Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Hujan singkat, 28.3 ° C

Terima Kasih Sudah Merokok, Indonesia Kini Hadapi Persoalan Serius

Yusuf Wijanarko
Rokok/REUTERS
Rokok/REUTERS

JAKARTA, (PR).- Manajer proyek senior Bali Tobacco Control Initiative (BTCI), Putu Ayu Swandewi mengatakan, Indonesia menghadapi persoalan serius terkait rokok tembakau.

Negara-negara Asia, terutama Indonesia, menghadapi permasalahan yang serius terkait rokok tembakau.

“Dua pertiga laki-laki dewasa di Indonesia adalah perokok. Indonesia menyumbang separuh dari jumlah perokok dewasa di kawasan Asia Tenggara," kata Putu Ayu Swandewi di Jakarta, Sabtu 9 Februari 2019 seperti dilaporkan Antara.

Dia menjelaskan, setiap tahunnya diperkirakan ada 200.000 kematian yang diakibatkan oleh rokok.

Dilihat dari prevalensinya, jumlah perokok yang berumur di bawah 15 tahun juga meningkat secara signifikan selama beberapa tahun belakangan.

Rokok/REUTERS

Kementerian Kesehatan, pada 2017 menyatakan, lebih dari 36 persen populasi dewasa di Indonesia merupakan perokok.

Oleh karena itu, kata dia, perlu upaya untuk semakin meningkatkan pencegahan kebiasaan merokok.

Sejumlah metodenya yaitu Cold Turkey atau berhenti langsung secara total. Namun, hingga saat ini belum ada upaya yang benar-benar terbukti sukses mengurangi angka perokok.

Penelitian yang diterbitkan Nicotine and Tobacco Research pada 2007 menyebut, sejumlah peneliti mewawancarai lebih dari 8.000 perokok dewasa dari 4 negara yang sedang mencoba berhenti merokok.

Penelitian tersebut menemukan bahwa 68,5 persen perokok mencoba berhenti dengan metode Cold Turkey , tetapi hanya 22 persen di antaranya yang berhasil.

Berhenti karena dukungan lingkungan

Seorang profesor dan Direktur Kebijakan Kesehatan Mental di Stanford University, Keith Humphreys pernah menulis suatu artikel yang mengatakan bahwa kelompok kelas menengah ke atas memiliki kemungkinan berhasil berhenti merokok yang lebih tinggi karena lingkungan sekitar mereka yang cenderung lebih suportif.

Hal itu tidak dirasakan kelompok masyarakat menengah ke bawah. Keadaan tersebut semakin dipersulit dengan rendahnya tingkat pendidikan dan pemahaman mereka mengenai bahaya merokok yang dapat mengakibatkan kanker, gangguang jantung, paru-paru, serta penyakit tidak menular lainnya.

Putu Ayu Swandewi menjelaskan, selama beberapa tahun terakhir, sejumlah praktisi kesehatan masyarakat telah memperkenalkan suatu pendekatan yang meminimalkan risiko dan dampak negatif merokok tembakau.

Rokok/REUTERS

Pendekatan itu yakni melalui Electronic Nicotine Delivery System (ENDS) dan produk heat-not-burn guna membantu para perokok secara perlahan mengurangi ketergantungan dan kebiasaan mereka dalam merokok tembakau.

Usulan itu antara lain diajukan berdasarkan hasil penelitian oleh Public Health of England (PHE), Departemen Kesehatan dan Kepedulian Sosial Inggeris yang menemukan bahwa rokok elektrik 95 persen lebih rendah risiko dibandingkan dengan rokok biasa.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa meski rokok elektrik tidak sepenuhnya bebas risiko, produk tersebut secara signifikan lebih rendah risiko dan dapat membantu mereka yang ingin berhenti merokok.

Pendekatan Tobacco Harm Reduction telah berhasil diadopsi di berbagai negara seperti Inggris, sebagai bagian dari kebijakan kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk membatasi peningkatan jumlah perokok.

"Di Indonesia, terdapat kebutuhan akan penelitian yang bersifat lokal dan dapat memberikan kejelasan mengenai produk seperti rokok elektronik ini, serta bagaimana produk tersebut dapat berdampak pada perokok dewasa," kata Putu Ayu Swandewi.***

Bagikan: