Pikiran Rakyat
USD Jual 14.291,00 Beli 13.991,00 | Cerah berawan, 26.2 ° C

Survei Jelang Pileg 2019: Sejumlah Partai Lama Rawan Tersingkir dari Senayan

Muhammad Irfan
DOK PR
DOK PR

JAKARTA, (PR).- Ambang batas suara parlemen sebesar empat persen untuk lolos ke Senayan di Pemilihan Umum Legislatif 2019 diakui tak mudah bagi sejumlah partai politik. Tak hanya partai baru, partai lama yang pernah masuk Senayan pun terancam angkat kaki jika tak buru-buru mendongkrak suara di sisa waktu empat bulan ini. Hal tersebut tercermin dalam pemaparan hasil survei yang digelar oleh Lingkaran Survei Indonesia Denny JA di kantornya, Jakarta Timur, Selasa 8 Januari 2019.

Menggunakan metode multistage random sampling yang dilakukan rutin tiap bulan sejak Agustus sampai Desember 2018, survei ini memperlihatkan fluktuasi raihan suara dari 16 partai politik yang bertanding di Pemilu 2019. Survei yang melibatkan 1.200 responden dengan wawancara tatap muka menggunakan kuesioner ini pun memiliki margin error sebesar 2,9 persen.

Peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa mengatakan, mayoritas partai baru hanya meraih suara kurang dari satu persen. Dari empat partai baru yakni Perindo, PSI, Berkarya, dan Garuda, hanya Perindo yang mampu merangkak naik di survei rutin LSI. Partai yang dipimpin oleh Harry Tanoe ini bahkan pernah meraih 3,0 persen di Oktober 2018 meski terus turun di November 2018 (2,2 persen), dan Desember 2018 (1,9 persen).

"Sementara yang lain tak pernah lebih dari 0,9 persen. Kalau kita tambahkan dengan margin error, bisa jadi Perindo lolos, sementara yang lain masih agak sulit," kata Sopa.

Sopa mengatakan, banyak faktor yang membuat Perindo memimpin di kancah partai baru. Menurut dia, keterkenalan Harry Tanoe dengan jaringan medianya yang besar membuat Perindo lebih mudah diketahui oleh pemilih. Belum lagi sumber daya ekonomi yang besar mengingat Harry Tanoe adalah orang terkaya ke-19 di Indonesia menurut Majalah Forbes.

Sedangkan partai baru yang lain, terlepas dari positif atau negatif, berhasil tampil sebagai partai gagasan. Partai Berkarya misalnya konsisten mempromosikan gagasan keunggulan Orde Baru, sementara PSI mempromosikan kultur modern barat soal agama dan perempuan di ruang publik seperti penolakan terhadap Perda Syariat dan Poligami. "Walaupun diakui hal kontroversial seperti ini tak bertendensi positif terhadap pemilih," ucap dia.

Sementara partai lama yang raihan suaranya tak mencapai satu persen hingga Survei Desember 2018 adalah Hanura (0,6 persen), PKPI (0,1 persen), dan PBB (0,2 persen). Menurutnya, partai-partai tersebut tak terdengar kiprahnya selama masa kampanye ini. Hasil tersebut tentu menjadi penurunan bagi ketiganya karena di Pemilu sebelumnya, Hanura berhasil meraup 5,26 persen, PBB 1,46 persen, dan PKPI 0,91 persen.

Adapun partai menengah yang belum aman di antaranya Nasdem (2,8 persen), PAN (1,8 persen), PKS (3,3 persen), dan PPP (3,0 persen). Sama seperti raihan Hanura, PKPI, dan PBB, hasil ini juga menunjukkan penurunan bagi keempat partai tersebut jika dibanding dengan Pemilu 2014 lalu. Upaya lebih tentunya perlu dilakukan agar posisi mereka di Senayan tak terganggu.

"Kami lihat keempatnya masih punya Sumber Daya untuk mendongkrak suara partai. Nasdem misalnya punya jaringan media, sumber dana, termasuk pengenalan Surya Paloh sebagai ketua umumnya yang cukup tinggi, sedangkan PKS punya kekuatan relawan yang militan. Sementara PPP dan PAN memang perlu mencari pendongkrak baru," ucap dia.

PDIP Juara Bertahan?

Selain sejumlah partai yang dianggap harus lebih banyak berjuang untung memenuhi ambang batas parlemen, survei LSI Denny JA juga memperlihatkan kecendrungan PDIP sebagai juara di Pileg kali ini. Jika itu terjadi, partai pimpinan Megawati Soekarnoputri ini mengulang prestasinya sebagai pemenang mengingat di Pileg 2014 pun PDIP meraih suara terbanyak dengan 18,95 persen.

Sopa menyebut di survei LSI Denny JA, PDIP secara konsisten mampu bertahan dengan raihan suara di atas 24 persen dengan rincian Agustus 24,8 persen, September 25,6 persen, Oktober 28,5 persen, November 25,4 persen, dan Desember 27,7 persen. Selisih dengan runner up juga cukup jauh yakni 10 persen.

"Kalau ini terjadi ini sejarah. Belum ada partai yang mampu juara dua kali berturut-turut dalam Pemilu di era reformasi. Seperti kita ketahui pada Pemilu 1999, PDIP menang dengan 33,74 persen, tapi kemudian kalah dengan Golkar di Pemilu 2004. Golkar juga kalah oleh Demokrat pada Pemilu 2009, dan Demokrat kalah pada Pemilu 2014 oleh PDIP," ucap dia.

Sementara di bawah PDIP bertengger Gerindra dengan 12,9 persen dan Golkar dengan 10,0 persen. Selisih yang cukup tipis ini membuat posisi pemenang kedua pada Pileg 2019 masih bisa diperebutkan oleh keduanya. Meski demikian, jika dilihat dari konsistensi di survei, Sopa menyebut Gerindra lebih berpeluang.

"Kita lihat Gerindra selalu di atas 10 persen, sementara Golkar pernah turun pada Oktober (6,8 persen) dan November (9,7 persen). Dari sumber daya kami lihat Gerindra memang unggul karena punya calon presiden, yakni Prabowo Subianto sementara Golkar perlu mencari pendongkrak baru," ucap dia seraya menyebut kalau Gerindra berhasil meraih posisi kedua maka ini kali pertama Golkar tersingkir dari dua besar partai pemenang Pileg.

Sama seperti posisi kedua yang masih bisa diperebutkan, posisi keempat juga menjadi ajang persaingan -meski tidak ketat- antara PKB dan Demokrat. Dilihat dari survei, PKB mendapat suara yang cukup siginifikan sejak Agustus (6,7 persen), September (5,4 persen), Oktober (6,3 persen), November (6,2 persen), dan Desember (6,9 persen). Sementara Demokrat memulai survei Agustus dengan 5,2 persen dan harus cukup puas dengan hasil Desember yaitu 3,3 persen.

"Untuk hasil ini kami melihat PKB selain memiliki dukungan yang kuat dari NU, ada juga dampak dari Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Sementara Demokrat harus mencari pendongkrak baru," ucap dia.***

Bagikan: