Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Sebagian cerah, 19.4 ° C

Penderita HIV/AIDS Terancam Tak Bisa Konsumsi Obat ARV

Fani Ferdiansyah
PETUGAS memeriksa sampel darah saat pemeriksaan HIV/AIDS gratis dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia di Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (1/12/2018). Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui sejak dini penyebaran HIV/AIDS pada masyarakat.*/ANTARA
PETUGAS memeriksa sampel darah saat pemeriksaan HIV/AIDS gratis dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia di Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (1/12/2018). Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui sejak dini penyebaran HIV/AIDS pada masyarakat.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Penderita HIV AIDS di Indonesia terancam tidak bisa mendapatkan obat Antiretroviral Fixed Dose Combination jenis Tenofovir, Lamivudin, Efavirens (ARV FDC TLE) untuk terapi pengobatan. Melansir Antara Jumat 11 Januari 2019, terancamnya penderita mendapatkan obat antiretroviral ini disebabkan karena program pengadaan obat tersebut pada tahun 2018 gagal terlaksana.

"Proses pengadaan obat ARV Fixed Dose Combination jenis TLE ini di tahun 2018 dinyatakan gagal. Alokasi dana APBN tidak bisa tersalurkan untuk membeli obat tersebut," kata Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC) Aditya Wardhana dalam konferensi pers, di Jakarta, Kamis 10 Januari 2019.

Proses penunjukkan langsung dengan dua kali negosiasi harga, gagal karena PT Kimia Farma tidak setuju dengan harga yang ditawarkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan.

Kemudian dilakukan proses lelang terbatas dengan peserta lelang PT Kimia Farma dan PT Indofarma Global Medika, namun proses ini juga tidak menghasilkan pemenang. Kondisi ini menyebabkan terjadinya kekosongan persediaan obat ARV TLE di berbagai tempat.

Maret habis

Selanjutnya Kemenkes melakukan pengadaan darurat dengan menggunakan dana bantuan donor Global Fund dan membeli obat ARV TLE langsung di India.

"Obat sudah sampai di Jakarta awal Desember 2018 sejumlah 220 ribu botol dan hanya cukup sampai bulan Maret 2019," ujar Aditya.

Setelah stok obat ARV TLE diperkirakan habis pada Maret 2019, proses pengadaan selanjutnya masih belum dapat dipastikan. Saat ini mayoritas ODHA di Indonesia menggunakan obat ARV TLE sebagai terapi pengobatan.

Peserta mengikuti parade budaya dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia di Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (1/12/2018). Dalam parade tersebut para peserta mengkampanyekan bahaya Penyakit HIV/AIDS.*/ANTARA

Aditya memperkirakan, ada sekitar 631.635 orang HIV dan AIDS pada tahun 2018. Meski tidak menyembuhkan, obat ARV TLE ini mampu menekan jumlah virus HIV di dalam tubuh pengidapnya.

"Sehingga ODHA bisa tetap sehat dan berpeluang hidup lebih lama," katanya.

Namun bila ODHA tidak mengkonsumsi obat ini setiap hari secara rutin, maka akan menimbulkan resistensi virus terhadap obat tersebut. "Kalau tidak diminum setiap hari, risikonya terjadi resistensi terhadap obat," ucapnya.

Pemborosan uang negara

Aditya pun meminta pemerintah untuk mendorong dua BUMN, yakni Kimia Farma dan Indofarma Global Medika, agar kembali mengikuti lelang dan mau menurunkan harga jual obat penderita HIV/AIDS ini. Menurutnya, kedua BUMN itu mendapatkan keuntungan besar dari penjualan obat ARV TLE tersebut.

"Obat yang di pasaran Internasional bisa didapatkan dengan harga Rp 112 ribu, tetapi dijual dengan harga Rp 404 ribu oleh Kimia Farma kepada pemerintah," tuturnya.

Aditya mengatakan, tingginya keuntungan yang diperoleh Kimia Farma itu telah menyebabkan pemborosan uang negara sebesar kurang lebih Rp 210 milliar setiap tahunnya. "Jika harga bisa ditekan, maka potensi efisiensi ini bisa digunakan untuk menambah pasien ODHA sebanyak 150 ribu hingga 200 ribu orang yang mendapatkan akses obat ARV TLE ini," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga mendorong pabrikan lain untuk ikut terlibat dalam proses pengadaan obat ARV TLE ini. "Agar iklim kompetisi sehat dan tidak dimonopoli," kata Aditya.***

Bagikan: