Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Berawan, 22.1 ° C

Debat Capres Edisi Pertama Dinilai Gagal Penuhi Ekspektasi Pemilih

Dewiyatini
CAPRES nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) berjalan bersama Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto sebelum mengikuti Debat Pertama Capres dan Cawapres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis 17 Januari 2019. Debat tersebut mengangkat tema Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.* ANTARA
CAPRES nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) berjalan bersama Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto sebelum mengikuti Debat Pertama Capres dan Cawapres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis 17 Januari 2019. Debat tersebut mengangkat tema Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.* ANTARA

BANDUNG,(PR).- Debat pertama calon presiden dinilai gagal membeberkan gagasan yang orisinal dari tiap pasangan calon. Para calon hanya mengikuti pola yang disiapkan oleh timnya.

“Padahal kisi-kisi sudah diberikan kepada keduanya. Tapi gagasan-gagasan yang ditunggu para pemilih tidak keluar,” ucap Pengamat Politik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Idrus Affandi.

Idrus mencontohkan kurang pahamnya para calon ketika berbicara persoalan hak asasi manusia. Yang dibahas hanya yang berkaitan dengan hak mendapat pekerjaan. Padahal menurut Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), HAM itu terdiri dari hak hidup, hak beragama, hak berpendapat, dan hak mendapat pekerjaan.

“Saya mulai khawatir ketika calon presiden kita tidak memahami tentang HAM. Semua hanya berkutat dalam pelanggaran HAM di pekerjaan,” ujar Idrus.

Segi paparan visi misi, Idrus mengatakan tidak ada perbedaan dalam visi misi kedua pasangan calon. Keduanya masih memaparkan tentang hal-hal yang normatif.

“Tidak ada yang tersirat tentang mentalitas manusia. Soal penegakan hukum, yang muncul adalah sifat-sifat materialistis. Tidak ada yang menyentuh kualitas manusianya,” ucap Idrus.

Padahal berjalannya visi dan misi itu, kata Idrus, bergantung pada manusianya. Kedua pasangan calon tidak membahasnya. “Seolah-olah orang Indonesia itu bersifat materialistis semua,” ujar Idrus.

Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Firman Manan mengatakan hal serupa. Menurut Firman, yang diharapkan oleh pemilih adalah agenda kebijakan yang konkret dari visi misinya. Dalam paparan masing-masing calon, kata Firman, malah jadi ajang curhat. Sementara isunya sendiri tidak dibahas.

“Adanya pemberitahuan kisi-kisi itu akan memberikan ekspektasi yang tinggi dari pemilih. Namun nyatanya ekspektasi itu tidak terpenuhi. Saya tidak melihat adanya persiapan yang baik,” ucapnya.

Firman menyebutkan yang terpenting dalam debat adalah adanya diferensiasi karena pemilih akan membandingkan gagasan kedua pasangan calon. Firman mengatakan petahana seharusnya mampu menjelaskan keberlanjutan dari program pemerintah sebelumnya.

“Di sisi lain, penantang juga seharusnya menawarkan agenda perubahan dengan gagasan yang komprehensif,” kata Firman.

Dari sisi terorisme, Firman mengaku kecewa dengan paparan pasangan calon nomor 02, Prabowo Subianto. Menurut Firman, seharusnya Prabowo sangat fasih membicarakan hal itu dengan melihat latar belakangnya. Yang terjadi, kata Firman, jawaban Prabowo mengarah pada politik identitas dan ketidakadilan.

“Saya membayangkan paparan Prabowo akan sangat fasih. Malah berbeda dengan Ma’ruf yang cukup komprehensif dalam menjawabnya,” ucapnya.***

Bagikan: