Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Sebagian cerah, 27.8 ° C

Memetik Pelajaran dari Romahurmuziy Effect terhadap Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin

Yusuf Wijanarko
KETUA Umum PPP Romahurmuziy mengenakan rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Sabtu 16 Maret 2019.*/ANTARA
KETUA Umum PPP Romahurmuziy mengenakan rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Sabtu 16 Maret 2019.*/ANTARA

JEMBER, (PR).- Pengamat politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember Muhammad Iqbal menilai kasus operasi tangkap tangan Ketua Umum PPP (Partai Persatuan Pembangunan) Romahurmuziy secara tidak langsung dapat mempengaruhi elektabilitas calon presiden dan calon wakil Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Hal yang pasti, sebagai orang dalam istana di ring satu, Romahurmuziy yang kini ditetapkan sebagai tersangka kasus suap menjadi pukulan telak buat pasangan capres-cawapres nomor urut 01," katanya di Jember, Sabtu 16 Maret 2019.

Untuk mengetahuinya secara pasti, kata dia, dalam satu atau dua pekan ke depan perlu dilakukan survei elektabilitas pasangan capres dan cawapres. Tujuannya, agar ada basis data ilmiah dan akurat yang memotret suara opini publik dari efek tertangkapnya Romahurmuziy.

"Bisa saja pada pekan ini elektabilitas pasangan calon nomor urut 01 tidak terpengaruh. Namun sangat mungkin pengaruhnya akan lebih kencang pada pekan-pekan mendatang, terutama pada melonjaknya jumlah pemilih yang ragu-ragu," ucap Muhammad Iqbal sebagaimana diberitakan Antara.

KETUA Umum PPP Romahurmuziy mengenakan rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Sabtu 16 Maret 2019.*/ANTARA

Menurut dia, lonjakan jumlah tersebut sangat mungkin terjadi karena psikologi politik pemilih yang semula berharap besar pada kekuatan simbol politik Islam, kini menjadi terdegradasi oleh kasus Romahurmuziy yang tertangkap KPK karena kasus suap di Kementerian Agama.

"Bukankah rakyat tahu bahwa dipilihnya Ma'ruf Amin sebagaimana yang sering dikampanyekan oleh Romahurmuziy sebagai representasi politik Islam dan kepedulian pada ulama. Romahurmuziy sebagai orang yang rajin berkampanye tentang hal itu justru terjebak dalam pusaran korupsi dan jelas jadi pukulan telak yang seolah memupus harapan pemilih muslim," tuturnya.

Pelajaran dari Rommy effect

Selain itu, lanjut dia, OTT yang dilakukan KPK terhadap Romahurmuziy jelas sangat berdampak pada nasib PPP dan para calon anggota legislatifnya yang bertarung dalam Pemilu 2019, baik di DPR dan DPRD sehingga diprediksi akan terjadi penggerusan potensi suara yang sangat besar pada salah satu simbol partai Islam itu.

"Modal sosial berupa social trust dari masyarakat muslim bisa langsung anjlok. Apalagi jika membuka rekam jejak KPK, mantan Ketum PPP Suryadharma Ali juga terjerat kasus korupsi dana haji dan kini yang dituduhkan pada Romahurmuziy terkait jual-beli jabatan di Kemenag, jelas memicu terjadinya ketidakpercayaan pada tokoh simbol politik Islam," ujarnya.

Muhammad Iqbal menilai, masa depan PPP dalam Pemilu 2019 bisa sangat mungkin suram dan terlempar dari Senayan. Hal tersebut bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi partai politik dan elite partai yang berada di pusaran kekuasaan.

"Pelajaran dari Rommy effect ada dua yakni seharusnya para politisi berjuang progresif mengedepankan visi kebangsaan berbasis kemuliaan, bukan pada nafsu jabatan dan pada masa titik paling mendidih, perhelatan pilpres dan pileg. Tokoh-tokoh kedua kubu seharusnya semakin berhati-hati, taktis, dan strategis sehingga tidak membuat blunder yang tak bermutu apalagi sampai terjerat kasus pidana korupsi," katanya.***

Bagikan: