Pikiran Rakyat
USD Jual 14.318,00 Beli 14.018,00 | Berawan, 25.4 ° C

Skandal Lapas Sukamiskin, Dirjen Pas Kemenkumham Menangis Dicecar Hakim

Yedi Supriadi
Ilustrasi.*/DOK PR
Ilustrasi.*/DOK PR

BANDUNG, (PR).- Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenkum HAM RI, Sri Puguh Budi Utami menjadi saksi kasus suap korupsi Mantan Kalapas Sukamiskin Wahid Husen di Pengadilan Tipikor Bandung, Rabu 9 Januari 2019. Dihadirkannya Sri di Pengadilan oleh Jaksa KPK lantaran menerima pemberian gratifikasi berupa tas dari terpidana Fahmi Darmawansyah.

Dalam kesaksiannya, Sri Puguh mengaku baru mengetahui ada barang gratifikasi berupa tas Luis Vuitton tersebut dari ajudan dan sopir Wahid Husen, Hendry Saputra usai diperiksa KPK. Tas itu berasal dari Fahmi Darmawansyah, terpidana kasus suap pejabat Bakamla.

"Saat dipanggil KPK, saya baru tahu kalau ada titipan dari sopir pak Wahid Husen berupa tas, tas dititip ke sopir saya, Mulyana yang sudah bekerja sebagai sopir sejak 2010, statusnya sebagai out sourcing," ujar Sri.

Sri Puguh datang ke persidangan setelah sebelumnya sempat datang terlambat. Ia datang saat sopirnya memberi kesaksian. Sri Puguh mengenakan kerudung merah tua dan kemeja coklat. Sri Puguh mengaku menjabat Dirjen Pas sejak Mei 2018.

Berdasarkan kesaksian Mulyana yang juga sebagai saksi dalam kasus tersebut, tas itu diterima pada 19 Juni 2018 meski Mulyana mengakui ia diwanti-wanti Sri Puguh untuk tidak menerima barang dan uang apapun. "Sampai saya diperiksa sebagai saksi, Mulyana tidak melaporkan ke saya soal titipan itu. Jadi saya baru tahu setelah ada pemeriksaan sebagai saksi," ujar Sri.

‎Apalagi, kata dia, saat itu, ia sempat ditugaskan ke Thailand selama empat hari sehingga belum berkomunikasi dengan sopirnya. Sri Puguh mengaku pada tanggal tas itu diterima sopirnya, dia mengaku sedang rapat di kantornya bersama 24 kepala UPT dan kepala seksi. 

"Mulyana tak sempat cerita karena saat itu saya ke Thailand dan banyak aktivitas yang harus saya selesaikan‎. Dan pada 19 Juni saya bertemu Pak Wahid Husen," ujar dia. 

Ia membenarkan selama delapan tahun Mulyana bekerja dengannya, Sri Puguh melarang Mulyana menerima barang atau uang apapun. "Iya saya larang. Kalau dari saudara, keluarga, sahabat-sahabat saya boleh," ujar dia.

Hakim Daryanto juga menanyakan apakah ia pernah menerima titipan dari non keluarga. "Pernah, tapi itu dibawa ke kantor seperti titipan barang produk napi," kata Sri Puguh yang hanya mengenal terdakwa Wahid Husen dan Hendry Saputra. Sedangkan dua terdakwa lainnya, Fahmi Darmawansyah dan Andri Rahmat tak ia kenal.

Menangis

Sri Puguh saat menjadi saksi sempat dicecar pertanyaan seputar kewenangan dan pengawasan sebagai Dirjen Pas. Hakim ad hoc Marsidin Nawawi menanyakan soal adanya kesan pembiaran mengenai adanya fasilitas mewah di Lapas Sukamiskin.

“Apakah saksi mengetahui adanya fasilitas TV, AC, interior layaknya hotel, kamar bercinta dan saung saung? Sri Puguh mengaku mengetahui berdasarkan laporan saja dari bawahannya.

"Kenapa tidak ditindak saat itu juga, atau memang menunggu OTT KPK?" Ujar hakim Marsidin. Saksi Sri Puguh menyatakan memang saat itu akan dilakukan penertiban tapi malah keburu ada OTT KPK.

Hakim Marsidin pun menyayangkan karena keberadaan Lapas berfasilitas mewah itu sering diungkap media masa namun tidak ada tindak lanjut dari yang berwenang. “Sudah mengetahui tidak boleh tapi dibiarkan, setelah OTT KPK baru beres-beres,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu hakim Marsidin juga menanyakan soal adanya permintaan terpidana kasus e-KTP Setya Novanto yang meminta izin membuat gazebo. Karena berdasarkan berita acara pemeriksaan oleh penyidik KPK, permintaan gazebo tersebut telah disampaikan ke saksi Sri Puguh oleh Kalapas Sukamiskin saat itu.

“Dalam BAP disebutkan bahwa permintaan gazebo itu menurut saksi ditampung dulu sebagai alat bergaining Dirjen Pas dalam mengajukan anggaran ke DPR mengingat Setya Novanto masih banyak kawannya di DPR. Bagaimana pendapat saksi,” ujar Marsidin.

Saksi Sri Puguh mendapat pertanyaan itu tidak bisa berbuat banyak, namun dia mengaku meralat beberapa pernyataan dalam BAP tersebut.

Bahkan Sri Puguh menangis saat ditanya mengenai Mulyana yang tidak jujur dan tidak memberikan barang langsung kepada Sri Puguh. “Sebenarnya saya marah dan saya sempat memberhentikan Mulyana tapi saya ingat pesan suami saya agar tidak memberhentikan Mulyana karena kasihan keluarganya,” ujarnya.***

Bagikan: