikiran Rakyat
SEJUMLAH petugas BKP Kelas II Cilegon mengambil sampel urine dari sapi yang hendak dimusnahkan, di Instalasi Karantina Hewan BKP Kelas II Cilegon, Senin, 18 Maret 2019.*/SIGIT ANGKI NUGRAHA/KABAR BANTEN
SEJUMLAH petugas BKP Kelas II Cilegon mengambil sampel urine dari sapi yang hendak dimusnahkan, di Instalasi Karantina Hewan BKP Kelas II Cilegon, Senin, 18 Maret 2019.*/SIGIT ANGKI NUGRAHA/KABAR BANTEN

CILEGON, (KB).- Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Cilegon lagi-lagi menemukan sapi asal Jawa Barat yang berpenyakit Zoonosis Brucellosis. Karena itu, BKP Kelas II Cilegon akan semakin meningkatkan pengawasan pengiriman sapi asal Jabar.

Sapi yang hendak dikirim ke Sumatera itu pun dimusnahkan oleh BKP Kelas II Cilegon, Senin, 18 Maret 2019, malam. Sapi itu adalah salah satu dari sembilan sapi yang diperiksa di sana.

Sebelumnya, BKP Kelas II Cilegon menemukan sapi asal Bekasi yang hendak dikirim ke Sumatera terdeteksi mengidap penyakit tersebut. Kali ini, sapi yang dimusnahkan adalah sapi perah jenis Frisien Holstein (FH) asal Kabupaten Bandung Barat yang positif mengidap Brucellosis.

Kepala BKP Kelas II Cilegon, Raden Nurcahyo Nugroho, menuturkan, mereka memeriksa sembilan sapi perah jenis FH pada Minggu, 10 Maret 2019. Petugas memeriksa sapi asal Kabupaten Bandung Barat itu yang akan dikirim ke Medan.

Setelah pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik, petugas melakukan pengambilan sampel darah 100 persen untuk dilakukan pengujian RBT (Rose Bengal Test). “Hasilnya, dari sembilan ekor sapi, ada satu sapi yang positif RBT,” kata dia di sela-sela pemusnahan, seperti dilaporkan Sigit Angki Nugraha dari Kabar Cirebon.

Satu ekor sapi itu pun kemudian diamankan di Instalasi Karantina Hewan. Sementara, sampel darah sapi positif uji RBT dikirim ke Balitvet Bogor. “Ini untuk dilakukan pengujian CFT lanjutan. Hasilnya, ternyata sapi itu positif CFT,” ujarnya.

KEPALA BKP Kelas II Cilegon Raden Nurcahyo Nugroho saat memusnahkan dua ekor sapi di instalasi karantina BKP Kelas II Cilegon.*/SIGIT ANGKI NUGRAHA/KB

Dimusnahkan malam hari supaya tidak menular lagi melalui serangga

Untuk itulah, lanjut Raden, pihaknya melakukan pemusnahan pada malam hari. Pemilihan waktu pemusnahan itu untuk meminimalisasi terjadinya penularan Brucellosis melalui serangga. “Kalau dilakukan di siang hari, takut banyak lalat. Nanti bisa menyebar lewat lalat itu,” tuturnya.

Sapi FH, lanjut Raden, memang rentan tertular Brucellosis. Bahkan memiliki potensi menyebarkan Brucellosis secara cepat. Sapi dapat mengeluarkan kuman tanpa memperlihatkan tanda-tanda klinis. Itu bersifat sangat patogen baik bagi sapi lain maupun manusia.

Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Cilegon, Abraham Syah, mengaku belum pernah mendapati penyakit Brucellosis di sapi-sapi Kota Cilegon. Ia mengapresiasi upaya BKP Kelas II Kota Cilegon dalam mencegah penyebaran penyakit ini di daerah lain.

“Kami apresiasi ketelitian BKP dalam mendeteksi penyakit ini. Alhamdulillah di Kota Cilegon belum pernah ada Brucellosis diidap oleh sapi lokal Cilegon. Maka itu kami mendukung upaya pemusnahan ini, takutnya jika dibiarkan, menyebar di Kota Cilegon,” katanya.

PARA pekerja Balai Karantina Pertanian (BKP) bersiap menyembelih sapi untuk dimusnahkan karena tertular penyakit Zoonosis Brucellosis di Cilegon, Banten, Senin 11 Februari 2019 malam. */ANTARA FOTO

Kabupaten Bandung Barat memang endemik Brucellosis

Sementara itu, Kepala Seksi Kelembagaan Kesehatan Hewan dan Perlindungan Hewan pada Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) Kabupaten Bandung Barat, Slamet Wahyuningrat, mengatakan jika wilayahnya memang endemik Brucellosis. Atas temuan ini, pihaknya akan memperketat pengawasan terkait sapi-sapi yang akan dikeluarkan dari wilayah tersebut.

“Brucellosis di kami memang revalansinya diatas dua persen, jadi kalau kejadian itu kebijakannya harus vaksinasi setahun sekali. Populasi sapi perah di kami cukup tinggi, ada 37 ribu ekor sapi perah yang ada di kabupaten kami,” ujarnya.***

Bagikan: