Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Sedikit awan, 22.9 ° C

Terdata 26 Korban Tewas dalam Banjir di Sulawesi Selatan

Tim Pikiran Rakyat
Tim relawan mengevakuasi warga yang terjebak banjir di Perumahan Bung Permai, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 23 Januari 2019. Ketinggian banjir di kawasan tersebut mencapai satu meter akibat meluapnya Sungai Tello./ANTARA FOTO
Tim relawan mengevakuasi warga yang terjebak banjir di Perumahan Bung Permai, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 23 Januari 2019. Ketinggian banjir di kawasan tersebut mencapai satu meter akibat meluapnya Sungai Tello./ANTARA FOTO

MAKASSAR, (PR).- Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPB) Sulawesi Selatan Syamsibar mengatakan dampak bencana banjir dan tanah longsor di 10 kabupaten/kota di Sulsel telah memakan korban sebanyak 26 orang meninggal dunia.

"Sebanyak 26 korban meninggal itu berasal dari tiga kabupaten masing-masing Kabupaten Gowa (12 orang), Jeneponto (10 orang) dan Maros sebanyak 4 orang. Jadi sampai saat ini data masuk yang kita rilis itu ada 26 orang korban meninggal dunia," katanya di Makassar, Kamis 24 Januari 2019.

Sementara itu data yang dirilis BPBD Sulsel melalui Crisis Media Center pemprov hingga 23 Januari 2019, pukul 23.10 WITA, total korban terdampak bencana banjir sebanyak 3.914 kepala keluarga (KK) atau 5.825 jiwa, 26 orang meninggal dunia, 24 orang hilang, sakit 46 orang dan korban yang mengungsi 3.321 jiwa.

"Korban terdampak bencana yang mengungsi di atas 3.000 dan Alhamdulillah curah hujan sudah tidak seperti sebelumnya. Intensitasnya hujan sudah mulai menurun dan Bendungan Bili-bili elevasinya juga sudah turun dan berada dalam kondisi normal," kata Syamsibar.
Tim relawan mengevakuasi warga yang terjebak banjir di Perumahan Bung Permai, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 23 Januari 2019. Ketinggian banjir di kawasan tersebut mencapai satu meter akibat meluapnya Sungai Tello./ANTARA FOTO

Upaya evakuasi dilakukan

Hingga 24 Januari 2019 pukul 04.50 WITA , tinggi muka air Bendungan Bili-bili +99.45 (normalnya 99,50), volume air waduk sekitar 248.59 meter kubik inflow sekitar 246.66 meter kubik/detik serta outflow sekitar 246.70/detik. Dan status telah diturunkan menjadi di bawah normal dan tinggi bukaan pintu dikurangi menjadi 2.0 m.

Ia mengatakan upaya pertolongan masih terus dilakukan, termasuk di daerah yang terjadi longsoran. Sampai saat ini masih terus dilakukan pencarian yang dilakukan tim dari berbagai unsur baik TNI Polri, BPBD, Basarna maupun Tagana.

"Untuk melakukan pencarian semua kita libatkan, termasuk masyarakat dan kita koordinasi dengan Bupati Gowa Adnan Purictha Ichsan Yasin Limpo dan kita berharap semua bisa dievakuasi. Dan ini masih dalam tahap pencarian," ujarnya.

Dia mengatakan jalur Makassar-Sungguhminasa dan Malino sudah terbuka.

Data dari BNPB, hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang dan gelombang pasang menyebabkan 53 kecamatan di 9 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan diterjang banjir.

Beberapa wilayah di Sulawesi Selatan yang mengalami banjir yaitu di Kabupaten Jeneponto, Gowa, Maros, Soppeng, Barru, Wajo, Bantaeng, Pangkep dan Kota Makassar.

Berdasarkan keterangan resmi yang disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho itu, jumlah yang terdata baru dampak sementara.

“Di Kabupaten Jeneponto, banjir melanda 21 desa di 10 kecamatan yaitu Kecamatan Arung Keke, Bangkala, Bangkala Barat, Batang, Binamu, Tamalatea, Tarowang, Kelara, dan Turatea dengan tinggi banjir 50  sentimeter hingga 2 meter,” ungkap Sutopo dalam keterangan resmi yang diterima “PR”, Rabu 23 Januari 2019.

Sutopo menambahkan, banjir akibat hujan deras yang mengakibatkan sungai-sungai meluap, di antaranya Sungai Topa, Allu, Bululoe, Tamanroya, Kanawaya, dan Tarowang. Dampak yang ditimbulkan adalah 5 orang meninggal dunia, 3 orang hilang, 5 rumah hanyut, 51 rumah rusak berat, ribuan warga mengungsi dan ribuan rumah terendam banjir.

“Evakuasi, pencarian, penyelamatan dan distribusi bantuan masih terus dilakukan. Banyak warga yang mengungsi sementara di atap rumah sambil menunggu dievakuasi. Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan lainnya melakukan penanganan darurat,” kata dia.

Tim relawan mengevakuasi seekor anjing yang terjebak banjir di Perumahan Bung Permai, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 23 Januari 2019. Ketinggian banjir di kawasan tersebut mencapai satu meter akibat meluapnya Sungai Tello./ANTARA FOTO

Ribuan warga mengungsi

Di Kota Makassar, lanjut Sutopo, banjir melanda 14 kecamatan yaitu Kecamatan Biringkanaya, Bontoloa, Kampung Sangkarang, Makassar, Mamajang, Manggala, Mariso, Pankkukang, Rampocini, Tallo, Tamalanrea, Tamalate, Ujung Pandang, dan Ujung Tanah. Sekitar 1.000 jiwa warga mengungsi. Banjir juga disebabkan hujan deras kemudian sungai-sungai yang bermuara di Kota Makassar meluap.

Kemudian di Kabupaten Gowa, banjir melanda 7 kecamatan yaitu Somba Opu, Bontomanannu, Pattalasang, Parangloe, Palangga, Tombolonggo, dan Manuju. Sekain hujan deras, banjir juga disebabkan dibukanya pintu Waduk Bili-Bili karena terus meningkat volume air di waduk sehingga untuk mengamankan waduk maka debit aliran keluar dari Waduk Bili-Bili ditingkatkan. Saat ini, lanjut dia, debit dan volume Waduk Bili-Bili terus menurun.

Banjir di Kabupaten Marros melanda 11 kecamatan. Lebih dari 1.400 orang mengungsi. Pendataan pun masih dilakukan. Saat ini, kata Sutopo, listrik padam sehingga komunikasi terputus. Posko BNPB terus berkoordinasi dengan Pusdalops BPBD wilayah. Tim Reaksi Cepat BNPB mendampingi BPBD. Penanganan darurat masih terus dilakukan oleh tim gabungan. BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan, dan lainnya melakukan penanganan darurat.

“Perahu karet dan bantuan makanan untuk pengungsi masih diperlukan. Korban hilang masih dilakukan pencarian. Kondisi hujan yang masih berlangsung dan luasnya wilayah yang terkena banjir cukup menyulitkan dalam penanganan,” ujar dia.

Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi banjir dan tanah longsor. BMKG telah menyebarkan peringatan dini hujan lebat pada interval 23 Januari hingga 30 Januari 2019. Sebagian besar wilayah Indonesia puncak hujan berlangsung selama Januari hingga Februari 2019. Secara statitisk dari data kejadian bencana selama 20 tahun terakhir menunjukkan bahwa selama bulan Januari dan Februari adalah puncak dari kejadian bencana hidrometeorologi yaitu banjir, longsor dan puting beliung. Polanya mengikuti dari pola curah hujan.***

Bagikan: