Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya berawan, 20.5 ° C

Teknologi Nano dan Plasma, Solusi bagi Pewarnaan Industri Tekstil

Mukhijab
PEKERJA menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat, 4 Januari 2019.*/ANTARA
PEKERJA menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat, 4 Januari 2019.*/ANTARA

YOGYAKARTA, (PR)- Imej tentang industri tekstil sebagai sumber pencemaran lingkungan terutama pencemaran sungai harus diatasi dengan mengubah teknologi pewamaan tekstil. Di antaranya menggunakan komposisi ramah lingkungan berupa teknologi nano dan plasma. Kedua teknologi tersebut tidak memerlukan air yang berlebihan seperti teknologi pewarnaan tekstil celup.

Ketua Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Industri Unversitas Islam Indonesia (FTI UII) Suharno Rusdi menyatakan, pengalaman pabrik-pabrik tekstil di Bandung yang divonis mencemari Sungai Citarum harus diambil hikmah dan pelajaran, dengan menghadirkan teknologi nano dan plasma ke industri tekstil.

"Selama ini pabrik tekstil dianggap mencemari Sungai Citarum. Dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, namun bisa membuat produk tekstil menjadi tidak kompetitif di pasar. Dampak berikutnya hampir 30 persen pabrik tekstil tutup," ujar dia saat membuka Program Studi Rekayasa Tekatil di FTI UII Yogyakarta, Selasa, 5 Maret 2019.

Menurut Suharno peran perguruan tinggi penting untuk menyinergikan teknologi altermatif seperti teknologi tekstil ramah lingkungan nano dan plasma. Kalaupun memerlukan air, dua teknologi ini hemat air dan tidak perlu membuang air bekas pewarna ke sungai. Dengan teknologi nano, pewarnaan tekstil disemprot layaknya pewarnaan bodi mobil. Begitu juga dengan teknologi plasma, pewarnaan tekstil menggunakan uap gas.
 

SUHARNO Rusdi

Problem SDM

Perihal teknologi nano dan plasma seperti itu akan masuk dalam silabus prodi "Rekayasa Tekstil" yang mulai dibuka tahun akadermik 2019 di FTI UII. Selain memadukan kurikulum rekayasa tekstil berbasis teknologi nano dan plasma, prodi ini untuk menjawab kekurangan tenaga ahli tekstil.

"Ada anomali sumber daya industri tekstil para tenaga ahlinya mayoritas memasuki masa pensiun, akibatnya industri tekstil kekurangan tenaga ahli. Sementara industri nasional menuntut kelangsungan industri teksil yang berbasis pada tenaga ahli dalam negeri," ujar Suharno. Sedangkan kekosongan tenaga ahli tekstil dalam negeri dimanfaatkan oleh tenaga ahli tekstil yang didatangkan dari India.

Prodi Rekayasa Tekstil FTI UI menjadi bagian yang diarahkan untuk menjawab suplai tenaga ahli tekstil meskipun basis pendidikannya strata satu atau lebih menekankan pada keilmuan tekstil. Dengan berbagai rekayasa kurikulum seperti kuliah teknologi nano dan plasma, diperkuat dengan praktik di laboratorium
serta kerja lapangan, mahasiswa prodi ini diharapkan siap menjadi tenaga ahli tekstil.

UII  penah memiliki Fakultas Teknologi Tekstil pada 1975. Karena alasan administri di kementerian terkait, fakultas tersebut diturunkan meniadi prodi teknologi tekstil (1985), diubah jagi menjadi konsentrasi teknik tekstil (1995). Sejauh ini terdapat sejumlah perguruan tinggi vokasi namun kebutuhan tenaga ahli tekstil belum terpenuhi.

Dekan FTI Hari Purnomo menyatakan pembukaan prodi rekayasa tekstil UII bisa menjadi jalan universitas lain membuka prodi sejenis dengam beda konsentrasi karena pembukaan prodi ini diikuti dengan pembuatan nomenklatur di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.*** 

Bagikan: