Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Langit umumnya cerah, 15.5 ° C

Cuaca Ekstrem, Pendaki Diminta Berhati-hati

Satrio Widianto
BERKEMAH di alam bebas.*/SATRIO WIDIANTO/PR
BERKEMAH di alam bebas.*/SATRIO WIDIANTO/PR

JAKARTA, (PR).- Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengimbau para wisatawan minat khusus, terutama para pendaki, untuk berhati-hati dan lebih memperhatikan peraturan-peraturan yang dikeluarkan pengelola lokasi pendakian di Indonesia. Imbauan dikeluarkan terkait kondisi cuaca ekstrem yang melanda Indonesia di belakangan ini. 

Ketua Tim Tourism Crisis Center (TCC) Kemenpar Guntur Sakti mengatakan, curah hujan yang tinggi ditambah angin kencang membuat suhu di permukaan yang lebih tinggi menjadi lebih dingin, termasuk di atas gunung dan jalur pendakian. Kondisi tersebut pada umumnya mengakibatkan hipotermia, salah satu hal yang bisa dialami pendaki. 

"Berdasarkan laporan yang diterima Tim TCC (Tourism Crisis Center) Kemenpar, beberapa wisatawan minat khusus mengalami hipotermia di beberapa gunung yang menjadi favorit wisatawan mendaki, seperti di Gunung Semeru dan Gunung Slamet,"  ujar Guntur Sakti yang juga Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar di Jakarta, Kamis 10 Januari 2019.

Hipotermia merupakan kondisi tubuh dimana suhu tubuh menurun sampai di bawah 37 derajat celcius, yang menjadi suhu tubuh normal manusia. Selain hipotermia, jalur pendakian yang licin juga bisa menjadi salah satu tantangan saat melakukan pendakian di cuaca ekstrem.

"Tentunya kami mengimbau kepada para wisatawan minat khusus atau pendaki untuk berhati-hati dan lebih memperhatikan peraturan yang dikeluarkan pengelola sejumlah lokasi pendakian di Indonesia," ujar Guntur Sakti.

Menurut dia, memperhatikan secara penuh arahan pengelola menjadi hal utama yang harus dilakukan wisatawan minat khusus. Selain itu, wisatawan mesti melakukan persiapan yang baik dan matang atas segala kebutuhan yang diperlukan untuk melakukan pendakian, mulai dari logistik, peralatan dan perlengkapan mendaki.

“Juga perhatikan karakter jalur dan trek jalur pendakian yang akan didaki," ucapnya.

Dipantau

Namun Guntur memastikan jika hingga saat ini tidak ada wisatawan minat khusus yang mengalami kendala serius. Kemenpar melalui Tim TCC Kemenpar juga akan terus melakukan memonitor lokasi-lokasi pendakian yang jadi favorit wisatawan. 

"Tentunya kami juga terus berkoordinasi dengan kementerian/lembaga dan pihak-pihak terkait lainnya untuk sama-sama memantau perkembangan jalur pendakian di Indonesia. Karena seperti yang kita ketahui bersama, Indonesia memiliki daya tarik wisata alam yang sangat tinggi. Keindahan puncak gunung serta landscape yang ada di bawahnya selalu menarik wisatawan baik nusantara ataupun mancanegara untuk berkunjung," ujarnya.

Menurut Guntur, berwisata saat ini identik dengan kebutuhan, untuk diakui dan menyenangi berwisata yang terkadang ekstrem dan berbeda. Meskipun begitu, para wisatawan harus tetap memenuhi aspek-aspek baik keamanan, fisik dan keselamatan.

Sejumlah Balai Taman Nasional yang mengelola jalur pendakian di Indonesia juga sudah mengeluarkan edaran mulai dari waspada cuaca ekstrem ataupun penutupan terkait pemulihan ekosistem dengan tenggat waktu yang berbeda. "Diharapkan wisatawan atau pendaki untuk mematuhi peratuan tersebut,” lanjutnya.

Saat ini tercatat, lima gunung ditutup untuk aktivitas pendakian. Jalur Pendakian Gunung Merbabu, Jawa Tengah, ditutup mulai Minggu 30 Desember 2018, hingga waktu yang belum ditentukan. Jalur pendakian Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat yang ditutup selama tiga bulan, mulai 1 januari 2019 sampai 31 maret 2019.

Jalur pendakian Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat, ditutup mulai Selasa 1 Januari 2019 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Jalur pendakian Gunung Prau, Jawa Tengah, akan ditutup selama tiga bulan, mulai dari 6 Januari hingga 5 April 2019.

Sedangkan Gunung Semeru di Jawa Timur ditutup secara total mulai 3 Januari 2019 sampai dengan pemberitahuan selanjutnya.***

 

Bagikan: