Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Umumnya berawan, 21.9 ° C

Tasawuf Underground, Jalan Lain Melawan Stigma Punk

Yusuf Wijanarko
KEGIATAN komunitas Tasawuf Underground/INSTAGRAM TASAWUF UNDERGROUND
KEGIATAN komunitas Tasawuf Underground/INSTAGRAM TASAWUF UNDERGROUND

"JANGAN heran melihat orang bertato salat dan mengaji di masjid. Heranlah dengan orang tak bertato yang tak pernah salat dan mengaji di masjid,"

Perkataan itu meluncur dari bibir Achil (28), pemuda punk penuh tato di sekujur tubuhnya yang memilih jalan berhijrah dengan bergabung dengan komunitas Tasawuf Underground.

Tasawuf Underground dibentuk Halim Ambiya, dosen salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Dia terpanggil membuat pergerakan mengaji di jalanan.

Setiap Jumat dan Sabtu mulai pukul 14.00 hingga 17.00, komunitas Tasawuf Underground rutin menggelar pengajian mulai belajar huruf hijaiyah hingga kajian pembenahan agama Islam dan mental di kolong jembatan Tebet, Jakarta Selatan.

Tujuan Tasawuf Underground adalah mengenalkan kembali agama serta mengubah stigma masyarakat terhadap punk dan kehidupan jalanan.

Achil merupakan satu dari puluhan anak punk jalanan di Tebet yang kerap dicap sebagai salah satu masalah sosial. Melawan norma umum sosial, sekujur tubuhnya dipenuhi tato, baju kucel, dan beranting menjadi ciri khas mereka.

KEGIATAN komunitas Tasawuf Underground/INSTAGRAM TASAWUF UNDERGROUND

Sembari menghela nafas dalam-dalam, Achil sadar bahwa suatu kewajaran apabila sebagian masyarakat masih memandang rendah anak-anak berpenampilan urakan.

Akan tetapi, kehidupannya mulai berubah saat mengenal Halim Ambiya sejak awal 2019. Halim Ambiya mengarakhan puluhan anak-anak jalanan untuk kembali belajar agama dan kehidupan yang lebih baik.

Hanya beralaskan tikar dan baliho bekas kampanye, ia mengajarkan mengenai huruf hijaiyah serta arti hidup di dunia melalui komunitas Tasawuf Underground.

Antara melaporkan, komunitas Tasawuf Underground telah ada sejak 7 tahun lalu, tetapi baru berkegiatan di kolong jembatan Tebet pada akhir 2018.

Di Tasawuf Underground, mereka rutin belajar agama seperti membaca Iqra maupun kajian-kajian religi lainnya dengan dikomandoi Halim Ambiya, pendiri Tasawuf Underground, yang membimbing mereka melafalkan huruf hijaiyah meski terbata-bata.

KEGIATAN komunitas Tasawuf Underground/INSTAGRAM TASAWUF UNDERGROUND

Halim Ambiya menceritakan, gerakan Tasawuf Underground berawal dari kekhawatirannya terhadap anak-anak punk jalanan.

Aksesori yang melekat pada diri mereka selalu dikaitkan sebagai citra buruk oleh sebagian masyarakat. Ia meyakini bahwa setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama, baik di lingkungan sosial maupun hubungan dengan Tuhannya.

“Tiga tahun lalu ada fenomena ketika kaum urban tidak peduli dengan anak jalanan dan punk yang dianggap sampah, sesuatu yang menggangu secara sosial padahal merupakan efek dari banyak hal dalam kehidupan kita,” ujar Halim Ambiya.

Mengajak anak-anak jalanan untuk mengaji bukanlah perkara mudah. Lika-liku perjalanan mewarnai setiap langkah Halim Ambiya. Namun, dengan tekad yang kuat serta pendekatan humanis, mereka secara perlahan mulai mau mengubah pola hidupnya.

Mereka berasal dari berbagai latar belakang seperti pengamen, sopir angkot, kernet bus, hingga pengemis.

Saat ini, terdapat 40 orang yang mengikuti kajian agama di kolong Jembatan Tebet bersama Tasawuf Underground. Dibantu sejumlah relawan lintas sosial, mereka belajar mengenai Islam dan menuju hidup yang lebih baik.

Anak-anak punk itu berasal dari berbagai wilayah seperti Depok, Bekasi, Tangerang, hingga provinsi lain seperti Jawa Timur.

Mereka mayoritas berasal dari sekita Jakarta. Mereka yang berasal dari luar Jakarta mulanya bermigrasi untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Kesuksesan tidak berpihak, mereka justru harus menyerah pada kerasnya kehidupan Jakarta dan menggelandang di jalanan.

Melawan stigma

Hidup di jalanan bukanlah menjadi pilihan mereka, tetapi kondisi lingkungan yang tak berpihak membuat anak-anak hidup di jalanan. Mayoritas anak-anak punk jalanan iitu adalah korban dari kekerasan keluarga, perceraian, hingga ada yang tak tahu ayah maupun ibunya.

Identitas urakan yang melekat menjadi masalah tersendiri. Mereka sadar bahwa mengubah pendangan masyarakat bukanlah perkara mudah. Namun, satu hal yang diyakini bahwa Tuhan tak pernah gugur dalam menilai umatnya.

Punk/ANTARA

Waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB, lantunan azan menggema di semesta. Pria berbadan kurus mengingatkan yang lainnya untuk segera bergegas menuju masjid. Dia adalah Apriansyah (21).

Pria yang kedua tangannya dipenuhi tato itu adalah seseorang yang menghabiskan hari-harinya dengan memetik senar gitar kecilnya di kawasan Jakarta dan kolong jembatan depan stasiun Tebet. Tatapan matanya yang tajam dan kulit legamnya yang terbakar matahari langsung mengubah pandangan negatif saat mengajak salat.

“Sebelum saya di kolong jembatan ini saya mengamen, nongkrong, mengamen muter nyari duit bolak-balik ke Depok, Manggarai, nyari duit, akhirnya nongkrong dekat stasiun sini” ujarnya mengenang sambil memegang tatonya.

Afriansyah bercerita, dulu ia tak pernah tahu huruf hijaiyah atau tata cara menyucikan diri. Situasi berbalik saat ia bertemu seseorang yang baru dikenalnya melontarkan pertanyaan.

“Dia bertanya,  Kamu tahu puluhan lagu, tapi berapa surat Alquran yang kamu hafal?” ucapnya menirukan.

Punk/ANTARA

Pertanyaan itu membuat dia merasa terpukul bahwa selama ini ia sangat jauh dengan Sang Pencipta. Berjalan jauh hingga ke Tebet, akhirnya ia menemukan wadah yang akan membuat hidupnya berubah dan merasa dekat dengan Tuhan.

Hal serupa dirasakan Irfan Saputra (20). Melawan stigma memerlukan waktu yang panjang. Hidup sebagai anak punk, tidak jarang Irfan dipandang sebelah mata oleh orang-orang.

Misalnya, orang-orang yang sedang bermain ponsel di angkot akan tiba-tiba memasukkan ponselnya ke dalam tas jika Irfan Saputra dan kawannya mengamen.

“Kadang kalau lewat ke mana saja, diliatin, diomongin dari belakang. Saya mah gak peduli, orang saya gak ada niat apa-apa. Cuma niat menjemput rezeki,” ujarnya.

Menjadi orang yang tinggal di kolong jembatan, dia kenyang pengalaman diamankan petugas Satpol PP. Salah satunya adalah ketika dulu ia masih tidur di kolong jembatan Matraman, Jakarta Timur pada 2010.

Satpol PP menangkapnya untuk kemudian dikirimkan ke Serpong, Tangerang. Di Serpong terdapat salah satu tempat dikumpulkannya para penyandang masalah kesejahteraan sosial.

Kini ia menemukan rumah baru dengan teman-teman yang sudah seperti keluarga sedarah. Jika ada salah satu kawannya mengalami masalah, mereka berupaya membantu dengan catatan tidak melakukan aksi kriminalitas.

“Kami berkumpul tidak hanya mengaji tapi mengadvokasi teman-teman yang terkena masalah,” ujar Halim Ambiya.

Stigma perlahan pudar meski perlu waktu panjang untuk benar-benar mengubah pandangan masyarakat.

Hal itu tercermin dari berbagai relawan yang juga ikut membantu Halim Ambiya mengajar. Seperti dilakukan Ahmad, psikolog asal Jakarta. Saat tidak ada pekerjaan menumpuk, ia selalu menyempatkan diri ke kolong jembatan Tebet.

Ia membantu puluhan anak-anak punk dalam hal penyembuhan trauma. Anak-anak punk diajarkan mengenai konsep hidup dan menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

Para relawan lain membuka jalan kepada anak-anak punk untuk bisa meraih hak hidup yang layak. Beberapa orang di antara mereka bahkan telah bekerja sebagai barista di suatu kafe dan menjadi penjaga toko sementara sisanya berjualan di depan Stasiun Tebet.

“Kami berharap agar mereka tidak bergantung hidup di jalanan tapi memiliki perkerjaan yang lebih menguntungkan bagi kehidupan mereka,” kata Halim Ambiya.

Perjuangan untuk bisa lepas dari kebergantungan hidup di jalanan secara perlahan hilang. Sebagian dari mereka tidak tidur di kolong jembatan, tetapi secara patungan menyewa kamar kos di sekitar Tebet.

Ia berharap, gerakan yang dibangun dapat menginspirasi masyarakat lainnya untuk melakukan hal serupa. Tak hanya di Jakarta, tetapi merambah ke seluruh daerah di Indonesia.***

Bagikan: