Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Sebagian berawan, 20.2 ° C

Industri Pakaian Jadi Jabar Harus Bisa Naik Kelas

Eva Fahas
ADE Sudrajat.*/DOK. NASDEM
ADE Sudrajat.*/DOK. NASDEM

JAKARTA, (PR).- Industri lokal di Jawa Barat harus bisa memperluas pangsa pasar agar bisa memperoleh keuntungan yang maksimal. Untuk bidang industri pakaian jadi butuh strategi khusus agar dapat naik kelas. Salah satunya dengan mengerti tren desain, membuat pola yang baik, juga menjahit dengan benar.

Menurut Ade Sudrajat, politisi dari Partai NasDem, industri kecil merupakan salah satu penopang maju mundurnya suatu daerah. Industri kecil harus diberi bekal agar mampu merebut pasar nasional maupun internasional.

"Karenanya, memberi pelatihan menjadi penting agar pelaku industri bidang ini memiliki keterampilan dan wawasan tambahan untuk maju," ujar Ade yang juga calon legislatif DPR RI Dapil Jawa Barat II itu.

Dikatakan, di daerah pemilihannya banyak industri lokal yang membuat pakaian jadi. Yang terbesar itu pembuatan celana jeans, pakaian wanita, hingga baju koko. Bahkan, ada satu kampung diberi nama kampung hijab karena di sana memang khusus membuat hijab.

"Ini potensi cukup kuat namun segmen pasar mereka memang ada di menengah bawah. Tentu artinya bahan baku yang sangat kompetitif dan murah " kata Ade seperti yang disadur dari siaran pers yang diterima wartawan Pikiran Rakyat, Selasa, 19 Maret 2019.

Ia pun mengutarakan, strategi agar dapat meningkatkan industri tekstil lokal naik ke menengah atas adalah dengan pembinaan. Antara lain pelatihan dari sisi desain, membuat pola yang baik, serta cara menjahit yang benar. Bagaimanapun, kualitas dari pakaian jadi akan terangkat dari ketiga hal tersebut.

Yang juga jangan dilupakan adalah cerdik mengakali pemasaran. Di era teknologi, pemasaran dengan jalur online akan lebih menguntungkan bagi pelaku industri pakaian jadi.

"Salah satu akses menuju pasar menengah itu dihubungkan dengan pasar online. Dengan cara ini, pendapatan bisa jauh lebih tinggi dari sekarang. Namun mereka juga harus dibekali wawasan mengenai ponsel. Bagaimana cara masuk online, bagaimana menawarkan, bagaimana pembayaran dan sebagainya. Karena saya lihat masih banyak pelaku industri yang belum menyentuh pasar online," tuturnya.

Sadar yang muda

Ade melanjutkan, upaya ini bukannya tanpa tantangan. Pasar online adalah hal baru meski tidak rumit. Namun bisa menjadi kompleks lantaran pelaku industri masih memegang konsep untung-rugi yang langsung terasa.

"Jadi mereka masih tidak biasa dengan konsep akumulasi keuntungan dalam jangka waktu yang lebih lama, misalnya 6 bulan sekali atau 1 tahun sekali. Alasannya bisa karena keterbatasan modal dan sebagainya. Itu yang perlu sentuhan komprehensif pelatihan total dari a sampai z untuk meng-upgrade diri," kata dia.

Adapun sasaran pelatihan diutamakan pelaku industri yang berusia dibawah 40 tahun. Ia menilai, wirausaha muda lebih berani mengambil risiko. Beda dengan pelaku bisnis yang lebih senior karena biasanya berkejaran dengan kebutuhan dapur.

"Kami paparkan risiko sejak awal. Apakah mereka mau ambil atau enggak. Kemudian akan kami hubungkan dengan perbankan, karena perbankan butuh legalitas formal. Tetapi tidak bisa secara individu, misalnya dibuat kelompok 5-10 orang. Dibentuk semacam koperasi sehingga bisa maju dan dijamin dengan CSR dari perusahaan-perusahaan yang berkaitan," ucapnya.

Pada kesempatan terpisah, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menilai perlu adanya perhatian yang lebih besar lagi dari pemerintah, baik pusat maupun daerah guna mengembangkan industri lokal. Salah satunya dengan pemberian insentif fiskal, yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. 

"Misalnya banyak keringanan perpajakan, khususnya pajak daerah, terutama bagi industri-industri yang terkena pukulan ekonomi," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, perlu juga adanya kemudahan bagi industri lokal untuk mendapatkan bahan baku produksi. Hal itu bisa didukung melalui kerjasama antara pemerintah daerah. Ketersediaan infrastruktur yang memadai juga menjadi salah satu penunjang utama dalam pengembangan industri lokal.

"Di samping itu juga infrastruktur di daerah itu sendiri. Yang membuat mahal biaya logistik itu karena infrastruktur yang belum merata," kata Bhima.***

Bagikan: