Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Cerah berawan, 29.9 ° C

Gelombang Pasang Akibat Fenomena Supermoon di Yogyakarta Relatif Aman

Wilujeng Kharisma
BULAN purnama terang memerah dan besar saat fajar jelang terjadi gerhana bulan dan fenomena Supermoon terlihat di atas langit Kota Lhokseumawe, Aceh, Senin 23 Januari 2019.*/ANTARA FOTO
BULAN purnama terang memerah dan besar saat fajar jelang terjadi gerhana bulan dan fenomena Supermoon terlihat di atas langit Kota Lhokseumawe, Aceh, Senin 23 Januari 2019.*/ANTARA FOTO

YOGYAKARTA, (PR).- Fenomena supermoon berdampak terhadap kenaikan tinggi gelombang di pesisir selatan setinggi dua meter. Kondisi ini masih terhitung aman, namun nelayan diminta berhati-hati pada saat melaut.

Koordinator SAR Satlinmas Wilayah II DIY, Marjono mengatakan, ada kenaikan gelombang setinggi dua meter. Hanya saja, kenaikan tersebut masih terhitung aman dan tidak berpotensi menimbulkan kerusakan. “Kalau dilihat dari ketinggian, maka kenaikan masih dalam aman,” kata Marjono di Yogyakarta, Rabu 23 Januari 2019.

Marjono mengatakan,  kondisi di kawasan pantai masih relatif aman dan tidak terpengaruh terhadap adanya kenaikan gelombang. Meski demikian, ia meminta kepada nelayan yang melaut untuk berhati-hati.

Salah satu antisipasi yang dilakukan dengan tetap menggunakan alat pengaman diri pada saat melaut. “Gelombang memang masih aman, tapi cuaca kurang bersabat sehingga nelayan harus berhati-hati. Sedang untuk pengunjung tetap waspada dengan tidak bermain di area berbahaya,” ucapnya.

Sarlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah V Kulonprogo mengimbau para pedagang, nelayan dan pengunjung pantai untuk mewaspadai tingginya gelombang laut akibat fenomena supermoon. "Waspada dan hati-hati bila berada di pantai, sebab pasang air laut sewaktu waktu dapat terjadi seperti ombak besar yang terjadi seperti biasanya," kata Koordinator SRI Wilayah V Kulonprogo, Aris Widiatmoko.

Aris mengatakan efek fenomena supermoon ini sempat terlihat di pesisir pantai di Desa Garongan, Kecamatan Panjatan. Tetapi peristiwa kenaikan pasang air laut di pesisir Desa Garongan itu hanya terjadi sebentar, kemudian normal kembali.

Beberapa pedagang juga memilih untuk tutup. Dari pantauannya juga tidak nampak nelayan yang melaut. Namun demikian, hal ini terjadi karena lebih pada faktor cuaca buruk yang beberapa hari terakhir melanda Kulonprogo, khususnya di kawasan pesisir.

"Tapi kalau ini karena cuaca memang sedang tidak baik, hujan terus hanya satu dua yang buka. Ini sebenarnya biasa kok kalau hujan seharian memang tidak buka, tapi klau minggu dan libur buka," tuturnya.

Berdasarkan data BMKG per 22 Januari 2019 pukul 08.15 WIB, tinggi gelombang di pesisir selatan DIY berkisar 2.5 hingga 3.5 meter dengan kecepatan angin dari arah Barat Daya dan Barat 6 - 25 km/jam. Sementara kelembaban udara mencapai 97%. Adapun potensi hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang pada sore hari terjadi di Sleman, Kulonprogo, Bantul dan Gunungkidul. 

Sementara itu, nelayan di Pantai Baron, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam beberapa hari terakhir tidak melaut karena cuaca buruk. "Nelayan untuk saat ini tidak melaut karena dari kemarin sore hujan lebat, hingga hari ini hujan juga tidak berhenti. Padahal gelombang saat ini masih tergolong landai dan aman, ditambah lagi angin laut tadi malam sangat kencang,” ujar Ketua Nelayan Pantai Baron Sumardi.

Kapal tak berani melaut

Sumardi mengatakan grafik angin laut saat ini mecapai 18-20 knott. Kencangnya angin laut membuat hanya beberapa kapal saja yang berani untuk melaut.
   
"Kemarin hanya ada beberapa kapal yang berani melaut, kurang lebih lima kapal. Kelima kapal tersebut biasanya hanya memancing sedangkan kapal yang tidak berani melaut kebanyakan menjaring. Rata-rata tangkapan berkisar 50 kg per kapal,” katanya.
     
Sementara itu, Kepala DKP Gunung Kidul Krisna Berlian mengambil contoh seperti pada tahun lalu, pihaknya hanya mampu memperoleh 3.700 ton tangkapan laut. Adapun pada 2018 tersebut, DKP sebenarnya mentargetkan bisa meraup tangkapan sebesar 4.900 ton. Tidak tercapainya target tangkapan ikan disebabkan adanya rentetan bencana yang terjadi di Indonesia.

Selain itu, produksi ikan  air tawar pada 2018 dari 12.000 ton ikan yang ditargetkan, hanya mampu tercapai 11.000 ton. "Hal itu terjadi karena adanya fenomena banjir yang mulai terjadi di wilayah Gunung Kidul dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini," ucapnya.***

Bagikan: