Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Sedikit awan, 23.8 ° C

Pilpres 2019, Pemilih Golput Diprediksi Meningkat

Siska Nirmala
PETUGAS melakukan pengecekan kualitas surat suara Pilpres 2019 saat pencetakan surat suara di Jakarta, Minggu, 20 Januari 2019. Komisi Pemilihan Umum (KPU) resmi memproduksi surat suara Pilpres untuk kebutuhan Pemilu 2019, sebanyak 187.975.930 lembar surat suara. */ANTARA
PETUGAS melakukan pengecekan kualitas surat suara Pilpres 2019 saat pencetakan surat suara di Jakarta, Minggu, 20 Januari 2019. Komisi Pemilihan Umum (KPU) resmi memproduksi surat suara Pilpres untuk kebutuhan Pemilu 2019, sebanyak 187.975.930 lembar surat suara. */ANTARA

JAKARTA, (PR).- Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Arief Maulana memperkirakan jumlah pemilih golput pada Pilpres 2019 akan mengalami peningkatan dibanding Pilpres 2014.

"Berdasarkan beberapa hal saya kira perdebatan mengenai golput dan sikap golput, tampaknya akan meningkat di tahun 2019 dibandingkan dengan tahun 2014," ujar Arief di Gedung YLBHI Jakarta, Rabu, 23 Januari 2019, seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Arief mengatakan bahwa fenomena global telah menunjukkan golput menjadi salah satu pilihan warga dunia, karena itu merupakan ekspresi dari pilihan mereka terkait pilihan politik.

"Golput dipilih sebagai bentuk koreksi dan itu terjadi dimana-mana, dan setiap tahunnya berdasarkan data fenomena global jumlah pemilih golput memang mengalami peningkatan termasuk di Indonesia," ujarnya.

Lebih lanjut Arief menjelaskan bahwa di beberapa negara termasuk Indonesia, pada umumnya warga memutuskan untuk memilih golput sebagai bentuk kekecewaan terhadap pelaksanaan sistem demokrasi. Karena meskipun dibungkus oleh kata "demokrasi" namun masih banyak pelanggaran ham yang terjadi, kata Arief.

"Selain itu hak warga negara tidak terpenuhi dan korupsi masih banyak terjadi," ucapnya.

Sementara itu bila dikembalikan pada kondisi Indonesia, Arief memaparkan berdasarkan indeks demokrasi Indonesia di tahun 2018 yang dibuat oleh The Economist Intelligence Unit atau EIU, Indonesia mengalami penurunan 20 peringkat dari peringkat 48 menjadi 68.

"Penurunan ini sangat tajam dan memang alasannya berdasarkan riset tadi, bahwa masyarakat tidak puas dengan sistem demokrasi yang berjalan," kata Arief.

Dia mengatakan, pada Pilpres 2014 masyarakat Indonesia merasa ada harapan baru, namun selama empat tahun terakhir indeks demokrasi Indonesia justru mengalami penurunan.

"Dampaknya di Pilpres 2019 ini dengan paslon yang sama seperti Pilpres 2014, harapan itu sepertinya menurun karena banyak yang pesimis dengan Pilpres kali ini," katanya.

Hal itu juga terlihat dengan persoalan hak asasi manusia yang dibiarkan saja dan tidak ditegakkan. "Pembiaran hak asasi manusia ini juga termasuk pelanggaran," ujarnya.***

Bagikan: