Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Umumnya berawan, 27.5 ° C

Debat Pilpres 2019 Belum Ideal, Tidak Berdampak pada Elektoral

Erwin Kustiman
PASANGAN capres/cawapres Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno berfoto bersama Ketua KPU Arief Budiman sebelum debat dimulai, Kamis 17 Januari 2019.*
PASANGAN capres/cawapres Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno berfoto bersama Ketua KPU Arief Budiman sebelum debat dimulai, Kamis 17 Januari 2019.*

BANDUNG, (PR).- Debat pertama Capres dan Cawapres RI Pemilu 2019 yang berlangsung di Hotel Bidakara Jakarta, Kamis 17 Januari 2019 malam, dinilai belum berjalan secara ideal. Jika debat selanjutnya terus berjalan seperti ini, dampak elektoralnya diprediksi tidak akan sebesar yang diduga.

Demikian catatan yang disampaikan Guru Besar Komunikasi Politik dari Universitas Pendidikan Indonesia yang juga kolumnis tetap pikiran rakyat online Karim Suryadi terkait debat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat. Catatan disampaikan Karim Suryadi, Kamis 17 Januari 2019 malam, seusai debat yang disiarkan langsung beberapa stasiun televisi dan streaming beberapa portal berita. Karim menjadi narasumber bersama dosen filsafat Rocky Gerung dan politisi Nusron Wahid di salah satu stasiun televisi swasta.

Menurut Karim,  secara ideal debat diakui sebagai komunikasi yang unggul karena memungkinkan pemilih membandingkan kepribadian, posisi kandidat atas masalah kebangsaan, hingga ruang bagi publik untuk belajar tentang kandidat dengan imtervensi jurnalis paling mimimal. “Sayangnya idealita tersebut tidak berjalan,” ungkap Karim Suryadi.

Ia menegaskan, diferensiasi antarkandidat tidak muncul. Kalau pun tergambar perbedaan sebatas posisi petahana dan oposisi secara umum. Belum tergambar peta jalan yang ditawarkan keduanya. “Jika debat terus berlangsumg seperti ini, dampak elektoralnya tak akan sebesar yang kita duga,” katanya menegaskan.

Lebih jauh dikatakan, dua pasangan kandidat yang sedang berdebat adalah calon presiden dan wapres yang akan memimpin 250 juta lebih rakyat Indonesia. Akan tetapi apa yang terdedah tidak mencerminkan itu. “Seharusnya yang dibutuhkan seorang presiden adalah gagasan strategis bukan soal detil yang bersifat kasuistis,” ujarnya.

Namun demikian, ia menambahkan,  debat hari ini telah memberi gambaran bagaimana kedua pasangan mengelola emosi dan merumuskan persoalan. “Prabowo sering mengungkap kasus menarik tapi terlalu mudah dipatahkan Jokowi. Sebaliknya, Jokowi pun kesulitan mengonsptualisasi dari apa yang sudah dilakukan,” kata Karim Suryadi.***

Bagikan: