Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sedikit awan, 20.3 ° C

Paparan Polusi Udara Faktor Penyebab Kanker Paru-paru

Siska Nirmala
SUASANA gedung bertingkat terlihat samar oleh selimut kabut dan asap polusi di Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Greenpeace Indonesia menyatakan berdasarkan data dari pemantau kualitas udara AirVisual pada Selasa, 24 Juli 2018 lalu, Jakarta menjadi kota dengan polusi tertinggi di dunia dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) 183, disusul Krasnoyarsk, Russia, dengan 181, kemudian Lahore, Pakistan sebesar 157.*/ANTARA
SUASANA gedung bertingkat terlihat samar oleh selimut kabut dan asap polusi di Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Greenpeace Indonesia menyatakan berdasarkan data dari pemantau kualitas udara AirVisual pada Selasa, 24 Juli 2018 lalu, Jakarta menjadi kota dengan polusi tertinggi di dunia dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) 183, disusul Krasnoyarsk, Russia, dengan 181, kemudian Lahore, Pakistan sebesar 157.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Polusi udara di perkotaan menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya penyakit kanker paru-paru apabila terakumulasi di tubuh seseorang secara terus menerus dalam jangka panjang.

"Berdasarkan data internasional, sekitar 3-5 persen penderita kanker paru-paru berhubungan dengan pajanan polusi udara," kata Ketua Departemen Paru Fakultas Kedokteran UI RSUP Persahabatan, DR dr Agus Dwi Susanto Sp.P(K), FAPSR, FISR, Selasa, 12 Februari 2019.

Bahkan, data hasil penelitian di RSUP Persahabatan pada 2013 terhadap 300 penderita kanker paru-paru yang terbukti, sebanyak 4 persen pasien biasa terpapar polusi udara.

"Sekitar 12 dari 300 orang, penyebab kankernya itu berhubungan dengan polusi udara," kata Agus.

Dia menyatakan, saat ini salah satu yang menjadi pembahasan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa kanker bisa muncul karena dampak dari polusi udara.

Polutan yang paling berpengaruh terhadap penyakit kanker ialah particulat matter (PM) 2,5 atau partikel halus dengan ukuran di bawah 2,5 mikron yang bisa masuk ke dalam organ-organ dalam tubuh manusia.

"PM 2,5 kalau terhirup dari saluran napas, selama kontinyu dia akan merangsang terjadinya perubahan sel yang ada di dalam saluran napas dan paru-paru dari yang normal menjadi abnormal, terjadilah dia kanker," ujar Agus.

Agus yang merupakan Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengatakan PM 2,5 dianggap partikel yang bersifat iritasi dan sebagian partikel-partikel tersebut bersifat karsinogen.

Selain berpengaruh terhadap perubahan sel normal menjadi sel kanker, PM 2,5 juga dikaitkan dengan peningkatan kejadian penyakit jantung dan stroke.

Oleh karena itu, Agus menyarankan agar masyarakat bisa melakukan pencegahan dampak buruk dari polusi udara. Utamanya, menurut dia, mulai dari individu dengan menjaga pola hidup sehat guna membangun imunitas tubuh yang optimal.

"Dengan pola hidup sehat daya tahan tubuh kita sehat, imunitas kita lebih bagus, fungsi imun untuk menangkal bahan-bahan berbahaya dari luar bisa maksimal," kata Agus.

Dia menyarankan agar masyarakat juga menghindari terlalu lama berada di luar pada wilayah dan saat terjadi polutan tinggi, menggunakan masker, dan berolahraga.

Agus menyarankan masyarakat berolahraga setiap akhir pekan di tempat yang memiliki kadar oksigen tinggi untuk menyeimbangi polutan yang terhirup selama hari bekerja.***

Bagikan: