Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Sebagian berawan, 17.6 ° C

Jadikan Debat Capres-Cawapres sebagai Momen Peraup Suara

Muhammad Irfan
PILPRES 2019.*/DOK. PR
PILPRES 2019.*/DOK. PR

 

JAKARTA, (PR).- Penyelenggaraan debat bagi kandidat calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia akan memasuki kali ketiga pada 17 Maret 2019 nanti. Setelahnya masih ada dua debat lagi yang akan menunggu dua pasang kandidat ini. Selain hendak menghadirkan visi misi mereka kepada publik, Capres-Cawapres pun berharap dapat menggiring pemilih berkat paparan yang mereka sampaikan. Bisakah?

Peneliti politik dari CSIS Arya Fernandes menilai sebenarnya minat publik pada debat Capres-Cawapres memang tinggi. Berdasarkan data jika dilihat jumlah publikasinya 50 sampai 55 persen penonton menyaksikan debat dan hampir semuanya menonton sampai terakhir. Namun sayangnya momen debat pertama dan kedua tak bisa memenuhi ekspektasi publik.

“Kita lihat apa indikasinya. Misalnya ekspektasi nonton debat tinggi tetapi ketika dilihat dalam hasil survei itu pengaruhnya kecil artinya debat  itu tidak mampu untuk memengaruhi pilihan orang terutama orang-orang yang belum menentukan pilihan, atau orang-orang yang masih ragu-ragu atau bimbang,” kata Arya dalam sebuah diskusi yang digelar di ruangan wartawan Kompleks Parlemen Senayan, Kamis, 14 Maret 2019.

Padahal, idealnya debat harus menjadi referensi utama bagi publik untuk menentukan pilihan sehingga dia betul-betul mantap untuk memilih. Apalagi pemilu hanya tinggal 30 hari lagi.

“Jadi kita sebagai pemilih sangat berharap betul kandidat dan tim sukses memahami bahwa kita punya konsen yang sama untuk berharap yang lebih banyak kepada kualitas debat dan dalam proses debat,” ucap dia.

Debat ketiga yang menghadirkan dua Cawapres yakni KH Maruf Amin kontra Sandiaga Uno juga hendaknya dilihat dari konteks politik. Menurut dia, hal ini perlu agar tak timbul kesungkanan dari Sandi yang lebih muda pada Maruf yang lebih sepuh di debat nanti. 
 

CALON Wakil Presiden nomor urut 01 K.H Maruf Amin berjalan menuju podium sesaat sebelum menyampaikan pemaparannya pada acara deklarasi anti hoax yang diinisiasi oleh Santri Milenial Center (SiMaC) di jalan Karapitan, Kota Bandung. Sabtu, 19 Januari 2019. Pada kesempatan tersebut Maruf Amin menyampaikan beberapa isu tentang hoax seputar pencalonan dirinya dalam ajang pilpres 2019.*/ADE MAMAD/PR

“Tentu posisinya setara dalam politik, mereka sama sama di calonkan oleh koalisi partai, sama-sama memenuhi persyaratan pencalonan, sama-sama sebagai calon wakil presiden dan kalau mereka terpilih mereka akan menjadi wakil presiden kita. Status keagamaan tentunya akan berbeda, tetapi karena evennya adalah politik tentu status menjadi setara, sama sama menjadi calon wakil presiden,” ucap Arya.

Debat ini pun dinilai penting karena diharapkan bisa menjawab kebosanan publik pada proses politik yang panjang dan hasil debat pertama dan kedua yang belum menyentuh langsung permasalahan. Jika tak begitu maka akan timbul apatisme dari pemilih. “Kita menunggu sebenarnya momen debat ini harus dimanfaatkan oleh kedua kandidat untuk benar-benar mencuri pemilih,” ucap dia.

Sementara itu politisi PDIP Eriko Sotarduga mengatakan sejak dimulai tahun 2004 ,2009, 2014 hingga sekarang publik harus jujur kalau ada peningkatan dalam debat kandidat capres-cawapres. Meski demikian minimnya animo publik pada gelaran ini pun harus jadi otokritik untuk semua pihak.

“Pada debat kedua, ini sebenarnya sudah berbeda dengan debat pertama, sudah jauh lebih menarik daripada debat pertama, tetapi apakah ini sudah seperti yang diinginkan masyarakat di Indonesia? Saya harus jawab belum,” ucap Eriko.

Dia pun mengusulkan agar pengemasan media saat pra-debat lebih menitikberatkan pada rekam jejak dan kehidupan masing-masing kandidat. Ini dibuat agar pelaksanaan debat bisa lebih menarik.
 

CALON Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahudin Uno (empat kanan) menabur bunga saat berziarah dikuburan massal korban tsunami pada rangkaian safari politik kampanye Pilpres 2019 di Desa Siron, Aceh Besar, Aceh, Selasa (20/11/2018). Selama dua hari kunjungan ke Provinsi Aceh calon Wakil Presiden Sandiaga Salahudin Uno melaksanaka berbagai kegiatan diantaranya berkunjung ke pasar tradisional peunayong, bersilahturrahmi dengan para ulama dan bertemu dengan relawan serta kader partai pengusung.*/ANTARA

“Sehingga kalau itu dilakukan tak perlu lagi ada kampanya besar-besaran, tidak perlu karena penetrasi televisi 93 persen, ditambah media online di tambah media cetak seluruh media yang ada, inilah yang diinginkan masyarakat sesungguhnya, bahwa mereka mengetahui siapa calon pemimpin yang nanti akan mereka pilih, kan ini hanya ada dua pilihan, kita hanya boleh memilih salah satu,” ucap dia.

Sementara itu wakil Ketua DPR yang juga mantan politisi PKS Fahri Hamzah menilai debat ketiga ini akan lebih menarik. Bukan hanya dari konten yang dibahas tetapi latar belakang kandidat yang punya perbedaan ekstrem baik dari sisi usia maupun pengalaman.

“Satu sisi Bapak Sandi ini milenial, muda, pengusaha, kemudian Bapak Maruf dia adalah seorang ulama, politisi gaek sebab di zaman saya menjadi tenaga ahli di di fraksi reformasi beliau ketua fraksi PKB, ini adalah politisi andalannya Gus Dur,” kata Fahri.***

Bagikan: