Pikiran Rakyat
USD Jual 14.635,00 Beli 14.335,00 | Umumnya berawan, 22.2 ° C

Undecided Voters, Mau Dibawa Ke Mana?

Muhammad Irfan
JOKO Widodo dan Prabowo berjabat tangan seusai mengikuti debat Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019.*/ANTARA
JOKO Widodo dan Prabowo berjabat tangan seusai mengikuti debat Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019.*/ANTARA

JAKARTA, (PR). - Unggulnya pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin di sejumlah lembaga survei belum berada di posisi aman. Ini karena, sejumlah lembaga survei masih mengidentifikasi tingginya pemilih yang belum menentukan pilihan. Lembaga survei Konsep Indonesia (Konsepindo) Research and Consulting menyebut masih ada 11,1 persen undecided voters. Masing-masing kubu pun terus bermanuver mengambil ceruk suara gamang ini di sisa waktu yang sudah kurang dari 40 hari. Lalu ke siapakah potensi pemilih mengambang ini akan berlabuh?

Lembaga survei Konsepindo menyatakan pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin lebih berpotensi mengambil suara pemilih mengambang dan yang belum memutuskan pilihan hingga saat ini. Hal tersebut dikatakan Direktur Konsep Indonesia Research and Consulting Veri Muhlis Arifuzzaman melihat dari kecenderungan hasil survei yang dilakukan pihaknya sejak 17-24 Februari 2019 lalu.

Dalam survei yang melibatkan 1200 responden di 34 provinsi di Indonesia dengan margin error 2,9 persen ini, pasangan Jokowi-Ma'ruf masih unggul dengan raihan suara sekitar 55 persen. Di kubu 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meraih 33,2 persen. Kecenderungan Jokowi lebih bisa mengambil hati pemilih mengambang pun diidentifikasi dari tingkat kepuasan publik pada kinerja Jokowi.

"Mereka ini punya penilaian yang positif kepada Jokowi sebagai presiden petahana sehingga berpotensi untuk mendapatkan limpahan suara dari jenis pemilih ini," kata Veri dalam ekspos hasil survei Konsepindo "Peta Kekuatan Pilpres Mutakhir: Menimbang Suara Undecided Voters" yang digelar di Hotel Millenium, Jalan Tanah Abang, Rabu, 13 Maret 2019.
 

PRESIDEN Joko Widodo membahas sejumlah persoalan saat berkunjung ke Kantor Redaksi Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu 10 Maret 2019.*/HARRY SURJANA/PR

Veri menilai, 8 dari 11 persen pemilih yang belum menentukan pilihannya mengaku sangat puas dengan kinerja Jokowi. Sementara 60,5 persen masih cukup puas dengan kerja Jokowi. Selain itu yang menginginkan kembali Jokowi menjadi presiden untuk kedua kalinya dari undecided voters cukup banyak yakni 18,1 persen.

"Ada juga kecenderungan pemilih yang berasal dari partai pengusung Jokowi yakni PKB (9,9 persen), PDIP (7,4 persen), PPP dan Golkar (2,5 persen). Relatif tidak ada faktor penolakan atau resistensi dari kelompok ini kepada pasangan petahana," ucap dia.

Veri menambahkan, dari analisis demografis pemilih yang belum memutuskan tidak terlihat kecenderungan pilihan yang signifikan ke pasangan Prabowo-Sandi. Banyak variabel pada pemilih yang belum memutuskan ini yang lebih dekat kepada Jokowi.

"Karenanya mereka berpotensi memilih Jokowi pada akhirnya. Jika pun suara yang belum memutuskan itu keseluruhannya kemudian memilih pasangan Prabowo-Sandi semuanya, pasangan Jokowi-Ma'ruf masih tetap unggul. Namun data menunjukkan ternyata suara belum memutuskan terbagi sama kuatnya bahkan karakteristik demografisnya lebih dekat ke pemilih Jokowi-Ma'ruf," ucap dia.

Isu yang paling mengemuka di antara dua pasangan ini adalah isu ekonomi. Menurut Veri, Jokowi-Ma'ruf dianggap lebih bisa mengatasi masalah ekonomi sebesar 28,3 persen berbanding tipis dengan Prabowo-Sandi yang dipercaya oleh 26,7 persen. Di sisi lain Prabowo-Sandi dipilih karena dipercaya mampu menjaga keamanan dan ketertiban dan memiliki wibawa.

"Sementara Jokowi-Ma'ruf dianggap lebih punya perhatian pada rakyat dan dinilai berpengalaman ketimbang pasangan Prabowo-Sandi," ucap dia.

Hasil akhir sering berbeda dengan hasil survei

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Viva Yoga Mauladi menyebut jika melihat pengalaman partai koalisi Gerindra-PKS-PAN di Pilkada, seringkali hasil akhir berbeda dengan hasil survei. Viva pun mengutip contoh dari hasil Pilkada Jawa Barat yang membuat pasangan Sudrajat-Syaikhu yang diusung partainya mampu parkir di posisi kedua meski sebelumnya tak pernah mampu melampaui 10 persen di survei.
 

Prabowo.*/ANTARA

"Ternyata bisa menang 26 persen, di DKI begitu, Jateng begitu. Ini kan soal responden dan kredibilitas data," ucap Viva.

Dari BPN pun tetap optimis karena pihaknya melakukan survei berbasis dapil dan ditarik menjadi survei nasional. Berbeda dengan metode kebanyakan, survei ini tentu mengumpulkan lebih banyak responden yang otomatis mengurangi tingkat marjin error. Dia menyebut jumlah respondennya 32.460.

"Ini akan menentukan pada proses validasi tadi. Tapi yang penting politik sekarang sudah diarahkan ke arah yang lebih rasional karena ditentukan oleh beberapa indikator yang dikaitkan dengan respons publik," ucap dia.

Di sisa waktu yang ada pun dia menilai masih banyak potensi yang bisa digenjot. Ini terlihat dari antusiasme publik saat Prabowo-Sandi hadir di masyarakat. Belum lagi populisme Islam yang tidak mengarah ke radikalisme dan ekstremisme seperti di Arab, tetapi lebih ke kesadaran politik publik.

"Dan ini lebih memberi efek ekor jas bagi pasangan Prabowo-Sandi," ucap dia.***

Bagikan:

TERPOPULER