Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya berawan, 27.8 ° C

Efek Abu Bakar Ba'asyir Dinilai Tak Sekuat Dulu

Siska Nirmala Puspitasari
KUASA hukum capres Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, Yusril Ihza Mahendra (kanan) mengunjungi narapidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir (kiri) di Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat , Jumat, 18 Januari 2019. Abu Bakar Baasyir akan dibebaskan dengan alasan kemanusiaan karena usia yang sudah tua dan dalam keadaan sakit serta memerlukan perawatan.*/ANTARA
KUASA hukum capres Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, Yusril Ihza Mahendra (kanan) mengunjungi narapidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir (kiri) di Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat , Jumat, 18 Januari 2019. Abu Bakar Baasyir akan dibebaskan dengan alasan kemanusiaan karena usia yang sudah tua dan dalam keadaan sakit serta memerlukan perawatan.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan efek Abu Bakar Ba'asyir tidak sekuat dulu, ketika masih menggerakkan orang lain dalam penggunaan dana untuk melakukan tindak pidana terorisme.

"Boleh jadi saya subjektif dalam memberikan penilaian. Namun, saya berpandangan bahwa beliau tentu berbeda dengan 5 atau 10 tahun yang lalu," kata Lukman usai mengisi diskusi di acara Indonesia Millennial Summit 2019 di Hotel Kempinski Grand Indonesia Jakarta, Sabtu, 19 Januari 2019, seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Ia melanjutkan, "Kondisinya sudah seperti itu. Saya berpikir saja, orang setua beliau apa, ya, masih punya potensi untuk menyebarkan ajaran-ajaran agama (radikal, red.) seperti itu."

Selain itu, Lukman juga mengaku yakin aparat keamanan dan penegak hukum telah memiliki instrumen khusus untuk mengawasi gerak gerik Ba'asyir ketika nanti sudah bebas.

"Aparat keamanan kita sudah jauh untuk memahami bagaimana dampak atau implikasi dari pembebasan itu. Mereka tentu memiliki instrumennya sendiri untuk bisa mengalkulasi seberapa besar dampaknya," katanya.

Kondisi usia dan kesehatan Ba'asyir yang makin lemah, menurut Lukman, menjadi salah satu pertimbangan untuk membebaskan terpidana kasus terorisme itu.

Waktunya memaafkan

Sebagai Menag, Lukman mengatakan bahwa sudah saatnya masyarakat memaafkan Ba'asyir atas segala kesalahan yang dia perbuat pada masa lalu.

"Sebagai Menteri Agama, saya bertitik tolak dari pemahaman agama yang mengajarkan untuk lebih mengedepankan maaf kepada siapa pun mereka yang pernah melakukan kesalahan atau kekhilafan, apalagi kepada orang yang sudah tua," ujarnya.

Kabar pembebasan Abu Bakar Ba'asyir muncul pertama kali dari penasihat hukum pasangan calon presiden/wakil presiden Joko Widodo/Ma'ruf Amin, Yusril Ihza Mahendra.

Dalam unggahan di akun Instagram @yusrilihzamhd, Yusril mengatakan Presiden berpendapat bahwa Ba'asyir harus dibebaskan karena pertimbangan kemanusiaan. Namun, kata Yusril, Ba'asyir enggan menandatangani surat pernyataan untuk setia kepada Pancasila apabila dibebaskan.

"Syarat untuk bebas bersyarat itu, antara lain, setia pada Pancasila, Ustaz Abu katakan 'saya tidak mau teken, lebih baik saya tetap saja dalam penjara sampai berakhir'. Inilah materi masalahnya," kata Yusril saat konferensi pers di Jakarta, Sabtu, 19 Januari 2019.

Terkait dengan hal itu, Yusril pun telah melaporkan kepada Presiden Joko Widodo. Menurut dia, telah dicapai kesepakatan untuk mengganti syarat "setia kepada Pancasila" itu menjadi "taat kepada Islam" saja.

"Bagaimana kalau kita lunakkan syaratnya? Pak Abu sudah bilang kalau memang harus taat pada Pancasila, Pancasila itu sejalan dengan Islam kenapa tidak taat pada Islam saja? Ya, sudah dia taat pada Islam, Pak Jokowi bilang 'ya sudah lanjutkan saja, saya akan ambil keputusan segera'," ujar Yusril.***

Bagikan: