Pikiran Rakyat
USD Jual 14.084,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 31.2 ° C

Kinerja Polri Harus Maksimal, Ungkap Motif Peneror Pimpinan KPK!

Tim Pikiran Rakyat
Teror.*/DOK. PR
Teror.*/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Indonesia Corruption Watch (ICW) mendesak Polri untuk mengusut tuntas dan menunjukkan kinerja maksimal atas banyaknya kasus teror yang menimpa KPK.

”ICW mengutuk keras tindakan teror yang diberikan kepada pimpinan (KPK). Kami ingin meminta kepada Kapolri agar mengusut tuntas. Ini juga jadi cobaan setelah (penyiram­an air keras) Novel Baswedan yang penanganannya berlarut-larut,” ujar peneliti ICW Kurnia Ramadhana.

Menurut dia, Polri perlu menunjukkan kinerja maksimal untuk mengungkap teror tersebut. Tak hanya menangkap pelaku teror, dalang intelektual di balik teror terhadap kedua pimpinan KPK perlu diungkap. Apalagi, hingga kini, kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan pada 11 April 2017 tak kunjung menemukan hasil dan terkesan berlarut-larut.

”Jangan sampai jadi kali kedua kepolisian menunjukkan kinerja yang belum maksimal. Harapan kami, dengan bukti dan kesaksian yang ada di tempat kejadian, kepolisian bisa mengusut tuntas. Tak hanya pelaku, tapi juga tokoh intelektual bisa diungkap,” tuturnya.

null

Curigai gerakan anti pemberantasan korupsi

Dia menyatakan, meski tak menyebabkan korban jiwa, teror terhadap pimpinan KPK bukan hanya teror biasa. Hal itu sekaligus teror terhadap KPK secara lembaga dan upaya pemberantasan korupsi. ICW meminta Polri benar-benar serius dan memberi perhatian serius terhadap kasus ini. Pihaknya khawatir, kasus serupa menimpa pegawai atau pim­pinan KPK yang lain. 

”Ini tidak bisa dianggap sebelah mata karena langsung pada tindakan yang tidak bertanggung jawab dan dengan kekerasan. Apalagi, KPK memang sedang giat-giatnya OTT (operasi tangkap tangan). Tapi, kami tidak mau masuk lebih jauh. Kepolisian punya tugas untuk menyelesaikan kasus ini,” ucapnya.

ICW meyakini, KPK tak akan gentar atas teror-teror yang masih dilakukan oleh pihak-pihak yang anti terhadap upaya pemberantasan korupsi. ”Ini teror pada gerakan antikorupsi, nyali KPK sedang diuji. KPK tidak akan gentar dengan nyali-nyali orang-orang seperti ini. Teror ini tak boleh lagi terjadi dan KPK memperketat sistem keamanan, baik kepada pe­nyi­dik maupun pegawai,” ujarnya.

Bom palsu

Berdasarkan hasil pemeriksaan di Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri, di­simpulkan bahwa tas hitam yang dicantelkan di pagar rumah Ketua KPK Agus Rahardjo pada Rabu 9 Januari 2019 tidak mengandung bahan peledak. Meskipun demikian, polisi menganggap tindakan menyimpan benda yang mencurigakan merupakan bagian dari teror. Hal itu diperkuat dengan benda-benda yang ada di dalam tas hitam tersebut, seperti sekring, pipa paralon, kabel, paku, dan serbuk putih.

”Setelah dilakukan pemeriksaan di Puslabfor, ternyata serbuk putih itu bukan material bahan peledak, melainkan senyawa semen putih. Dengan demikian, kami menganggap bahwa tas hitam itu berisi fake bomb (bom palsu),” kata Ke­pala Biro Penerangan Masya­rakat, Divisi Humas Mabes ­Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di Jakarta, Kamis 10 Januari 2019. 

null

Polisi juga telah memeriksa kamera pengawas (CCTV) di beberapa rumah tetangga Ke­tua KPK hingga rumah di sekitar kompleks rumah Agus untuk menelusuri orang yang meletakkan tas hitam tersebut. Sementara, kamera pengintai di rumah Agus tak dapat di­periksa karena rusak. 

Terkait dengan peristiwa tersebut, pihak kepolisian telah menyampaikan rencana untuk meminta keterangan kepada Agus Rahardjo. Menurut Dedi, Ketua KPK itu belum bisa meng­agendakan waktu peme­riksaan terhadap dirinya karena kesibukannya. ”Pada prinsipnya, Pak Agus bersedia memberikan keterangan kepada polisi, tinggal diatur waktu dan tempatnya,” tutur Dedi. 

Terkait dengan temuan dua bom molotov di rumah Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif, Kalibata, Jakarta Se­latan, pihak kepolisian telah memeriksa 12 saksi. Sepuluh saksi diperiksa di sekitar tempat kejadian perkara (TKP), sedangkan dua lainnya menjalani pemeriksaan di Mapolda Metro Jaya. 

Dari keterangan para saksi, tak satu pun dari mereka yang melihat langsung orang yang melemparkan bom molotov ke arah rumah Laode. Beberapa saksi mengaku hanya melihat percikan api saat bom molotov meledak dengan daya ledak rendah. ”Beberapa saksi menuturkan hanya mendengar adanya pecahan botol, sedang­kan yang lain melihat percikan api saat botol itu pecah,” ujar Dedi. ***

Bagikan: