Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Berita Bohong Sita Energi Kampanye

Muhammad Ashari
Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding (memegang mikrofon), berbicara di kantor Saiful Mujani Research & Consulting, Jakarta, Minggu, 17 Maret 2019.*/MUHAMMAD ASHARI/PR
Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding (memegang mikrofon), berbicara di kantor Saiful Mujani Research & Consulting, Jakarta, Minggu, 17 Maret 2019.*/MUHAMMAD ASHARI/PR

JAKARTA, (PR).- Peredaran berita bohong atau hoaks diakui telah menyita sebagian besar energi kampanye pasangan 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Survey terbaru dari Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) pun menunjukkan bahwa responden yang percaya terhadap kabar bohong mengenai Jokowi masih berada di kisaran 6%. 

SMRC melakukan survey mengenai tanggapan masyarakat atas hoaks yang dialamatkan kepada Jokowi. Misalnya, Jokowi sebagai anggota Partai Komunis Indonesia, Jokowi sebagai kaki tangan Tiongkok, dan Jokowi sebagai anti-Islam. Survey dilakukan terhadap 2.479 responden pada 24 Februari - 5 Maret 2019, dengan margin of error survey sebesar 2%. 

Hasil survey menunjukkan bila sebanyak 6% dari keseluruhan responden memercayai bila Jokowi adalah anggota PKI dan anti-Islam. Sementara, sebanyak 10% responden memercayai bila Jokowi kaki tangan Tiongkok. 

ILUSTRASI hoaks di aplikasi WhatsApp.*/Ist

Elektabilitas masih tinggi

CEO SMRC, Djayadi Hanan, mengatakan, jumlah responden yang memercayai kabar-kabar bohong itu cenderung tidak berubah. Mereka telah melihat polanya semenjak pemantauan mulai dari September 2017 sampai Februari 2019.

Untuk isu Jokowi anggota PKI, trennya berada di angka 5-6% selama periode itu. Sementara, isu Jokowi anti-Islam berada di angka 3-6%. Adapun untuk isu Jokowi kaki tangan Tiongkok, angkanya di kisaran 6-10%.

"Fake news ini akan berdampak negatif terhadap Jokowi. Meskipun demikian, kenapa elektabilitasnya masih tinggi? Karena isu tersebut hanya menerpa di kisaran 6-10% responden itu," kata Djayadi saat konferensi pers, Minggu, 17 Maret 2019. 

Djayadi mengungkapkan, secara latar belakang demografi, responden yang memercayai hoaks tersebut kebanyakan adalah penduduk kota dan berpendidikan. Adapun untuk latar belakang umur dan etnis, korelasinya negatif. "Semakin ke kota, keyakinan hoaks mengenai Jokowi itu semakin kuat. Di kota, orang cenderung lebih percaya hoaks," ujarnya. 

WARGA melintas di depan mural bertema Antihoaks di desa Madegondo, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis, 18 Oktober 2018. Mural tersebut dibuat warga setempat untuk mengkampanyekan gerakan antihoaks serta sebagai media edukasi masyarakat akan perlunya menanggulangi penyebaran berita bohong, hasutan, dan ujaran yang dapat menimbulkan kebencian.*/ANTARA

Sulit memadamkan hoaks

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding, mengatakan, pihaknya memang kewalahan menangani hoaks serta politik identitas. Sebagian besar energi yang dikeluarkan oleh tim kampanye, katanya, digunakan untuk menjawab serta membantah kabar-kabar miring mengenai Jokowi. 

"Ini lampu kuning menuju merah bagi bangsa Indonesia. Meski di negara lain hoaks itu menjadi hal yang lumrah, tapi menurut saya, ini harus diantisipasi sebagai sebuah bangsa," tuturnya. 

Hoaks, menurut dia, pada hakikatnya adalah hal yang berbahaya. TKN dikatakannya telah bekerja keras untuk menghadapinya, dengan cara berusaha menjawab dan mencegah peredaran hoaks.

"Kalau memadamkan (hoaks) susah karena kampanye hitam seperti ini tidak saja di media sosial, tapi juga dari pintu ke pintu," ujarnya.***

Bagikan: