Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Umumnya berawan, 15.9 ° C

Pilpres 2019, Masukan untuk Debat Kedua Terus Dibahas

Muhammad Irfan
CAPRES nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) dipijat pasangan cawapresnya Sandiaga Uno saat jeda Debat Pertama Capres & Cawapres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis, 17 Januari 2019. Debat tersebut mengangkat tema Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.*/ANTARA
CAPRES nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) dipijat pasangan cawapresnya Sandiaga Uno saat jeda Debat Pertama Capres & Cawapres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis, 17 Januari 2019. Debat tersebut mengangkat tema Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Komisi Pemilihan Umum terus mengolah format yang akan digunakan pada debat Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia kedua yang akan digelar 17 Februari nanti. Sejumlah masukan pun datang dari partai pengusung masing-masing kandidat. Mulai dari format tarung bebas hingga pemilihan panelis yang mesti lebih independen.

Sekretaris Jenderal Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso yang mendukung pasangan Nomor Urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno misalnya mendorong agar debat capres putaran kedua diselenggarakan lebih terbuka dan tidak kaku. Dia pun menyebut format tarung bebas yakni, setiap paslon diperkenankan untuk menyampaikan visi misi besarnya dalam memimpin Indonesia lima tahun ke depan. 

"Kalau diperlukan kami menawarkan format debat free fight, tarung bebas di antara pihak-pihak, karena debat kedua ini head to head antara Pak Prabowo dan Pak Jokowi, calon presiden pemimpin republik ini," kata Priyo dalam Koalisi Berbicara 'Cuma Janji atau Indonesia Menang' di Prabowo-Sandi Media Center, Jalan Sriwijaya I, Jakarta Selatan, Selasa, 22 Januari 2019.

Menurut dia, dengan begitu para kandidat bisa mengeksplorasi tekad-tekad dan mimpi-mimpi besar dalam koridor yang disetujui oleh kedua belah pihak. Priyo menjelaskan, format debat seperti di atas diperlukan untuk menjawab keraguan masyarakat yang menyaksikan calon pemimpinnya membawa banyak kertas contekan saat debat capres perdana.

"Ini debat pemimpin besar negeri yang begitu majemuk, dengan berbagai warna suku. Tidak enak kita melihat, kemudian tertangkap kamera, calon pemimpin negara ini menjawab hanya membaca contekan," kata mantan Wakil Ketua DPR RI ini.

PASANGAN capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Ma'ruf Amin menjawab pertanyaan saat Debat Pertama Capres & Cawapres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1/2019). Debat tersebut mengangkat tema Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.*/ANTARA

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Faldo Maldini mendorong agar debat capres digelar di ruang-ruang akademis dan ruang-ruang publik. Hal itu perlu dilakukan agar visi misi yang disampaikan paslon bisa lebih membumi.

"Kita ingin melihat mereka (paslon) itu semakin sering diuji. Kalau di kampus bisa diuji gagasan akademisnya, atau di pangkalan ojek, bisa diuji pemimpin ini bukan hanya gimik aja," kata Faldo.

Adapun dari kubu pendukung Capres Cawapres Nomor Urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin meminta panelis yang akan diajukan pada debat kedua tak terindikasi partisan salah satu kandidat. Sebelumnya diketahui, KPU sempat memunculkan mantan pimpinan KPK Bambang Widjojanto sebagai panelis didebat pertama. Namun nama Bambang dicoret setelah pihak nomor urut 01 keberatan karena Bambang disebut berafiliasi dengan kandidat nomor urut 02.

"Yang utama adalah proses dijalankan dengan memastikan prinsip keadilan, profesional, independen, tidak partisan dan memiliki kompetensinya," kata Direktur Juru Kampanye Nasional TKN Daniel Johan kepada wartawan, Selasa, 22 Januari 2019.

Daniel menegaskan TKN siap dengan apa pun keputusan KPU. Namun dia meminta keputusan KPU harus sesuai dengan peraturan yang berlaku. 

"Prinsipnya kami siap apa pun metodenya, yang penting sesuai UU dan peraturan yang ada," ucap Wasekjen PKB itu.***

Bagikan: