Pikiran Rakyat
USD Jual 14.635,00 Beli 14.335,00 | Umumnya berawan, 21.6 ° C

BPJS Ketenagakerjaan Tanggung 88 Jenis Penyakit Akibat Kerja

Satrio Widianto
GEDUNG BPJS Ketenagakerjaan./DOK.PR
GEDUNG BPJS Ketenagakerjaan./DOK.PR

JAKARTA, (PR).- Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) tidak lagi hanya kecelakaan yang terjadi di jalan menuju tempat kerja, di lokasi kerja, serta perjalanan dinas. Sekarang, ada 88 jenis Penyakit Akibat Kerja (PAK) yang turut ditanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan (BPJSTK).

Pemerintah baru saja mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2019 tentang Penyakit Akibat Kerja itu. Peraturan itu merupakan pengejawantahan atas Peraturan Pemerintah nomor 44 tahun 2015 khususnya pasal 48 ayat (3). Peraturan ini diimplementasikan oleh BPJSTK dengan manfaat yang diberikan berupa layanan kesehatan dan uang tunai (santunan). 

Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan, Krishna Syarif, menjelaskan pada Kamis, 14 Maret 2019, selama ini program JKK identik dengan kasus kecelakaan kerja yang terjadi di jalan, menuju atau dari tempat kerja, kecelakaan di lokasi kerja, serta perjalanan dinas. Padahal, perlindungan JKK juga mencakup penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja atau lazimnya disebut Penyakit Akibat Kerja (PAK).

Krishna mengatakan, peserta yang mengalami kecelakaan kerja maupun PAK mendapatkan manfaat berupa pelayanan kesehatan unlimited sesuai kebutuhan medis. Itu berlaku sampai si peserta dapat bekerja kembali.

Ada juga santunan berupa uang meliputi penggantian biaya pengangkutan, santunan sementara tidak mampu bekerja, santunan cacat, santunan kematian dan bantuan lainnya. Ditambah, ada juga bantuan beasiswa pendidikan anak bagi yang orang tuanya mengalami kecelakaan kerja dan PAK yang berdampak pada kematian.

ILUSTRASI.*/CANVA

Jumlah kasus PAK yang diklaim masih sedikit

“Hampir semua klaim program JKK selama ini untuk kasus kecelakaan kerja. Data lima tahun terakhir menunjukkan jumlah kasus PAK yang dilaporkan masih sangat kecil, dibawah 100 kasus. Kasus PAK tersebut didominasi pada gangguan tulang belakang, pendengaran, gatal-gatal pada kulit karena zat kimia, dan gangguan kulit pada tangan," ujar Krishna.

Dikatakannya, peserta pun berhak atas manfaat perlindungan PAK meskipun sudah tidak bekerja, yaitu maksimal tiga tahun sejak hubungan kerja berakhir. Diagnosa untuk peserta yang mengalami PAK ditentukan berdasarkan surat keterangan dokter spesialis yang berkompeten di bidang kesehatan kerja.

Jenis PAK yang ditanggung dibagi dalam 4 kelompok. Keempatnya adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh pajanan faktor yang timbul dari aktivitas pekerjaan, berdasarkan sistem target organ, kanker akibat kerja, dan penyakit spesifik lainnya. 

"Kami siap menangani kasus PAK  sesuai Perpres terakhir dengan sekitar 88 jenis PAK, lebih lengkap dibandingkan regulasi sebelumnya. Bahkan di luar itu, penyakit lain masih dapat dilaporkan sebagai PAK, dengan syarat penyakit tersebut harus memiliki hubungan langsung dengan pajanan yang dialami pekerja, dan harus dapat dibuktikan secara ilmiah dengan menggunakan metode yang tepat," tambahnya.***

Bagikan: