Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Umumnya berawan, 21.9 ° C

Jalan Ambles, 150 KK di Bantul Terisolasi

Wilujeng Kharisma
PETUGAS gabungan meninjau jalan akses di Dusun Wunut, Sriharjo, Imogiri, Kabupaten Bantul,  yang terputus karena ambles akibat terkikis oleh derasnya aliran Sungai Oya. Akibat kejadian tersebut, sedikitnya 150 KK terisolasi.*/WILUJENG KHARISMA/PR
PETUGAS gabungan meninjau jalan akses di Dusun Wunut, Sriharjo, Imogiri, Kabupaten Bantul, yang terputus karena ambles akibat terkikis oleh derasnya aliran Sungai Oya. Akibat kejadian tersebut, sedikitnya 150 KK terisolasi.*/WILUJENG KHARISMA/PR

BANTUL, (PR).- Jalan akses satu-satunya ke tiga RT di Dusun Wunut, Sriharjo, Imogiri, Kabupaten Bantul, Jawa Tengah, terputus karena ambles. Jalan ambles akibat terkikis oleh derasnya aliran Sungai Oya. Akibatnya, sekitar 300 jiwa terisolasi.

Kepala Dusun Wunut, Sugiyanto, mengungkapkan, ada sekitar 150 KK yang berada di sisi timur jalan yang ambles. "Di sini ada enam RT, yang terisolir tiga RT yaitu RT 4, 5, 6," kata Sugiyanto, Selasa, 19 Maret 2019. Debit air sungai terus meninggi karena hujan yang turun sepanjang hari Minggu, 17 Maret 2019.

Amblesnya jalan sepanjang 25 meter ini ternyata bukan kali pertama terjadi. Jalan itu bahkan baru diperbaiki beberapa bulan lalu. Saat ini, jalan hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki. Pengguna roda dua pun disarankan tidak melintas karena hanya tersisa sedikit bagian jalan yang utuh namun cukup berbahaya untuk dilalui.

Sugiyanto menuturkan, sebenarnya tersedia perahu dari BPBD untuk menyeberang sungai. Akan tetapi, warga enggan menggunakannya karena aliran sungai yang cukup deras. "Ada perahu dari BPBD, tapi takut juga kalau mau pakai," ujarnya.

Warga di tiga RT tersebut, kata Sugiyanto, juga terdampak banjir dan longsoran material dari tebing di sekitar permukiman. "Rumah warga juga kena banjir, ada yang kena material. Alat rumah tangga, bahan makanan ketutup material," ucapnya.

BANGUNAN kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) nyaris roboh akibat hujan deras di Pantai Ngrenehan Gunungkidul.*/WILUJENG KHARISMA/PR

Status Siaga Darurat

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, telah memberlakukan status siaga darurat. Itu akibat bencana alam banjir dan tanah longsor akibat hujan deras yang menguyur wilayah tersbeut. 

"Kalau terkait siaga darurat di Bantul, sudah kita tetapkan status siaga darurat selama seminggu yang dimulai sejak Senin, 18 Maret 2019," kata Kepala BPBD Bantul, Dwi Daryanto..

Menurut dia, dengan status siaga darurat itu, maka harapannya penanganan dan pengondisian wilayah yang terdampak banjir dan tanah longsor menjadi prioritas. Proses pemulihan pun diharapkan berjalan lebih cepat.

Dwi mengatakan, dampak bencana banjir tersebut dirasakan masyarakat di 13 kecamatan atau 36 desa. Sementara, tanah longsor di antaranya terjadi di wilayah Kedung Buweng Desa Wukirsari yang menimpa beberapa rumah dan mengakibatkan korban jiwa.

Status siaga darurat itu, menurut dia, juga sebagai kesiapsiagaan menghadapi kejadian bencana serupa atau setidaknya dampak yang diakibatkan bisa diminimalkan. Apalagi, potensi banjir akibat hujan deras diprediksi masih bisa terjadi.

HUJAN lebat disertai angin dari Minggu 17 Maret 2019 pagi hingga Senin 18 Maret 2019 dini hari menyebabkan longsor di Kompleks Makam Raja-raja di Wukirsari, Imogiri, Bantul, DIY.  Longsor terjadi di tembok bagian timur kompleks pemakaman HB IX. *(WILUJENG KHARISMA/"PR')***

Pemkab usulkan relokasi

Wakil Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, mengatakan bahwa perlu dilakukan relokasi melihat kejadian longsor yang terjadi di beberapa wilayah di Bantul. Terlebih di daerah Sompok, Sriharjo, Imogiri yang ia pandang lokasinya sangat rawan untuk tetap ditinggali. Ada sekitar tujuh kepala keluarga (KK) di Dusun Sompok yang terdampak longsor dan banjir akibat hujan tanpa henti pada Minggu, 17 Maret 2019.

"Kalau seperti ini gimana, kalau mau dibangun infrastruktur tetap saja rawan. Meskipun sudah bertahun-tahun, mungkin ratusan tahun sudah di sini tapi kenyataannya kerusakan semakin nyata. Daya tahan permukiman ini terhadap banjir dan longsor tidak mungkin dipertahankan," katanya.***

Bagikan: