Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Umumnya berawan, 21.6 ° C

Balai Karantina Cilegon Musnahkan Dua Sapi Berpenyakit Brucellosis

Tim Pikiran Rakyat
KEPALA BKP Kelas II Cilegon Raden Nurcahyo Nugroho saat memusnahkan dua ekor sapi di instalasi karantina BKP Kelas II Cilegon.*/SIGIT ANGKI NUGRAHA/KB
KEPALA BKP Kelas II Cilegon Raden Nurcahyo Nugroho saat memusnahkan dua ekor sapi di instalasi karantina BKP Kelas II Cilegon.*/SIGIT ANGKI NUGRAHA/KB

CILEGON, (PR).- Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Cilegon kembali menemukan sapi berpenyakit Zoonosis Brucellosis SP. Kali ini, BKP mendapati dua ekor sapi ras Bali yang hendak dikirim ke Palembang, Sumatera Selatan, dan Duri, Riau, mengandung bakteri yang mampu berpengaruh medis kepada manusia ini.

Karena itulah, BKP Kelas II Cilegon memusnahkan dua ekor sapi tersebut, Rabu 27 Februari 2019, pukul 21.00 WIB di instalasi karantina BKP Kelas II Cilegon. Kepala Seksi (Kasi) Karantina Hewan pada BKP Kelas II Cilegon Rifky Danial mengatakan, pemusnahan dua ekor sapi ini menindaklanjuti hasil pemerikaan laboratorium.

"Kami berupaya mencegah terjadinya serangan atau penularan Brucellosis ke Sumatera. Ini sangat penting karena Sumatera adalah wilayah Bebas Brucellosis,” kata Rifky kepada Wartawan "Kabar Banten", Kamis 28 Februari 2019.

Dikatakan Rifky, tindakan BKP melakukan pemotongan bersyarat dilakukan setelah dipastikan dengan beberapa tahap pengujian laboratorium. Yakni melalui pemeriksaan Rose Bengal Test (RBT) di Laboratorium Karantina Cilegon, dengan hasil uji positif.

"Selain itu, kami juga melakukan pengujian CFT (Complement Fixation Test) di Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor dan dinyatakan positif,” ujarnya.

Menurut Rifky, mulanya di 9 Februari 2019, petugas karantina hewan memeriksa 90 ekor sapi lokal asal Bekasi yang hendak dikirim ke Palembang dan Riau. Setelah pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik, petugas melakukan pengambilan sampel darah 100 persen ekor sapi untuk dilakukan pengujian RBT. 

Hasilnya, dari 90 ekor sapi tersebut dua ekor positif RBT. Sementara itu 88 ekor dinyatakan negatif uji kemudian diberikan sertifikat kesehatan hewan dan diperbolehkan untuk dikirim ke Sumatera.

"Sedangkan dua ekor sapi yang positif tetap dalam pengawasan petugas di Instalasi Karantina Hewan. Sampel darah dari dua ekor sapi positif uji RBT kemudian dikirim ke Balitvet Bogor untuk dilakukan pengujian CFT lanjutan dan didapat hasil dua ekor positif CFT. Kami juga akan melakukan laporan hasil pemeriksaan dan pemotongan bersyarat kami ke Karantina Bekasi, yang menjadi asal hewan tersebut,” tuturnya.

Mengakibatkan kemandulan pada manusia

Ditambahkan Rifky, Brucellosis bisa menular kepada sapi. Pada sapi, bisa menyebabkan kematian. Semantara itu, pada orang bisa menyebabkan demam dan kemandulan, ketika mengonsumsi daging yang tidak dimasak.

“Makanya sapi ini kami potong, agar tidak ada penularan baik ke hewan maupun manusia,” katanya.

Sementara itu, Kepala BKP Kelas II Cilegon Raden Nurcahyo Nugroho mengatakan, Brucellosis merupakan penyakit bakterial yang utamanya menginfeksi sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Di Indonesia, Brucellosis paling umum ditemukan pada ternak sapi dan sering dikenal sebagai penyakit Keluron Menular.

"Penyakit ini dapat ditularkan ke manusia atau bersifat zoonosis. Brucellosis pada manusia dikenal sebagai undulant fever karena menyebabkan demam yang undulans atau naik-turun," katanya.

Di tempat yang sama, Iskandar Zulkarnain selaku pemilik sapi tersebut mengatakan, cukup kaget dengan temuan pihak BKP Kelas II Cilegon. Sebab, sapi yang dibelinya di Bekasi sudah dinyatakan sehat oleh dokter hewan di Pasar Induk Cibitung, Bekasi. 

“Namun saat mau dikirim ke Palembang sama Riau saat diperiksa di Karantina Cilegon dinyatakan berpenyakit (Brucellosis),” ujarnya.(Sigit Angki Nugraha)***

Bagikan: