Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Umumnya berawan, 22.3 ° C

Lebih dari 500 Hektare Sawah di Banyumas Terendam Banjir

Eviyanti
SEKITAR 576 hektare pertanian padi di delapan desa di Kecamatan Sumpiuh dan Tambak, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terendam banjir.  Musibah tersebut terjadi karena tanggul  sungai Angin, jebol. Sampai Senin, 18 Maret 2019, banjir belum juga surut, dengan ketinggian air di area persawahan berkisar sampai 50-70 centimeter.*/EVIYANTI/PR
SEKITAR 576 hektare pertanian padi di delapan desa di Kecamatan Sumpiuh dan Tambak, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terendam banjir. Musibah tersebut terjadi karena tanggul sungai Angin, jebol. Sampai Senin, 18 Maret 2019, banjir belum juga surut, dengan ketinggian air di area persawahan berkisar sampai 50-70 centimeter.*/EVIYANTI/PR

BANYUMAS, (PR).- Sekitar 576 hektare pertanian padi di delapan desa di Kecamatan Sumpiuh dan Tambak, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terendam banjir.  Musibah tersebut merupakan yang ketiga kalinya.

Sampai Senin, 18 Maret 2019, banjir belum juga surut. Banjir terjadi sejak Minggu, 17 Maret 2019 dengan ketinggian air di area persawahan berkisar sampai 50-70 centimeter.

Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pemeliharaan Jalan dan Irigasi wilayah Sumpiuh, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Banyumas, Imam Pamungkas, di sana ada empat desa yang sawahnya terendam. Di Kelurahan Sumpiuh, sawah yang terendam seluas 156 hektare, Desa Selandaka 60 hektare, Nusadadi 170 hektare, dan Karanggedang seluas 50 hektare. Di Kecamatan Sumpiuh itu, total 436 hektare sawah yang terendam.

Sementara, untuk Kecamatan Tambak, total ada 140 hektare padi yang terendam. Banjir itu tersebar pada empat desa, yaitu Plangkapan seluas 34 hektare, Gumelar Kidul 13 hektare, Karang Petir 76 hektare, dan Karang Pucung seluas 17 hektare.

Berada di cekungan, sehingga sering banjir

Beberapa desa di Kecamatan Kemranjen Siumpuh dan Tambak merupakan kawasan yang sering banjir. Kawasan itu memang berada di wilayah cekungan sehingga setiap tahun setidaknya mengalami banjir hingga  tiga kali.

Dalam musim tanam tahun ini, padi yang pertama kali ditanam mengalami puso karena banjir. Kemudian, petani mengganti dengan tanaman yang baru, tapi tanaman yang ke dua pun kembali kebanjiran. Tanaman itu pun baru berusia antara 7 – 75 hari sehingga masih rentan rusak atau puso.

Banjir  yang menggenangi beberapa desa di Kecamatan Simpiuh dan Tambak terjadi akibat tanggul sungai Angin di Kelurahan Sumpiuh jebol, pada Sabtu, 16 Maret 2019. Tanggul jebol sampai ketinggian empat meter, sehingga luapan air  menggenangi sejumlah desa. Penutupan tanggul sudah dilakukan tapi air sungai masih tinggi.***

Bagikan: