Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Sebagian berawan, 17.6 ° C

Indonesia Keluarkan Larangan Terbang untuk Boeing 737 Max 8

Satrio Widianto
PETUGAS Inspektur Kelaikudaraan DKPPU Kementerian Perhubungan dan tekhnisi Lion Air melakukan pemeriksaan seluruh mesin dan kalibrasi dengan menggunakan alat simulasi kecepatan dan ketinggian pesawat pada pesawat Boing 737-Max 8 milik Lion Air di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa, 12 Maret 2019.*/ANTARA
PETUGAS Inspektur Kelaikudaraan DKPPU Kementerian Perhubungan dan tekhnisi Lion Air melakukan pemeriksaan seluruh mesin dan kalibrasi dengan menggunakan alat simulasi kecepatan dan ketinggian pesawat pada pesawat Boing 737-Max 8 milik Lion Air di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa, 12 Maret 2019.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Direktorat Jenderal Perhubungan Udara yang sebelumnya melarang sementara (temporary grounded), akhirnya menetapkan larangan beroperasi bagi seluruh pesawat terbang B737 Max 8 yang dioperasikan oleh operator penerbangan Indonesia di wilayah ruang udara Republik Indonesia. Larangan itu berlaku sejak 14 Maret 2019. 

Langkah ini ditempuh setelah memperhatikan Continuous Airworthiness Notification to the International Community (CANIC) yang diterbitkan oleh FAA pada 13 Maret 2019. CANIC ini menyangkut updated information regarding FAA continued operations safety activity related to the Boeing Model 737-8 and 737-9 (737 Max) fleet dari Federal Aviation Administration.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B Pramesti menegaskan, larangan beroperasi ini berlaku sampai dengan adanya pemberitahuan lebih lanjut, dengan mempertimbangkan terpenuhinya keselamatan penerbangan. 

“Demi terpenuhinya keselamatan penerbangan di Indonesia, kami memutuskan untuk melarang terbang seluruh pesawat Boeing 737 Max 8 yang dioperasikan oleh operator penerbangan Indonesia di wilayah ruang udara Republik Indonesia, berlaku sejak tanggal 14 Maret 2019,” tegas Polana.

Namun, larangan beroperasi ini dikecualikan bagi penerbangan B737 Max 8 yang bertujuan non-komersial, tidak membawa penumpang, dan ferry flight dalam rangka kembali ke lokasi perawatan atau penyimpanan pesawat terbang. Keselamatan penerbangan menjadi hal terpenting dalam pelayanan penerbangan. “Bagi kami, keselamatan merupakan 'no go item' yang tidak dapat ditawar,” tutur Polana.  

Kirim tim ke Ethiopia

Setelah kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines tujuan Nairobi, Kenya yang lepas landas dari Bandar Udara Bole di Addis Ababa, Ethiopia tanggal 10 Maret 2019, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyatakan akan terus meng-update informasi terkait perkembangan investigasi kecelakaan pesawat jenis Boeing 737 Max 8 tersebut. 

Polana mengatakan, untuk mendapatkan informasi yang akurat dan mendukung proses investigasi, pihaknya berencana mengirimkan tim ke Ethiopia. “Perwakilan yang dikirimkan guna mendapatkan informasi yang akurat terkait pesawat jenis Boeing 737 Max serta membantu proses investigasi,” katanya.

Diungkapkan, melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Ditjen Perhubungan Udara sudah mengirimkan surat ke pihak Otoritas Penerbangan Ethiopia pada tanggal 11 Maret 2019. "Jika sudah mendapatkan persetujuan, kami akan segera mengirimkan tim yang terdiri dari 1 orang inspektur penerbangan dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) dan 1 orang dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT)," ujarnya.***

Bagikan: