Pikiran Rakyat
USD Jual 14.289,00 Beli 14.191,00 | Sebagian cerah, 32.2 ° C

Konsisten dengan Politik Antimahar, Nasdem Optimistis Unggul Raih Suara

Muhammad Irfan
null
null

KEMENANGAN sejumlah kandidat Kepala Daerah yang diusung oleh Partai Nasional Demokrat pada Pemilihan Kepala Daerah 2018 lalu dinilai menjadi modal besar bagi NasDem untuk bertandang di Pemilihan Umum Legislatif 2019, April nanti. Menggaungkan etos politik tanpa mahar, partai yang diketuai oleh Surya Paloh ini akan meningkatkan akselerasi pacu partainya lewat berbagai strategi yang kini telah disiapkan.

Ketua Bidang Media Dewan Pimpinan Pusat Partai NasDem, Willy Aditya menyebut ada harapan besar bagi NasDem di Pileg kali ini. Dengan komposisi calon legislatif yang beragam dan punya popularitas tinggi, NasDem menargetkan setidaknya bisa meraih 20 juta suara dari total suara nasional. Jawa Barat diyakini menjadi satu dari sekian lumbung suara itu.

“Karena konsolidasi dan infrastruktur Partai NasDem yang ada di Jawa Barat termasuk yang cukup bagus,” kata Willy kepada “PR”, Selasa 23 Januari 2019.

Dia tak memungkiri kalau di Pileg 2014, caleg yang lolos dari dapil Jawa Barat ke Senayan hanya satu kursi saja yakni Supiadin Aries Saputra dari Dapil Jabar XI. Kendati demikian raihan suara yang didapat NasDem pada Pileg 2014 dari Jawa Barat cukup tinggi yakni sekitar 1,5 juta suara.

“Ini yang tidak terkonversi dengan baik dan terus menjadi pembahasan di DPP,” ucap dia.

Target masuk akal

Adapun yang menjadi proyeksi di Jawa Barat saat ini adalah meraih setidaknya satu kursi di DPR RI dari masing-masing dapil yang ada di Tatar Pasundan. Jika menilik modal caleg yang kini dimiliki NasDem, target tersebut cukup masuk akal mengingat banyak dari kader-kader yang dicalonkan NasDem di dapil Jabar berasal dari kalangan selebritis, publik figur, hingga politisi gaek.

Sebutlah misalnya ada nama Muhammad Farhan, Arief Suditomo, penyanyi Citra Skolastika, atau aktris Imel Putri Cahyati di Dapil Jabar I atau Dapil Jabar II yang menghadirkan nama mantan penyiar berita Tina Talisa dan Olla Ramlan di Jabar IV. Sementara di kubu non-pesohor, ada nama politisi senior seperti mantan bupati Cianjur dua periode Tjetjep Muchtar Soleh yang bertengger di Dapil Jabar III.

Menurut Willy sebagai partai yang terbilang muda, kekuatan NasDem memang ada di figur calon yang diusung. Sementara Jawa Barat adalah provinsi dengan pemilih yang memang berfokus kepada figur ketimbang partai politik.

“Dan kerja caleg-caleg yang diusung NasDem pun baik-baik. Jadi kalau melihat komposisi caleg dan kekuatan Nasdem yang ada di figur, target ini realistis bisa tercapai,” ucap dia.

Adapun posisi NasDem di Jawa Barat saat ini berdasarkan survei gradual yang terus dilakukan menunjukkan posisi yang cukup bagus. Saan Mustopa sebagai Ketua DPW NasDem Jabar pun telah bekerja dengan sangat baik mendongkrak elektabilitas Nasdem di Bumi Priangan.

“Kang Saan sudah membentuk konsolidasi ini sejak tiga tahun terakhir, dan kekuatan yang dikerahkan NasDem di Pileg 2019 ini jika dibanding dengan Pileg sebelumnya ya naiklah 1:3,” ucap dia.

Efek ekor jas

Sementara itu Willy tak menampik ada efek ekor jas yang didapat NasDem dengan ikut mengusung Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden 2019. Namun, meski begitu Willy menyebut pengaruh kemenangan calon usungan NasDem di Pilkada 2018 justru menjadi poin yang lebih mendongkrak elektabilitas NasDem di sejumlah daerah. 

Salah satunya, Willy mencontohkan kemenangan Ridwan Kamil di Jawa Barat. Seperti diketahui, selain diusung oleh PPP, PKB, dan Hanura, mantan Wali Kota Bandung itu pertama kali dicalonkan sebagai Gubernur Jawa Barat oleh Partai NasDem.

“RK mengkampanyekan politik tanpa mahar yang kita usung dan itu membangun kepercayaan publik pada NasDem. Kami mencalonkan orang-orang yang baik tanpa ada persyaratan mahar,” kata dia.

Nilai positif ini pula yang lantas akan dibawa NasDem di kontestasi Pileg. Selain itu, sejumlah program pelayanan publik yang langsung menyentuh rakyat pun menjadi hal yang selalu digaungkan oleh para caleg ketika menyambangi calon pemilih. Menurutnya sebagai representasi dari pemilih di daerah, para caleg NasDem memang sudah selayaknya menjadi corong yang menyuarakan persoalan mendasar para pemilhnya.

“Jadi lebih ke hal yang tepat sasaran, seperti kesejahteraan petani, nelayan, bukan hal-hal yang bersifat makro,” ucap dia.

Dengan sejumlah strategi ini, NasDem pun tak khawatir dengan ambang batas parlemen 4 persen yang disinyalir akan menjegal sejumlah partai berangkat ke Senayan. Apalagi sebelumnya NasDem telah ikut menyetujui aturan itu bahkan menawarkan ambang batas yang lebih tinggi yakni 7 persen.

“Jadi kami optimistis dan itu tidak masalah. Tipologinya pemilih kami itu kepada tokoh, bukan partai, dan kami punya komposisi Caleg yang baik,” ucapnya.***

Bagikan: