Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 27.5 ° C

Mantan Petinggi Lippo Group Eddy Sindoro Beri Kesaksian Selama Jadi Buronan

Yusuf Wijanarko
EDDY Sindoro.*/ANTARA
EDDY Sindoro.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Mantan petinggi Lippo Group Eddy Sindoro mengaku tidak berkomunikasi sama sekali dengan keluarganya selama dua tahun pelariannya di luar negeri.

"Seingat saya, tidak berkomunikasi dengan anak dan istri, keluarga tidak ada yang ikut dan tidak ada yang berkunjung selama saya di luar negeri," kata Eddy Sindoro di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis 17 Januari 2019.

Eddy Sindoro menjadi saksi untuk pengacara Lucas yang didakwa membantu pelarian Eddy Sindoro selaku terdakwa kasus penyuapan yang di tangani KPK sejak 2016.

Eddy Sindoro, sejak ditetapkan sebagai tersangka pada 21 November 2016 oleh KPK, pergi ke luar negeri hingga akhirnya dideportasi pada 29 Agustus 2018 dari Malaysia karena menggunakan paspor palsu Republik Dominika.

"Saya di luar negeri melakukan pengobatan, sakitnya dalam bahasa sehari-hari (disebut) syaraf kejepit, saat itu sudah membaik tapi masih sakit," kata Eddy Sindoro.

Dalam Berita Acara Pemeriksaan, Eddy Sindoro, sepanjang September 2016 sampai Agustus 2018, dinyatakan bepergian ke berbagai negara seperti Singapura, Kamboja, Thailand, Malayasia, Hong Kong, Jepang, dan Myanmar.

"Semuanya untuk pengobatan, saya selalu berusaha cari solusi karena saya tidak dapat solusi kesehatan di tempat lain," kata dia seperti dilaporkan Antara.

Eddy Sindoro mengaku, selama di luar negeri, dia tidak dibantu oleh orang Indoensia tetapi oleh kawannya, Jimmy, yang merupakan warga negara Singapura.

"Ada rekan yang membantu, orang Singapura, namanya Jimmy, dia sehari-hari pedagang barang-barang antik," kata Eddy Sindoro.

Dalam dakwaan disebutkan bahwa Eddy Sindoro dibantu Chua Chwee Chye alias Jimmy alias Lie untuk membuat paspor palsu Republik Dominika bernomor RD4936460 atas nama Eddy Handoyo Sindoro.

"Yang membuat paspor Dominika itu Jimmy, tapi saya tidak tahu di mana dia membuatnya," ujarnya.

Sebagaimana disebut dalam dakwaan, Lucas mengatur agar saat Eddy Sindoro mendarat di Bandara Soekarno-Hatta langsung dapat melanjutkan penerbangan ke luar negeri tanpa melalui proses pemeriksaan keimigrasian.

Lucas menghubungi sekretaris Komisaris AirAsia Dina Soraya untuk mengatur hal tersebut. Dina Soraya lalu menghubungi ground staff AirAsia Dwi Hendro Wibowo alias Bowo.

Bowo dan Duty Executive PT Indonesia Air Asia Yulia Shintawati lalu menjemput Eddy Sindoro, Jimmy, dan Michael di depan pesawat menggunakan mobil AirAsia langsung menuju Gate U8 Terminal 3 tanpa melalui pemeriksaan keimigrasian serta boarding pass yang sudah disiapkan. Eddy Sindoro dan Jimmy pun dapat langsung terbang ke Bangkok tanpa diketahui.

Bantah bantuan Lucas

Eddy Sindoro membantah Lucas yang berprofesi sebagai advokat membantu pelariannya sejak ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada 2016.

"Saya tidak pernah kontak-kontakan dengan Pak Lucas selama di luar negeri," kata Eddy Sindoro di pengadilan.

Dalam dakwaan disebutkan bahwa saat akan meninggalkan Malaysia dari Bandara Internasional Kuala Lumpur, petugas keimigrasian menangkap Eddy Sindoro bersama rekannya, Chua Chwee Chye alias Jimmy alias Lie karena menggunakan paspor palsu.

Eddy Sindoro dijatuhi hukuman denda sebesar 3000 ringgit Malaysia pada 16 Agustus 2018 atau pidana penjara 3 bulan, Eddy Sindoro lalu membayar denda dan dikeluarkan dari Malaysia karena dia adalah warga negara Indonesia.

Lucas mengetahui Eddy Sindoro harus kembali ke Indonesia dari putra Eddy Sindoro, Michael Sindoro.

Jaksa Penuntut Umum KPK memutarkan rekaman pembicaraan menggunakan Facetime yang diduga merupakan percakapan antara Lucas dengan Eddy Sindoro.

Percakapan yang membicarakan berbagai hal mulai dari pengurusan paspor, visa, praperadilan, DPO (Daftar Pencarian Orang), Gaby (anak Eddy Sindoro), hingga James Riyadi tersebut dibantah Eddy Sindoro.

"Saya di Kamboja sekarang, kalau toh paspor dicabut, apakah visa saya juga hilang," kata orang yang diduga Eddy Sindoro.

"Visa untuk tinggal kita di suatu negara, visa izin masuk dan tinggal. Kalau paspor itu dokumen traveling, dokumen apa negara apa, dikeluarkan di kantor Imigrasi di Indonesia, untuk perjalanan," balas orang yang diduga Lucas.

"Itu suara siapa?" tanya jaksa penuntut umum KPK Abdul Basir.

"Tidak ingat," kata Eddy Sindoro menjawab.

"Lucas memanggil saudara apa?" tanya jaksa Basir.

"Ed atau Pak Eddy," kata Eddy Sindoro.

"Sama tidak pembicaraan seperti itu? Ada 'Pak Eddy', 'Pak Eddy', sama toh?" tanya jaksa.

"Itu bukan suara saya dan saya tidak tahu soal itu," ujar Eddy Sindoro.

"Tapi Bapak punya paspor yang dikeluarkan oleh KBRI Yangon?" tanya jaksa.

"Betul, kalau tidak salah dikeluarkgan 2016 atau 2017," ujar Eddy Sindoro.***

Bagikan: