Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Badai petir, 28.3 ° C

Beban Citarum Empat Kali Lipat dari Daya Tampung Pencemaran

Puga Hilal Baihaqie
FOTO udara limbah pabrik yang dibuang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Rancamanyar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu, 3 Februari 2019. Satgas Citarum Harum berhasil mengungkap 58 kasus pelanggaran pembuangan limbah oleh pabrik ke DAS Citarum selama 2018, dan 19 kasus diantaranya sudah diteruskan ke pengadilan.*/ANTARA
FOTO udara limbah pabrik yang dibuang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Rancamanyar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu, 3 Februari 2019. Satgas Citarum Harum berhasil mengungkap 58 kasus pelanggaran pembuangan limbah oleh pabrik ke DAS Citarum selama 2018, dan 19 kasus diantaranya sudah diteruskan ke pengadilan.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat setiap harinya  pencemaran air yang masuk ke aliran Sungai Citarum mencapai 430,99 ton. Sementara kemampuan sungai yang memiliki panjang sekitar 300 km itu hanya memiliki daya tampung limbah sebesar 124, 44 ton perhari.

Dengan kondisi tersebut beban Sungai Citarum hampir empat kali lipat dari kemampuannya untuk menampung pencemaran air.

“Harus ada regulasi dan aturan yang mengikat dalam menangani permasalahan tersebut terutama untuk mengatur masyarakat yang hidup di bantaran Sungai Citarum. Selain itu kami juga akan berbicara Kementerian Pekerjaan Umum agar para pengembang perumahan untuk menyiapkan lahan untuk sarana pembuatan instalasi pembuangan air limbah (IPAL) komunal, disamping ruang terbuka hijau,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar di Jakarta, Minggu, 10 Februari 2019.

Dari catatan KLHK ada sekitar 40 persen masyarakat yang mendiami di bantaran Sungai Citarum, mereka berkontribusi terhadap pencemaran sungai di samping masih adanya perusahaan-perusahaan nakal yang membuang limbahnya ke Citarum secara sembunyi-sembunyi.

Selanjutnya pemerintah tidak bisa memindahkan masyarakat ke tempat lain, walapun sebagian besar yang tinggal di bantaran sungai menempati tanah negara. Menteri Siti Nurbaya mengatakan pihaknya akan mendorong para aktivis lingkungan untuk membantu masyarakat dalam penangan persolan lingkungan.

“Kami melihat sudah banyak aktivis yang bergerak dalam menangani persoalan pencemaran  Sungai Citarum. Negara harus hadir bersama mereka. KLHK akan berbicara dengan Kementerian BUMN agar perusahaan-perusahaan di bawah BUMN bisa menjadi gerda terdepan dalam memberikan CSR untuk penanggulangan lingkungan. Kami yakin perusahaan-perusahaan swasta juga akan ikut bergerak,” ujar Siti.

Pihak KLHK menyebutkan untuk aliran Sungai Citarum sudah ada 265 IPAL komunal yang di buat oleh para aktivis lingkungan. Jumlah itu masih kurang, sebab untuk sungai dengan panjang 300 km dan lebar rata-rata 200 meter, diperlukan satu juta IPAL komunal dengan lahan mencapai 60.000 hektar.

Bila beban untuk penyediaan lahan itu dibebankan kepada masyarakat hal itu tentunya tidak bisa terwujud. Hal tersebutlah yang menjadi kendala para aktivis lingkungan ketika akan membuatkan IPAL komunal bagi masyarakat. 
Oleh karenanya pembuatan aturan hukum menjadi sangat penting, sehingga negara benar-benar hadir untuk menyelamatkan daerah aliran sungai.

Sementara itu Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan pada KLHK Karliansyah menuturkan seluruh perusahan-perusahan yang membuang limbah ke Sungai Citarum sudah dilengkapi dengan IPAL, sehingga seharusnya air yang masuh ke sungai sudah sesuai dengan baku mutu.

Namun pihaknya juga tidak bisa menutup kemungkinan adanya perusahan-perusahaan yang nakal dengan langsung membuang limbah tanpa pengolahan saat hujan tiba. Padahal perusahaan tersebut memiliki sarana IPAL.

“Kalau masih ada perusahaan yang mengakal-akali apalagi dengan membuat saluran “pipa siluman” maka laporkan ke KLHK, kami akan memberikan sanksi,” kata Karliansyah.***

Bagikan: