Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Umumnya cerah, 28.5 ° C

Hampir 50 Persen Hoaks di Jagat Maya Menyebar via Facebook

Yusuf Wijanarko
Hoaks/DOK. PR
Hoaks/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Ketua Komite Penelitian dan Pengembangan Mafindo (Masyarakat Antifitnah Indonesia) Santi Indra Astuti mengatakan bahwa Facebook menjadi sarana penyebaran hoaks paling dominan, dibayangi Whatsapp dan Twitter.

"Masyarakat harus memahami bahwa hoaks berbahaya bagi masa depan bangsa. Masyarakat juga harus memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih mana berita yang benar dan yang keliru," kata Santi Indra Astuti di Jakarta, Sabtu 16 Maret 2019 seperti dilaporkan Antara.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan Mafindo, presentase hoaks di media sosial sepanjang Juli 2018 hingga Desember 2018 yaitu Facebook 47,83 persen, Whatsapp 10,87 persen dan Twitter 8,90 persen.

Sementara sepanjang Januari 2019, hoaks di Facebook 49,54 persen, Twitter 12,84 persen, dan Whatsapp 11,92 persen.

"Bentuk hoaks paling banyak pada semester II tahun 2018 adalah gabungan foto dannarasi 45,25 persen, narasi saja 30,63 persen, serta gabungan video dan narasi 14,22 persen," tutur Santi Indra Astuti.

Akan tetapi, sepanjang Januari 2019 terjadi perubahan komposisi menjadi 34,86 persen narasi saja, gabungan foto dan narasi 28,44 persen, serta gabungan video dan narasi 17,43 persen.

"Perubahan komposisi itu menunjukkan hoaks yang beredar di masyarakat semakin canggih," katanya.

ILUSTRASI Facebook.*/Ist

Karena itu, Santi Indra Astuti mengatakan bahwa pembelajaran melek digital harus dilakukan dengan melibatkan orang-orang dari multisektor sebagai bagian untuk meningkatkan ketahanan informasi bangsa.

"Tidak hanya menjadi kewajiban pemerintah, tetapi menjadi panggilan bagi siapa saja yang tidak ingin negeri ini larut dalam bencana informasi akibat hoaks," katanya.

Mafindo mencatat, sepanjang 2018 hingga Januari 2019 terdapat 997 hoaks dan 488 di antaranya atau 49,94 persennya bertema politik.

Hoaks untuk merebut dukungan

Kepala Biro Multimedia Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol. Drs. Budi Setiawan mengingatkan, penyebaran hoaks dapat menyebabkan ketidakstabilan keamanan. Sehingga, semua elemen masyarakat harus sadar untuk tidak memproduksi maupun menyebarkan hoaks.

"Penyebaran hoaks menyebabkan keamanan tidak stabil, dulu Polri hanya punya patroli di darat. Namun saat ini pemantauan dilakukan di media sosial," kata Budi Setiawan dalam diskusi bertajuk Implikasi dan Konsekuensi Kampanye Menggunakan Hoaks dalam Pemilu 2019 di Jakarta, Sabtu.

Dia mengatakan, media sosial saat ini disalahgunakan untuk penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan politisasi suku, agama, ras, dan antargolongan.

Menurut dia, yang memprihatinkan, hoaks digunakan untuk merebut dukungan rakyat dalam Pemilu 2019.

Budi mengatakan, data Polri menunjukkan, sejak 2016-2018, kepolisian telah menangani 2.821 kasus hoaks di seluruh Indonesia dan 1.310 di antaranya sudah masuk ke pengadilan.***

Bagikan: