Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Hujan, 24.2 ° C

Narapidana di Lapas Sukamiskin Ternyata Bisa Keluar-Masuk Seenaknya

Yedi Supriadi
MANTAN Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Sukamiskin, Wahid Husein menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Klas 1A, Bandung Jawa Barat, Rabu, 5 Desember 2018..* ANTARA
MANTAN Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Sukamiskin, Wahid Husein menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Klas 1A, Bandung Jawa Barat, Rabu, 5 Desember 2018..* ANTARA

BANDUNG, (PR).- Narapidana Lapas Sukamiskin ternyata bisa seenaknya keluar masuk penjara. Bahkan ada yang keluar Lapas Sukamiskin hari Kamis, pulang lagi hari Senin. Itu dilakulan berkali-kali dan diketahui oleh Kalapas Sukamiskin.

Demikian terungkap dalam sidang kasus suap terkait pemberian fasilitas di Lapas Sukamiskin. Sidang digelar di ruang VI Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LL RE Martadinata, Kota Bandung, Rabu 16 Januari 2019. 

Dalam sidang tersebut, dihadirkan lima orang saksi di antaranya Ade Agus, Sukma Setiabudi, Ahmad Hidayat, Zaenal Arifin dan Zulhakim. Pemeriksaan terhadap saksi berkenaan seputar tugas mereka dalam melayani napi lapas, termasuk soal proses pengawalan napi saat berobat ke rumah sakit.

Saat pemeriksaan saksi, hakim anggota Marsidin menanyakan kepada saksi Zaenal Arifin yang saat itu menjabat sebagai kepala seksi pengawalan. "Apakah anda mengetahui kalau ada beberapa warga binaan (narapidana) yang keluar Lapas berhari hari?" ujar hakim Marsidin.

Zaenal pun tidak langsung menjawab. Hakim Marsidin pun akhirnya menyebut nama Fahmi Darmawansyah. Dalam BAP diketahui bahwa Fahmi keluar Lapas Sukamiskin pada Kamis kemudian baru pulang lagi pada hari Senin.

"Apakah anda mengetahui?" katanya. Zaenal pun akhirnya mengakui adanya warga binaan yang melakukan izin berobat. Izin tersebut ditandatangani Kalapas Sukamiskin. 

Zaenal menerangkan bahwa pihaknya mengantar ke Rumah Sakit Hermina. Kemudian dari situ naik kendaraan pribadi. 

Menurut Hakim Marsidin seharusnya warga binaan tersebut tidak dibiarkan tanpa pengawalan. Kalau demikian realitanya, berarti warga binaan itu sama dengan melarikan diri.

Seperti Fahmi Darmawansyah yang keluar hari Kamis baru pulang lagi hari Senin. Berarti selama rentang waktu itu mereka melarikan diri, padahal praktik itu diketahui mulai Kalapas hingga bawahannya.

Kemudian saksi lainnya, staf perawatan di Lapas, Sukma Setiabudi mengaku pernah mengantar sejumlah napi keluar Lapas untuk keperluan berobat ke rumah sakit. Salah satu napi yang dikawal adalah Fuad Amin, mantan Bupati Bangkalan yang tersandung kasus korupsi.

"Saya pernah mengantar pak Fuad Amin di bulan April (2018) ke rumah sakit Dustira Cimahi. Tapi setelah mengantar saya langsung pulang. Pada waktu itu beliau langsung dirawat. Kalau untuk penjemputan tidak sama saya tapi sama Fiki. Saya juga tidak tahu kapan pulangnya," jelas Sukma dihadapan majelis hakim yang dipimpin Dariyanto.

Saat ditanya hakim apakah diberi imbalan saat mengantar Fuad Amin, Sukma mengiyakan. "Dikasih uang," ujarnya.

Meski begitu, Sukma tidak menyebut nominal uang yang diterimanya. Selain Fuad Amin, Sukma juga mengaku pernah mengantarkan napi lainnya keluar Lapas dengan alasan sakit. Di antaranya Yudi Kartolo dan OC Kaligis. "Masih ada yang lainnya, tapi saya lupa. Yang jelas daftarnya sudah saya serahkan ke KPK," tambah Sukma.

Saksi lainnya, Zulhakim, menyatakan hal yang sama. Ia mengaku pernah mengantar sejumlah napi Tipikor, salah satunya Fuad Amin. Untuk Fuad Amin, ia pernah ditugaskan mengantarnya ke sebuah rumah sakit di Bekasi.

"Tapi sebelum ke Bekasi, saat sampai di Jalan Pasteur, pak Fuad Amin sudah kambuh sakitnya. Karena takut terjadi apa-apa, saya ngambil inisiatif dan membawanya ke rumah sakit Borromeus. Setelah itu saya melapor ke bagian perawatan," ungkap Zulhakim.

Seingatnya, di rumah sakit itu Fuad Amin dirawat sekitar tiga hari. Namun ia tidak lagi diberi tugas untuk melakukan pengawalan. "Kalau pulangnya bukan saya yang ngawal, ada petugas lain," ujar Zulhakim yang juga mengaku pernah mengantar napi tipikor lainnya bernama Samuel dan Soleh.

"Apakah saat itu dikasih uang oleh Fuad Amin?" tanya hakim Daryanto. Atas pertanyaan itu, Zulhakim menjawab tidak.

Seperti diketahui, dalam perkara ini Wahid Husein didakwa menerima gratifikasi dari sejumlah napi Lapas Sukamiskin. Selain Wahid, kasus ini menyeret sopir pribadinya Hendri Saputra, Fahmi Darmawansyah dan Andri Rahmat. 

Berdasarkan dakwaan, Wahid diduga menerima satu unit mobil double cabin Mitsubishi Triton, sepasang sepatu boot, sepasang sandal merek Kenzo, tas merek Louis Vuitton dan uang Rp 39,5 juta serta uang tunai lainnya.****

Bagikan: