Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sebagian cerah, 31.1 ° C

Debat Pilpres 2019 Ronde 2, Kedua Kubu Komentari Unicorn dan Tanah

Muhammad Ashari
JOKO Widodo dan Prabowo berjabat tangan seusai mengikuti debat Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019.*/ANTARA
JOKO Widodo dan Prabowo berjabat tangan seusai mengikuti debat Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Seusai debat, juru bicara dari kedua kubu mengadakan jumpa pers. Kubu Jokowi-Ma’ruf Amin diwakili Muhammad Zainul Majdi, Moeldoko, dan Tsamara Amany. Kubu Prabowo-Sandiaga Uno diwakili Fery Mursidan Baldan, Sudirman Said, dan Dahnil Anzar Simanjuntak.

Moeldoko mengatakan, dalam debat, Jokowi dinilai bisa menunjukkan kepemimpinan. Jokowi dinilainya bisa menunjukkan persoalan sekaligus memaparkan solusinya.

“Sangat clear. Beliau memahami dengan sangat mendalam persoalan bangsa. Begitu ada persoalan, ada solusi. Tidak semua orang bisa melakukan seperti itu,” ujarnya.

Tsamara Amany mengapresiasi Jokowi yang menyentuh persoalan start up. Menurut dia, dengan mengangkat persoalan seperti unicorn, Jokowi dinilai memahami dunia anak muda.

“Jokowi memahami bagaimana mendorong start up unicorn Indonesia untuk bisa terus bergengsi di arena internasional,” ujarnya.

Muhammad Zainul Majdi menilai Jokowi mampu memahami permasalahan secara komprehensif dalam debat. Dalam hal ini, ia mencontohkan tentang isu pangan. Menurut dia, Jokowi memahami bila isu pangan adalah terkait keseimbangan dan bagaimana persoalan pasokan tidak merugikan masyarakat konsumen dan juga tidak merugikan produsen.

Siap mengembalikan

Dari kubu BPN, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, Prabowo tetap dalam posisi tidak ingin menyerang pribadi dan tetap mempertahankan sikap yang baik dalam debat.

Ia menilai, Jokowi yang justru banyak melakukan serangan pribadi dan cenderung bernuansa fitnah ketika menuduh Prabowo memiliki tanah. Padahal, tanah itu adalah HGU.

“Dan itu milik negara. Beliau sedang mengelolanya dengan baik dan berkomitmen bersedia mengembalikannya bila diminta oleh negara. Kalaupun harus diminta negara, beliau dengan ksatria akan mengembalikannya,” katanya.

Fery Mursidan Baldan menilai, moderator debat seharusnya dievaluasi karena lebih banyak memotong pernyataan. Pemotongan pernyataan itu dinilainya mengganggu ritme debat.

“Saya kira, debat untuk mencerdaskan pemilih, bukan soal ketepatan waktu. Jadi cukup kode,” ujarnya.

Sudirman Said mengatakan, meski Prabowo diserang, diatetap menjaga tujuan debat yakni menyampaikan visi dan misi dan rencana bangsa ke depan. Ia juga memuji Prabowo yang dinilai konsisten melihat persoalan bangsa.

“Persoalan kita yang utamanya adalah persoalan 40% ke bawah, para petani, nelayan, orang-orang kecil,” ujarnya.***

Bagikan: