Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Langit umumnya cerah, 21.6 ° C

Tradisi Bobok Bumbung, Menabung untuk Bayar Pajak

Eviyanti
WARGA Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap Jawa Tengah mengacungkan bumbung (celengan bambu) yang berisi uang tabungan. Nantinya, uang ini akan disetorkan ke kantor pajak untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan.*/EVIYANTI/PR
WARGA Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap Jawa Tengah mengacungkan bumbung (celengan bambu) yang berisi uang tabungan. Nantinya, uang ini akan disetorkan ke kantor pajak untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan.*/EVIYANTI/PR

PEKAN lalu, ratusan pria wanita tua muda berbaris dengan rapi. Para pria berpakaian tradisional beskap warna hitam dan bawahan dari kain batik lengkap dengan blangkon. Kaum wanitanya memakai kebaya warna hitam dengan sanggul tinggi. Mereka terlihat menyusuri jalan raya Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap Jawa Tengah untuk kirab budaya "Bobok Bumbung".

Prosesi Bobok Bumbung kurang lebih artinya tradisi membuka bambu yang berisi uang hasil menabung, sama seperti celengan. Di Desa Pesanggrahan, setiap Kepala Keluarga (KK) wajib menyimpan sebagian uang penghasilan mereka ke dalam sebuah bumbung (celengan bambu). Gunanya, untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Bumbung tersebut lantas dibawa dalam sebuah jolen. Yakni sebuah miniatur rumah dimana setiap kelompok Rukun Tetangga (RT) membawa satu jolen yang berisi bumbung sesuai jumlah KK di areanya.
 

jolen

Warga bersama jolen masing-masing kemudian berjalan bersama (kirab) menuju lapangan desa setempat. Disana, mereka sudah disambut hiburan dari pemain musik tradisional. Di sepanjang kiri dan kanan lapangan tersaji aneka makanan dan jajanan tradisional untuk disantap bersama.

Prosesi ini kerap diminati banyak masyarakat. Bagaimana warga menunaikan kewajibannya untuk membayar pajak dengan balutan budaya kearifan lokal. Bumbung kemudian dibawa oleh Ketua RT dan disetorkan ke kantor pajak setempat. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan makan bersama diiringi langgam jawa serta aksi teatrikal kreativitas warga setempat.

tradisi

Meski harus membayar pajak, warga setempat justru senang bahkan membayar menjadikannya hari yang paling dinanti. “Senang, satu desa bisa kumpul bareng, ramai, guyub dan banyak makanan enak,” tutur Sakim, salah seorang peserta kirab.

Tradisi tahun ini semakin lengkap dengan kehadiran Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamudji. Dikatakan, prosesi  Bobok Bumbung ini telah berjalan lima kali berturut-turut sebagai hasil rembugan antara Kades Pesanggrahan dengan para sesepuh warga setempat. 

Kepala Desa Pesanggrahan, Sarjo, mengatakan pembayaran pajak seperti itu merupakan tradisi warisan leluhur. Dalam praktiknya, warga diberi tahu beberapa bulan sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Bumi dan Bangunan (SPT PBB) diserahkan. Setelahnya, semua warga desa langsung menabung di dalam bumbung dan ketika SPT diberikan, warga sudah siap membayar dari hasil tabungan. 

Salah satu peserta kirab, Karto Mulyono mengaku jumlah tagihan SPT-nya Rp 44 ribu. Selama tiga bulan setelah SPT keluar dia sudah harus mulai menabung. “Nabungnya tidak tentu. Sehari bisa seribu, kadang lima ribu atau dua ribu, yang penting saat harus bayar pajak, jumlahnya sudah mencapapai Rp 44 ribu," tambahnya. 

Warga lainnya, Suko, mengatakan tagihan PBB yang tertera dalam SPT Rp 42 ribu, dulu sekitar Rp 30 ribu namun tahun ini sudah naik, "Saya nabung setiap hari. Besarannya tidak tentu kadang Rp 1000 kalau hanya punya Rp 500 saya masukkan ke bumbung. Makanya isi bumbung saya receh (pecahan logam) semua. Langsung saya serahkan sama bumbungnya ke pak RT lalu kita hitung bareng," katanya.

Desa Pesanggrahan memiliki luas wilayah 153 hektare. Dengan jumlah penduduk sebanyak 4.720 jiwa dan 1.329 KK, sebagian besar warganya adalah petani dan pedagang. Meski sekitar 20-25 persen warga berada dibawah garis kemiskinan, namun mereka tetap taat bayar pajak. 

Kades Sarjo menambahkan, karena menjalankan tradisi warisan leluhur, seluruh warga Pesanggrahan pun tidak merasa keberatan membayar pajak. Bahkan setiap tahun pembayaran pajak, PBB desa Pesanggrahan terus mengalami peningkatan. Tahun lalu penerimaan PBB hanya Rp40 juta. Tahun ini meningkat sekitar 80 persen menjadi Rp70 juta dari 2.056 wajib pajak. 

Gubernur Jateng

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengaku takjub. Dia menyebut tradisi Bobok Bambu merupakan peristiwa budaya yang sangat langka. "Belum pernah menemukan ada pembayaran pajak secara serempak seluruh warga desa yang dipadu dengan kebudayaan dan kesenian," katanya. 

Perpaduan budaya dan penerapan kegiatan pemerintahan tersebut, dinilai sebagai satu-satunya cara pembayaran pajak unik di Indonesia. “Saya kemarin dikasih tahu ditawari untuk datang. Karena acaranya unik saya langsung mengiyakan (untuk datang). Sebab ini acara langka, ada orang membayar pajak dengan pesta, suka rela dan suka cita," selorohnya.***

Bagikan: